Jumat, 28 Februari 2020

SEBAB SEJATINYA, TAK ADA ANAK BODOH MAUPUN NAKAL


Taare Zameen Par. Salah satu film india favorit saya. Pertama kali menontonnya, film yang merupakan debut aktor Aamir Khan sebagai sutradara sekaligus produser ini berhasil meninggalkan kesan yang begitu mendalam di hati saya. Pun ketika saya menontonnya lagi untuk yang kedua dan ketiga kali. Kesan yang mendalam itu masih sama terasa.

Bagi anda yang belum pernah menontonnya, izinkan saya membagi cerita film yang diproduksi tahun 2007 ini.

Ishan Awasthi (tokoh utama dalam film ini) adalah seorang anak laki-laki kelas 3 SD. Berbeda jauh dengan kakaknya, Yohan Awasthi, yang selalu menjadi juara kelas dan mendapat nilai-nilai sempurna hampir di semua mata pelajaran, nilai-nilai Ishan justru selalu buruk dan paling rendah di kelasnya.

Ishan memiliki kesulitan memahami instruksi yang diberikan secara beruntun. Ketika gurunya menyuruhnya membaca paragraf sekian di halaman sekian, Ishan kesulitan menemukannya. Setelah dibantu teman sebangkunya menemukan paragraf yang dimaksud, Ishan juga masih kesulitan membacanya. Baginya, huruf-huruf yang dilihatnya di buku itu seperti sedang menari-nari. Sehingga alih-alih mengejanya dengan benar, Ishan justru mengeluarkan bunyi-bunyi aneh dari mulutnya. Ini membuat semua teman di kelasnya tertawa hingga gurunya marah besar dan langsung menyuruhnya berdiri di luar kelas.

Tak hanya sekali itu saja Ishan membuat guru-gurunya kehabisan kesabaran. Suatu hari saat ulangan matematika, sepanjang jam pelajaran, ishan justru berimajinasi dengan angka-angka di soal ulangan, seolah-olah angka-angka itu adalah planet-planet di luar angkasa. Hingga tak terasa waktu habis dan lembar jawaban harus dikumpulkan, sementara ia baru menjawab satu soal saja. Itupun dengan jawaban yang salah.

Tak hanya di sekolah, di rumah pun ishan tak pernah berhenti menguji kesabaran ayah ibunya. Ishan dan keluarganya tinggal di rumah susun. Suatu ketika Ishan sedang duduk bersama anjing-anjing di halaman rumah susun. Lalu sebuah bola jatuh di dekatnya. Anak-anak yang sedang main bola itu meminta Ishan melemparnya kepada mereka. Ishan yakin lemparannya akan tepat sasaran, namun ternyata bola yang dilemparnya malah melenceng jauh. Anak-anak itu marah dan salah satu dari mereka mengatai Ishan “idiot”. Ishan memandang tajam ke arahnya. Anak itu lalu mendorong Ishan. Ishan balas mendorongnya. Mereka berdua pun berkelahi dan anak tadi membenturkan kepala Ishan ke tanah hingga berdarah. Ishan lalu menggigit lengan anak itu dan berlari pergi sambil menangis.

Rupanya anak tadi datang ke rumah Ishan bersama ibunya. Si ibu mengadu bahwa Ishan telah menyakiti dan merobek-robek baju putranya. Ia meminta pertanggungjawaban orang tua Ishan. Ayah dan ibu Ishan sangat malu. Ishan sendiri tak sanggup berkata-kata untuk membela dirinya, hingga sebuah tamparan dari ayahnya membuatnya jatuh. Ayahnya amat sangat marah lalu mengatainya nakal dan tidak tahu malu sebab setiap hari Ishan selalu saja membuat masalah.

Puncak kemarahan ayahnya terjadi ketika ia tak sengaja menemukan secarik kertas. Isinya permohonan izin bahwa Ishan tidak dapat mengikuti pelajaran matematika beberapa hari yang lalu karena demam. Ayahnya segera bertanya pada ibunya apakah betul Ishan kemarin demam. Sambil keheranan ibunya pun menjawab tidak. Dan tulisan di surat itu bukan tulisan ibunya. Maka ayahnya memanggil Ishan dan menanyainya. Dengan takut, Ishan mengaku bahwa saat itu ia keluar dari sekolah dan berjalan-jalan sendirian. Lalu ia meminta tolong kakaknya untuk membuatkan surat keterangan palsu untuk disampaikan pada gurunya bahwa ia tidak dapat mengikuti pelajaran karena demam. Padahal sesungguhnya, saat itu Ishan keluar sendiri dari sekolah dan berjalan-jalan sebab ia takut dimarahi dan dihukum lagi oleh gurunya karena belum mengerjakan tugas matematika. Sang ayah pun marah besar dan lagi-lagi mengatainya idiot.

Keesokan harinya ayah dan ibunya menghadap kepala sekolah untuk meminta maaf. Saat itu guru-gurunya sekaligus memberitahukan semua perilaku Ishan ketika di kelas beserta semua nilai-nilai buruknya. Dan di saat itu pula baru ketahuan bahwa Ishan tidak memberikan lembar hasil ulangan yang harus ditandatangani orang tua dan surat dari guru khusus untuk ibunya. Kepala sekolah akhirnya mengatakan bahwa dengan kondisi seperti itu sulit bagi Ishan untuk bisa naik kelas. Padahal saat itu sudah kedua kalinya ia tinggal di kelas 3. Menurutnya, Ishan mempunyai kelainan dan bisa disekolahkan ke sekolah yang mampu mendidik anak dengan kondisi seperti itu.

Ayah Ishan semakin kecewa. Maka keputusan sudah bulat. Ia akan memasukkan Ishan ke sekolah berasrama. Meski ibunya meminta agar Ishan dimasukkan ke sana tahun ajaran berikutnya saja sebab Ishan belum pernah jauh darinya, meski Ishan sudah meminta maaf berkali-kali, dan meski ia juga sudah memohon-mohon sampai menangis agar tidak dikirim ke sana, ayahnya tetap bergeming.

Akhirnya sampailah Ishan di sekolah asrama khusus laki-laki yang letaknya sangat jauh dari rumahnya. Guru yang menerima Ishan berkata pada ayahnya “Jangan khawatir pak. Kami sudah pernah berhasil menjinakkan yang paling nakal sekalipun”. Ishan sungguh sangat sedih harus berpisah dari keluarganya. Tatapannya kosong memandang mobil keluarganya pergi. Ia tak berselera makan dan tidak bisa tidur. Ketika teman-teman sekamarnya sudah terlelap, ia justru menangis seorang diri di kamar mandi.

Hari demi hari dimulai di sekolah baru. Namun kondisinya tetap tak berubah. Ishan tak mampu memahami semua pelajaran di situ. Ia berkali-kali melakukan kesalahan dan berkali-kali ia pula kena marah guru-gurunya. Mereka mengatai Ishan idiot, bodoh, pemalas, gila dll. Bahkan Ishan pernah dipukul kedua tangannya dengan penggaris karena tak mampu menemukan titik di papan tulis ketika pelajaran seni. Ishan menahan sakit dan tangsinya. Ishan benar-benar putus asa dan tak punya semangat lagi.

Hingga akhirnya Ishan bertemu dengan guru seni yang baru, Rham Shankar Nikumbh yang diperankan Aamir Khan. Sejak awal Rham merasa ada yang tidak beres dengan Ishan. Ketika Rham memulai pelajaran dengan bermain suling, menyanyi dan menari (khas film india) hingga semua murid di kelas ikut menyanyi dan menari dengan riang gembira, Ishan justru hanya diam saja. Ia bahkan tak menggambar apapun ketika Rham meminta murid-murid menggambar sesuatu sesuai imajinasi mereka masing-masing. Rham juga merasa bahwa Ishan selalu tampak ketakutan.

Ketika Rham menanyakan tentang Ishan kepada teman sebangkunya, kemudian mengecek semua tulisan Ishan di buku-bukunya, barulah Rham sadar bahwa Ishan menderita disleksia.

Rham kemudian datang ke rumah Ishan untuk bertemu dengan orang tuanya. Rham sangat terkejut mengetahui bahwa ternyata Ishan sangat suka melukis. Bahkan mata Rham sampai berkaca-kaca ketika melihat hasil lukisan Ishan di dinding kamarnya. Ishan bahkan bisa membuat prakarya yang rumit, lukisan bersambung dan flipbook (sebuah buku dengan gambar bergerak).

Dengan emosi yang tertahan, Rham lalu bertanya pada orang tua Ishan mengapa mereka memasukkan Ishan ke sana. Ayahnya menjawab bahwa mereka tak punya pilihan lain. Ishan lemah di semua mata pelajaran dan itu karena ia nakal, malas, pembangkang, dll.

Yang Anda sebutkan tadi adalah gejalanya, bukan penyebabnya. Mengapa Ishan lemah di semua mata pelajaran?” tanya Rham.

Ayah dan ibunya terdiam kebingungan, “Kenapa tidak Anda saja yang memberitahukan pada kami” ucap ayahnya.

Barulah Rham menjelaskan pada mereka bahwa Ishan mempunyai gangguan disleksia. Karena disleksianya itu, Ishan tak mampu membedakan huruf-huruf yang bentuknya mirip, sehingga ia tak mampu membentuk imaji atau simbol di benaknya tentang kata yang dimaksud. Padahal itu adalah syarat utama untuk bisa membaca dan menulis. Karena disleksia pula lah, Ishan tak mampu memahami instruksi yang diberikan secara beruntun. Ia juga tidak punya reflek yang baik sebab tidak mampu memperkirakan ukuran, jarak, dan kecepatan dengan cepat.

Coba Anda bayangkan, anak umur 8 tahu belum bisa baca tulis, belum bisa melakukan hal-hal yang mudah dilakukan oleh anak-anak lain seusianya, maka kepercayaan dirinya hancur. Ia pun menyembunyikan kekurangannya itu dengan menunjukkan kenakalan sebagai bentuk pemberontakan, karena dunia di sekitarnya telah mengalahkannya (dengan mengatainya idiot, nakal, selalu membuat masalah, dll)” ujar Rham.

Orang tuanya kembali terdiam, semua perasaan bercampur aduk. Namun kemudian ayahnya berkata “Lalu apa kelebihan Ishan?”

Kelebihan? Pak, coba Anda lihat semua hasil lukisan Ishan. Ini adalah hasil imajinasi dengan tingkat kecerdasan yang sangat tinggi. Saya dan Anda saja belum tentu bisa membuat seperti ini.”

Lalu bagaimana nanti ia akan bersaing di masa depan? Apa aku harus memberinya makan terus seumur hidupnya?!!”

Rham merasa kecewa denga tanggapan ayah Ishan. Akhirnya Rham memutuskan untuk turun tangan mengajari Ishan sendiri.

Hal pertama yang dilakukan Rham ialah mengambalikan kepercayaan diri Ishan yang nyaris mati. Ketika pelajaran seni, Rham menunjukkan pada Ishan flipbook buatan Ishan. Ishan terkejut. Rham lalu bercerita pada seisi kelas tentang orang-orang hebat yang hasil karyanya mengguncang dunia dan sangat bermanfaat bagi umat manusia, namun ketika kecil mereka sulit membaca dan menulis. Rham menyebut nama-nama besar seperti Albert Eintein, Leonardo Da Vinci, Agatha Christi, Walt Disney, Thomas Alfa Edison, hingga bintang bollywood yang digemari murid-murid.

Rham lalu meminta semua murid untuk menuju kolam di luar dan membuat sesuatu dari benda-benda yang ada di sana. Saat semua murid sudah keluar, Rham berkata pada Ishan bahwa ada satu nama lagi yang belum disebutnya. Ada satu orang lagi yang saat kecil juga sulit membaca dan menulis, meski sekarang karyanya tak sebesar nama-nama yang telah disebut tadi. Nama itu ialah Rham Shankar Nikumbh. Ishan sungguh terkejut mendengarnya. Mulailah kepercayaan dirinya tumbuh.

Ketika di kolam, ia mengeluarkan barang-barang kecil yang dulu pernah dikumpulkannya dan dengan ranting-ranting di dekat kolam ia membuat pesawat kecil yang bisa meluncur di kolam. Semua anak terkagum-kagum melihat pesawat buatan Ishan, begitu pula Rham. Namun Ishan masih sangat malu dan merasa rendah diri.

Hal berikutnya yang dilakukan Rham ialah mengajari Ishan membuat huruf melalui media-media yang disukai Ishan. Ishan belajar membuat huruf di atas pasir, belajar melukis huruf di kertas, dan belajar membuat huruf dari plastisin. Rham bahkan meminta Ishan menutup matanya, lalu ia membuat huruf di pergelangan tangan Ishan, dan meminta Ishan menebak huruf apa itu. Ishan juga belajar membuat angka yang simetris pada papan tulis yang diberi kotak-kotak kecil. Ishan juga belajar penjumlahan dan pengurangan dengan naik turun tangga. Anak-anak tangga sudah diberi angka oleh Rham, lalu ia menyebutkan soal, kemudian Ishan turun dan naik tangga sesuai soalnya, hingga ia bisa menjawab dengan benar hasilnya. Semua dilakukan Ishan dengan senang. Dan hasilnya mulai tampak. Ishan sudah bisa menulis, membaca, dan berhitung dengan benar.

Suatu hari Rham mendapat ide. Ia meminta ijin pada kepala sekolah untuk mengadakan lomba melukis yang diikuti oleh semua siswa, guru, termasuk kepala sekolah sendiri. Pemenangnya akan mendapatkan hadiah dan lukisannya akan dijadikan sampul depan buku tahunan berikutnya. Kepala sekolah setuju.

Maka di hari yang ditentukan, semua murid (termasuk ishan), semua guru (termasuk Rham), dan kepala sekolah berkumpul di lapangan teater untuk ikut lomba melukis. Rupanya dewan juri mengalami kesulitan menentukan pemenang sebab ada dua lukisan yang sama-sama bagusnya, yakni lukisan milik Ishan dan lukisan milik Rham (Rham sendiri melukis wajah Ishan). Namun karena pemenangnya hanya satu orang, maka juri sepakat bahwa lukisan Ishan lah yang menang. Semua yang ada di lapangan teater langsung berdiri, bersorak gembira dan bertepuk tangan untuk Ishan. Ishan sendiri sangat terkejut. Rham lalu memintanya maju untuk mendapat hadiah. Dengan malu-malu dan takut-takut Ishan maju dan menerima hadiah. Begitu menerimanya, Ishan langsung berlari dan memeluk Rham erat-erat sampai menangis. Dan seluruh orang pun ikut terharu (termasuk saya hiks...hiks...). Saat itulah kepercayaan diri Ishan yang sebelumnya padam bahkan hampir mati telah menyala dan bersinar kembali.

Pada saat pembagian rapot, orang tua Ishan sangat terkejut karena kepala sekolah memberi mereka buku tahunan dengan sampul lukisan wajah Ishan yang dibuat oleh Rham dan lukisan buatan Ishan sendiri. Mereka semakin terkejut saat menerima hasil pembelajaran Ishan dari guru-gurunya. Perkembangan Ishan cepat sekali dan nilai-nilainya pun bagus-bagus. Ayah dan ibu Ishan sampai terharu dan tidak tahu harus berkata apa untuk berterima kasih pada Rham.

Dua jempol untuk film ini. Tak heran bila film ini berhasil memborong banyak sekali penghargaan, sebab pesan yang disampaikannya sangatlah dalam.

Memang tokoh utama dalam film ini menyandang disleksia dan itu membuat orang-orang dewasa di sekitarnya mencapnya dengan label-label negatif. Namun bukankah kenyataanya di keseharian, kita kerap menjumpai orang dewasa yang mudah mengata-ngatai anak dengan label bodoh, nakal, pemalas, cengeng, pembangkang, bahkan tolol, idiot, goblok, dsb meski si anak tidak disleksia? Atau mungkin kita sendiri juga melakukannya pada anak-anak dan murid-murid kita?

Taukah kita apa yang akan terjadi pada anak jika kita sering memberinya label-label negatif? Ia akan menjadi seperti pohon dalam kisah pulau Solomon yang juga diceritakan Rham pada ayahnya Ishan. Ketika penduduk pulau itu ingin membangun tempat tinggal di hutan, mereka tidak menebangi pohonnya. Mereka hanya berkumpul di sekitar pohon lalu berteriak, mengutuk, dan mengumpati pohon tersebut. Maka dalam hitungan hari pohon itu layu dan mati dengan sendirinya.

Astaghfirullahaladzim....

Ketahuilah ayah bunda dan juga para guru bahwa semua anak terlahir istimewa. Mereka adalah sebaik-baik makhluk yang diciptakan oleh Sang Maha Pencipta. Dia pula lah yang telah menginstal fitrah-fitrah kebaikan dan potensi unggul dalam diri setiap anak agar kelak bisa menjadi pemimpin di bumi ini. Sehingga sejatinya tidak ada satupun anak yang bodoh maupun nakal.

Kalaupun ayah bunda dan para guru menemukan bahwa si anak lamban dalam memahami sesuatu, maka carilah penyebabnya! Lalu ajari ia sesuai dengan cara yang tepat baginya untuk mudah belajar. Sebab setiap anak juga unik. Mereka punya caranya sendiri-sendiri dalam memahami sesuatu.

Dan kalaupun ayah bunda dan para guru menemukan ada anak yang sulit untuk mematuhi sesuatu, tidak bisa diam, dan kerap kali membuat kesalahan maka lagi-lagi carilah penyebabnya! Dekati ia, lalu bertanyalah baik-baik padanya mengapa ia melakukan itu. Kalau memang yang dilakukannya adalah suatu kesalahan, ajarkan ia untuk mengucap maaf, lalu jelaskan padanya seperti apa perbuatan yang benar. Bila anak itu memang punya energi berlebih, berilah ia sarana untuk menyalurkan kelebihan energi itu secara positif.

Memang itu semua tidak mudah dan seringkali menjadi ujian kesabaran bagi kita. Tak jarang pula menguras energi dan emosi. Namun itu karena hadiah yang Alloh siapkan bagi kita adalah sebaik-baik hadiah, yakni surga. Bila mendidik dan mengasuh anak-anak itu mudah, semudah membalik telapak tangan, maka mungkin hadiahnya cukup payung atau piring cantik saja. Sehingga jangan pernah berhenti memohon agar Alloh selalu menolong, menuntun, dan menguatkan jiwa raga kita dalam mendidik dan mengasuh anak-anak. Hingga kelak suatu hari nanti mereka akan menjadi Taare Zameen Par alias bintang-bintang terang di langit.

Semoga bermanfaat.

Kamis, 09 Januari 2020

MEMBAGI KENANGAN KEPADA ANAK


Kata guru saya, oleh-olehnya penulis adalah tulisan. Maka sebagai seorang penulis, inilah oleh-oleh pulang kampung saya saat liburan sekolah kemarin. Khusus untuk ayah bunda semua. Semoga ada manfaatnya.

Untuk kedua kalinya, saya pulang ke kampung halaman saya di Malang hanya berdua saja dengan iin, anak semata wayang kami. Sayang ayahnya tak bisa ikut sebab tak bisa ambil cuti. Tapi tak apa. Perjalanan ini tetap saya nikmati.


Sejak awal saya bertekad bahwa dari perjalanan ini harus ada yang bisa saya berikan pada iin. Dan saya putuskan untuk memberikan kenangan padanya, kenangan saat saya masih kecil, tak jauh dari usianya sekarang.

Pagi itu langit Malang sedang cerah. Saya ajak iin berkeliling rumah orang tua saya, karena di sanalah saya lahir dan tumbuh. Saya ajak ia bersepeda ke TK dan SD tempat saya bersekolah dulu. Tentu saja TK dan SD nya tutup karena sedang libur. Jadi kami hanya berdiri dan melihat-lihat dari gerbang.

Dulu bunda TK di sini nak. Betul-betul masih sama seperti dulu, mainan-mainannya juga masih sama. Itu ruang gurunya. Itu kelasnya, cuma ada dua, satu untuk TK A dan satu lagi untuk TK B. Nah, kalau yang di sana itu tempat cuci tangan dan kamar mandi. Sebelum bunda dan teman-teman makan bekal, selalu cuci tangan sama-sama di situ.” ucap saya sambil menunjuk-nunjuk.

Wowww...bagus sekali TK nya bunda!” ucapnya, terpesona oleh mainan-mainan, lukisan-lukisan di dinding, dan hiasan-hiasan gantungnya, padahal TK nya sederhana dan kecil.


Setelah itu kami bergeser ke bangunan tepat di samping TK. Ada yang berubah, namun tak banyak.

Nah, kalau yang ini SD tempat bunda sekolah dulu. Dulu di sini ada tiga SD, sekarang dijadikan satu. Tapi kelas bunda nggak kelihatan dari sini. Itu lapangannya, tempat bunda upacara, olah raga, senam pagi, dan main pas jam istirahat. Main macem-macem, bentengan, gobaksodor, lari-lari, engklek, dan banyaaaak lagi.”


Saya jadi sangat bersyukur. Betapa riang gembiranya saya saat sekolah di situ dulu. Apalagi belum ada internet dan gawai seperti sekarang. Benar-benar menyenangkan. 

Belum puas sebetulnya mengenang masa TK dan SD saya, namun sinar matahari semakin silau. Saya ajak iin kembali ke rumah kakek neneknya sambil menyusuri jalan-jalan di dekat sekolah. Jalan-jalan yang saya lalui setiap berangkat dan pulang sekolah dulu. Saya tunjukkan padanya rumah beberapa teman TK dan SD saya. Sebagian tampak tak berpenghuni dan sebagian lagi sepertinya dihuni orang lain. Saya berhenti di depan sebuah rumah.

Ini rumah teman bunda waktu kelas enam SD. Namanya Devi. Murid pindahan, kalau nggak salah dari luar jawa. Teman bunda ini lah yang ngajarin bunda naik sepeda sampai benar-benar bisa. Tapi bunda nggak tau sekarang di mana tante Devi. Rumahnya kosong.”

Kok bunda baru belajar sepeda waktu SD?” tanya iin.

Hahahaha...iya...telat ya...habis nggak ada yang ngajarin bunda dan bunda juga nggak punya sepeda. Jadi belajarnya pakai sepedanya tante Devi itu. Nah kalau yang di sebelahnya itu rumah teman SD bunda juga. Namanya Alida. Bunda pernah main di situ sampai maghrib, terus dicariin sama nenek. Pulangnya dimarahin deh...

Sepeda kami melaju lagi. Sebelum masuk ke gang rumah orang tua saya, sepeda saya belokkan ke gang sebelahnya. Dari ujung gang tampak berdiri kokoh sebuah masjid dengan tamannya yang cantik.


Nah, ini masjid tempat bunda TPA dulu nak. Di sini dulu bunda diajari baca iqro sampai lancar baca Al Quran. Diajari nulis huruf hijaiyah juga, pakai buku kotak yang kotaknya besar-besar. Ustadz dan ustadzahnya super sabar. Mereka juga jago berkisah. Dulu setiap hari selasa bunda dan teman-teman selalu diceritain kisah nabi-nabi dan para sahabat. Dan setiap pulang dari TPA, bunda dan teman-teman selalu dikasih jajaaaaan

Wuiiii...enak banget...

Enak dong wehehehe....Dah yuk kita pulang ke rumah kakek nenek. Bunda sudah laperrrrrr....

Sungguh sebuah jalan-jalan pagi yang mendamaikan hati. Menapaki kembali masa lalu, meresapinya, mensyukurinya, dan membaginya pada anak saya. Apakah kelak iin akan mengingat pengalaman ini? Entahlah...semoga. Yang jelas saya sudah berbagi dan membangun kebiasaan yang kini mulai hilang antara orang tua dengan anak-anaknya, yakni BERKISAH.

Barangkali sehari-hari kita sebagai orang tua sudah disibukkan dengan rutinitas dan tugas-tugas. Pergi pagi pulang malam hari. Pagi serba tergesa-gesa, malam tubuh dan pikiran sudah lelah lalu menuntut haknya. Pekerjaan rumah pun serasa tak ada habis-habisnya. Sehingga percakapan yang ada antara kita dan anak kita didominasi perintah singkat satu arah.

Buruan bangun! Nanti terlambat

Cepat habisin sarapannya!”

Makan siang, sholat, terus tidur. Nanti sore les

Jangan nonton TV terus. Belajar sana. Kerjakan PR!

“Sana main! Ayah/bunda capek! Jangan diganggu!

Atau kalimat-kalimat panjang tak bertepi “Tuh kaaaan...ayah/bunda bilang apa...makanya lain kali kalau dikasih tau itu didengerin bla bla bla bla....

Kalimat-kalimat yang seiring berjalannya waktu justru menjauhkan kita dengan anak-anak. Mungkin secara fisik kita dekat, karena serumah. Namun hati kita dan hatinya berangsur menjauh. Hingga suatu hari kita tak lagi mengenal mereka. Mereka lebih suka berbicara dengan teman-temannya.

Na’udzubillahimindzalik...

Jadi ayah bunda yang baik, mari kita mulai perbaiki kalimat-kalimat kita pada anak-anak. Mari kita mulai memberikan kalimat-kalimat yang mendamaikan qolbu mereka, yang menyejukkan jiwa mereka, dan yang membekas positiv dalam hidup mereka. Seperti membagi kisah-kisah hidup kita pada mereka. Bismillaah....selamat berkisah ayah bunda dan selamat membagi kenangan-kenangan anda.


Jumat, 20 Desember 2019

JANGAN SAMPAI ANAK ANDA KURANG PIKNIK


Akhir-akhir ini kata “kurang piknik” acap kali digunakan. Misalnya ketika mengomentari seseorang yang sama sekali tidak tertawa saat ada lelucon yang sangat lucu, atau seseorang yang berkali-kali lupa melakukan sesuatu atau kelupaan membawa sesuatu, atau seseorang yang wajahnya nampak hampa karena berat beban hidupnya, atau seseorang yang seringkali marah-marah tanpa penyebab yang jelas. Biasanya muncullah kalimat “Nah, kurang piknik tuh...”. Atau kalau orang itu membalas “Enggak kok, saya sudah banyak piknik” maka kita akan menyahut lagi “Kalau gitu pikniknya kurang jauh...hehehehe...

Di era seperti sekarang ini, menurut hemat saya, piknik atau liburan atau jalan-jalan atau apapun istilahnya sudah bukan lagi merupakan kebutuhan sekunder. Ia menjelma menjadi kebutuhan primer yang jika tidak dipenuhi akan mempengaruhi keseimbangan jiwa raga kita, sama pentingnya dengan makan, baju, dan rumah. Yah, apa mau dikata, hampir setiap hari sebagian besar dari kita terjebak pada rutinitas yang tak kunjung berhenti, pada pekerjaan yang rasanya tak ada habisnya, pada kemacetan, pada polusi, pada kebisingan, dll. Sehingga raga ini perlu diistirahatkan, dan jiwa ini perlu disegarkan. Salah satu caranya? Ya dengan piknik.

Dan jangan salah ayah bunda yang baik, rupanya yang membutuhkan piknik ini tak hanya kita yang sudah dewasa. Anak-anak kita pun membutuhkannya pula, sebab bisa jadi mereka juga terjebak pada rutinitas sehari-hari, tugas-tugas sekolah, ujian, ulangan, kejenuhan, kelelahan, masalah dengan teman, dll seperti kita. Di samping itu, piknik bisa menjadi sarana untuk menambah kedekatkan antara kita dengan mereka. Pun piknik bisa juga menjadi salah satu cara untuk membayar hutang pengasuhan kita sebab mungkin selama ini mereka lebih banyak bersama dengan orang lain atau pengasuhnya. Dan last but not least, piknik juga bisa menjadi sarana pembelajaran banyak hal bagi mereka dengan cara yang menyenangkan.

Tapi bagaimana bila dana kita terbatas? Tak perlu khawatir ayah bunda yang baik. Pikinik tak berarti kita harus ke suatu tempat wisata yang jauh, ke luar kota, atau bahkan ke luar negeri. Bila bisa, tentu tak ada salahnya dan itu baik. Namun bila dana terbatas, kita bisa juga pergi ke tempat yang tak jauh dari rumah. Yang jelas, ke mana pun tujuan piknik ayah bunda dan anak-anak, pastikan beberapa hal berikut ini :

Pertama, niat. Bukankah segala perbuatan bersumber dari niat dan kita akan mendapatkan sesuai apa yang kita niatkan? Jadi LURUSKAN DAN MANTAPKAN NIAT kita, untuk apa kita piknik bersama anak-anak.

Kedua, ke manapun tujuan piknik kita, mau jauh atau yang dekat-dekat saja, CIPTAKANLAH KESAN DAN KENANGAN yang indah bagi mereka. Buatlah atmosfer dan suasana piknik yang mudah dan menyenangkan.

Ketiga, MINIMALKAN GADGET!!! Termasuk untuk berfoto-foto. Tentu saja berfoto boleh, tapi apalah artinya foto-foto tersebut bila tak ada kesan manis yang bisa dikenang suatu hari nanti. Gunakan saat-saat piknik untuk lebih banyak bermain dan ngobrol dengan mereka. Lebih banyaklah menatap, bertanya, dan mendengarkan cerita-cerita mereka. Boleh juga kita sambil bercerita kenangan-kenangan pikinik kita saat masih kecil dulu bersama kakek nenek mereka.

Keempat, ajak mereka MENCOBA HAL BARU yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya, sambil SISIPKAN ILMU BARU untuk mereka. Misalnya bila ayah bunda piknik ke kebun binatang, kenalkan binatang-binatang yang ada di situ pada mereka. Kalau perlu browsing dulu agar ayah bunda punya bekal untuk memberikan informasi tambahan. Dan temani mereka untuk naik binatang atau menyentuhnya bila memungkinkan.

Dengan demikian ayah bunda yang baik, jangan sampai kita maupun anak-anak kita kurang piknik dan kurang menikmati piknik. Selamat liburan. Selamat piknik bersama anak-anak. Semoga liburan dan pikniknya meninggalkan kesan dan kenangan yang indah, baik bagi ayah bunda maupun bagi anak-anak. Sebab pengasuhan itu sejatinya ialah menciptakan kebiasaan-kebiasaan dan membentuk kenangan.




Senin, 18 November 2019

BELAJAR PARENTING DARI TEJO DAN TOTO


Suatu hari saya dibuat ter-hahahihi sekaligus terinspirasi oleh pemaparan dari budayawan Sujiwo Tejo dalam talkshow ILC bertema “Apa dan siapa yang radikal?” terutama pernyataannya tentang pancasila. Pernyataannya itu ia tujukan untuk menanggapi pernyataan narasumber sebelumnya yakni Irfan Idris Direktur Deradikalisasi BNPT yang mengatakan “Boleh pakai cadar yang penting jangan anti pancasila” .

Sujiwo Tejo berkata “...Pertanyaan saya sekarang, pancasila itu ada nggak sih? Bagi saya nggak ada pak, jujur, yang ada gambar garuda pancasila ada, teks pancasila ada, tapi pancasila itu nggak ada. Siapa yang mau anti terhadap sesuatu yang nggak ada??? Kalau pancasila itu ada, air kita nggak beli, lapangan kerja gampang, perusahaan-perusahaan saldonya nol, karena nggak mengejar keuntungan. Harta tidak ditulis harta, tapi titipan Tuhan.... Itu baru pancasila....Jadi definisi radikal jangan yang anti pancasila pak, anti sesuatu yang ada gitu lho pak.... Pancasila nggak ada menurut saya. Kalau ada, masak iuran kesehatan masyarakat sampai kejet-kejet karena diancam nggak boleh memperpanjang SIM, nggak boleh memperpanjang paspor....”

Tak hanya dibuat tertawa karena gaya pemaparannya yang jenaka dan sungguh sangat benar adanya, tetapi saya juga jadi terinspirasi, sebab menurut hemat saya, tak banyak yang mampu berpikir kritis terhadap sesuatu dan berani mengutarakannya apalagi di depan banyak orang.

Mengapa demikian?

Sebab berpikir kritis dan berani menyuarakannya adalah keterampilan yang penting untuk dimiliki dalam hidup namun tak bisa ujug-ujug ada pada diri seseorang. Keduanya harus dipupuk dan ditempa sejak dini.

Caranya?

Nah ayah bunda yang baik, tentang caranya, izinkan saya berbagi salah satu bab dalam buku cerita terkenal asal negeri sakura yang terinspirasi dari kisah nyata berjudul Toto-chan karangan Tetsuko Kuroyanagi. Salah satu bab itu berjudul “Lalu... uh...”.

Toto-chan adalah seorang anak perempuan usia sekolah dasar kelas 1 yang bersekolah di Tomoe Gakuen, sebuah sekolah dengan sistem belajar mengajar yang sangat unik. Salah satu kebiasaan di sekolah itu ketika jam istirahat ialah semua murid akan berkumpul di aula, lalu duduk membentuk satu lingkaran besar, kemudian menyanyikan lagu “Yuk kunyah baik-baik semua makananmu” bersama-sama, setelah itu barulah mereka makan bekal mereka masing-masing.

Suatu hari ketika jam istirahat dan anak-anak sedang memakan bekal mereka, Mr. Kobayasi sang kepala sekolah berkata pada mereka “Kurasa kita semua harus belajar berbicara lebih baik. Bagaimana menurut kalian? Mulai sekarang, sementara makan siang, kita akan meminta seseorang bergantian dengan yang lain berdiri di tengah lingkaran dan menceritakan sesuatu kepada kita...

Ada anak yang merasa tak pandai bicara, tapi senang mendengarkan anak lain berbicara di depan. Ada pula yang senang bisa menceritakan sesuatu yang mereka ketahui kepada orang lain.

Lalu kepala sekolah melanjutkan “Kalian tak perlu merasa harus jadi pembicara yang baik. Kalian boleh berbicara tentang apa saja. Kalian boleh berbicara tentang apa yang ingin kalian lakukan. Apa saja. Tapi yang penting, mari kita coba dulu.”

Anak-anak segera mendapati bahwa tidak seperti mengobrol dengan dua-tiga kawan sambil makan siang, berdiri di depan seisi sekolah membutuhkan keberanian dan ternyata cukup sulit. Meski demikian kegiatan baru itu berjalan lancar, sampai pada suatu hari anak yang mendapat giliran maju menolak keras-keras “Aku tak punya sesuatu untuk diceritakan!” katanya. Kepala sekolah pun mendekati meja anak itu.

Jadi...kau tak punya sesuatu untuk diceritakan?” tanya kepala sekolah.

Ya” jawab anak itu singkat.

Kepala sekolah tertawa terbahak-bahak, tak peduli giginya sudah ompong.

Ayo kita coba cari sesuatu untuk kau ceritakan

Mencari sesuatu untuk kuceritakan????”

Coba kau ingat-ingat apa yang kau lakukan tadi pagi setelah bangun dan sebelum berangkat ke sekolah. Apa yang mula-mula kau lakukan?”

Hmmm....” anak itu memulai, lalu berhenti dan menggaruk-garuk kepalanya.

Bagus! Kau bilang ‘hmmm...’, jadi kau pasti punya sesuatu untuk dikatakan. Apa yang kau lakukan setelah ‘hmmm’?”

Hmm...uh...aku bangun tidur,” katanya sambil menggaruk-garuk kepalanya lebih keras.

Toto-chan dan anak-anak lain merasa geli tapi tetap mendengarkan dengan penuh perhatian.

Anak itu melanjutkan “Lalu...uh...” dia menggaruk-garuk kepalanya lagi. Kepala sekolah duduk dan menunggu dengan sabar, memperhatikan anak itu. Wajahnya kepala sekolah tersenyum, tangannya tertumpang di meja, kemudian dia berkata “Bagus sekali! Itu sudah cukup. Kau bangun tidur tadi pagi. Kau telah membuat semua yang ada di sini mengerti itu. Kau tidak harus pandai melucu atau membuat orang tertawa untuk menjadi pembicara yang baik. Yang penting, kau tadi bilang tak punya sesuatu untuk diceritakan, tapi nyatanya kau punya sesuatu untuk bisa kau ceritakan.”

Tapi rupanya anak laki-laki itu tidak segera duduk. Dia malah berkata dengan suara sangat keras “Lalu...uuuh...

Semua anak mencondongkan badan ke depan. Anak laki-laki itu menarik napas panjang lalu melanjutkan “Lalu...uh...mama...uh...berkata...’gosok gigimu’...uh...lalu aku gosok gigiku

Kepala sekolah bertepuk tangan. Semua ikut bertepuk tangan. Mendengar tepuk tangan itu, anak laki-laki itu melanjutkan, dengan suara yang semakin keras “Lalu...uh...

Anak-anak berhanti bertepuk tangan. Mereka menyimak sambil menahan nafas. Tubuh mereka semakin condong ke depan. Akhirnya anak laki-laki itu berkata dengan nada penuh kemenangan “Lalu...uh...aku sampai di sekolah!!!

Salah satu anak dari kelas yang tinggi mencondongkan tubuhnya terlalu ke depan sampai-sampai kehilangan keseimbangan. Mukanya pun terantuk kotak bekalnya. Tapi semua senang sekali karena anak laki-laki itu berhasil menemukan sesuatu untuk diceritakan.

Kepala sekolah bertepuk tangan dengan penuh semangat, begitu pula Toto-chan dan anak-anak lain. Bahkan anak laki-laki “Lalu...uh...” yang masih berdiri di tengah mereka, ikut bertepuk tangan. Bunyi tepuk tangan riuh memenuhi aula. Sampai dewasa, anak itu mungkin tak akan pernah melupakan suara tepuk tangan itu.

Saya pun ikut bertepuk tangan dengan mata berkaca-kaca ketika membaca bab ini hehehe....

Nah ayah bunda yang baik, pada kenyataannya, berpikir dan mengutarakan apa yang kita pikirkan itu di hadapan banyak orang memang tidak mudah. Tak semua kita mampu melakukannya. Apalagi bila hal ini tak pernah dilatih, sejak dini, terutama di rumah.

Barangkali ayah terlalu sibuk mencari nafkah, pulang sudah dalam keadaan lelah, lalu di rumah masih asyik ber-gadget dengan kuota murah meriah, sementara ibu sibuk mengurus setumpuk pekerjaan rumah (dan pekerjaan kantor juga barangkali). Tidak ada yang bertanya pada anak-anak sehingga memancing mereka untuk berpikir dan berbicara. Kalaupun ada yang disampaikan kepada mereka biasanya hanyalah kalimat-kalimat satu arah saja.

Padahal mungkin saja paling tidak sekali dalam hidup ini kita dihadapkan pada situasi di mana kita harus menyampaikan pendapat kita di depan banyak orang.

Jadi ayah bunda yang baik, yuk mulai kita biasakan di rumah untuk melakukan apa yang dilakukan Mr. Kobayashi kepala sekolah Tomoe Gakuen kepada anak laki-laki “Lalu...uh...” tersebut, yaitu memberikan kesempatan pada anak-anak kita untuk bercerita tentang apa saja pada kita, memancing kata-kata untuk bisa mereka keluarkan dengan memberikan pertanyaan, dan menghargai betul bahkan setiap bunyi yang keluar dari lisan, serta tak lupa mengapresiasinya sesederhana apapun cerita mereka. Sehingga kelak bila situasi itu datang, mereka mampu berpikir tajam dan menyampaikan pemikiran mereka di hadapan banyak orang dengan penuh keberanian.

Semoga bermanfaat.



Rabu, 09 Oktober 2019

CARI SEKOLAH ITU IBARAT CARI JODOH


Ibarat cari jodoh???
Iyyessss ayah bunda yang baik, sebab antara keduanya memang ada sejumlah kemiripan.
Apa sajakah itu?

Pertama, Kriteria.

Tentu setiap orang punya kriteria jodohnya sendiri-sendiri. Sebagaimana baginda Rosul berpesan pada kita untuk memilih jodoh dengan melihat 4 hal, yakni hartanya, keturunannya, fisiknya, dan agamanya.

Sama halnya dengan mencari sekolah. Tentu ayah bunda punya kriteria sendiri seperti apa sekolah yang terbaik untuk ananda, misalnya saja yang berbasis agama sehingga porsi pembelajaran agamanya lebih banyak, atau yang bertaraf internasional agar ananda kelak siap bersaing di dunia global, atau yang mendekatkan ananda dengan alam sehingga proses belajar mengajarnya agak berbeda dengan sekolah umunya, atau kriteria-kriteria yang lainnya. Sah-sah saja. Yang terpenting adalah ayah bunda memang HARUS PUNYA KRITERIA dan kriteria tersebut SEJALAN dengan TUJUAN PENGASUHAN yang ayah bunda miliki untuk ananda.

Jangan sampai ayah bunda memasukkan ananda ke sekolah seadanya saja, tanpa kriteria dan tanpa pertimbangan. Mengapa? Sebab ananda akan menghabiskan sebagian waktunya dalam sehari selama sekian tahun di sekolah tersebut. Sehingga apa-apa yang ananda dapatkan di sekolah tersebut pasti akan berpengaruh pada dirinya dan masa depannya, bahkan dunia dan akhiratnya. Ya ibarat cari jodoh tadi, ayah bunda tak mungkin kan memutuskan menikah dengan orang yang se-ketemu-nya saja, sebab ayah bunda akan menghabiskan bertahun-tahun waktu hidup bersamanya, dan kehadirannya akan berpengaruh pada masa depan ayah bunda, dunia dan akhirat ayah bunda.

Kedua, ikhtiar.

Jodoh yang sesuai kriteria kita tadi tak mungkin langsung Alloh jatuhkan dari langit. Sehingga sudah barang tentu kita harus berusaha mencarinya, atau bahasa agamanya ialah berikhtiar.

Nah, bentuk ikhtiarnya bisa dalam bentuk survey sekolah. Jadi ayah bunda datang ke beberapa sekolah, bisa sekolah swasta saja, negeri saja, atau kedua-duanya. Datanglah ke sana. Temui pihak sekolah dan mintalah informasi selengkap dan sedetil mungkin yang bisa memberikan gambaran pada ayah bunda tentang sekolah itu. Ayah bunda bisa meminta brosur dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti:

Berapa kuota siswa baru yang diterima?
Berapa murid per kelasnya?
Jam berapa anak-anak masuk dan pulang sekolah?
Adakah jam khusus untuk literasi?
Berapa biaya bersekolah di situ? Apa saja rinciannya? Apakah bisa dicicil atau harus lunas di awal? Apakah biayanya nanti akan naik seiring naiknya kelas?
Apa saja ekstrakurikuler yang ada di sekolah itu? Apa saja yang wajib? Apa saja yang pilihan? Apakah masih ada biaya lagi untuk ekstrakurikuler tersebut?
Apakah ada agenda rutin pertemuan orang tua dengan guru terutama wali kelas?
Apakah ada kegiatan sholat berjamaah untuk murid?
Apakah ada kegiatan yang keluar sekolah seperti outbond, dll?
Dan sebagainya dan sebagainya.

Setelah itu jangan lupa meminta izin pada pihak sekolah untuk melihat-lihat sekolah. Cek keadaan fisik sekolah, kebersihannya, kamar mandinya, UKS nya, kantinnya, perpustakaannya, musholanya, keamanan sekolahnya, dll.

Selain bertanya kepada pihak sekolah, ayah bunda juga bisa bertanya pada kenalan yang anaknya bersekolah di situ, sehingga ayah bunda bisa mendapatkan informasi tambahan tentang sekolah tersebut.

Kalau ayah bunda hendak memasukkan ananda di sekolah negeri, maka bentuk ikhtiar lain yang perlu ayah bunda lakukan juga ialah mempelajari peraturan zonasi. Buka website pemerintah, dalam hal ini bisa kementrian atau dinas pendidikan di tempat ayah bunda tinggal. Pelajari dengan detil peraturannya, langkah-langkah pendaftaran sekolahnya, apa saja dokumen yang perlu disiapkan, apakah ada jalur-jalur masuk yang lain, dsb sehingga ayah bunda benar-benar paham dan memiliki gambaran kira-kira ananda nanti akan didaftarkan di sekolah negeri mana.

Ketiga, minta pentunjuk pada Yang Maha Mengetahui.

Coba ayah bunda flashback, ketika dulu ayah bunda sudah punya pilihan dengan siapa nantinya akan membina rumah tangga atau ketika sudah ada yang datang meminang, apa yang kemudian dilakukan? Tentu saja bertanya sekaligus minta petunjuk pada Yang Maha Mengetahui, apakah pilihan ayah bunda adalah yang terbaik untuk dunia dan akhirat ayah bunda kelak. Sebab pengetahuan kita jelas-jelas sangat terbatas.

Pun demikian dalam mencarikan sekolah untuk ananda. Sangat penting untuk mengiringi ikhtiar-ikhtiar kita dengan memohon petunjuk pada Alloh SWT. Sebab hanya Dia lah yang tahu mana yang terbaik bagi ananda. Selalu lah minta untuk dipertemukan dengan sekolah yang terbaik bagi ananda dan dimudahkan segala sesuatunya untuk masuk ke sana. Sebab kata Alloh “...boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al Baqoroh 216)

Keempat, libatkan yang bersangkutan.

Seperti lagu grup band Dewa 19 “Cukup Siti Nurbaya” saja yang dijodohkan secara paksa oleh orang tuanya tanpa dilibatkan apalagi dimintai pendapat dalam penentuan jodohnya. Padahal yang utama akan menjalani rumah tangganya ialah siti nur baya sendiri.

Nah, karena yang utama akan menjalani hari demi hari di sekolah adalah ananda, maka libatkan ia dalam menentukan sekolahnya kelak. Setelah ayah bunda melakukan survey dan menetapkan sejumlah pilihan, ajak ananda untuk ikut melihat-lihat calon sekolahnya, ajak ia melihat kelas-kelasnya, kamar mandinya, kantinnya, perpustakaannya, dll serta ceritakan padanya hal-hal yang berkaitan dengan sekolah itu, misalnya apa saja ekskul-nya, jam berapa masuk dan jam berapa pulang, dsb. Lalu bertanyalah pada ananda “Kamu suka sekolah yang mana nak? Dan kenapa kamu suka sekolah yang itu?”. Dengarkan jawabannya dan jadikan itu sebagai bahan pertimbangan menentukan sekolahnya.  

Dan yang Kelima adalah tentang menerima kekurangan.

Pernahkah ayah bunda dibuat terkejut oleh pasangan? Sebab setelah menikah ternyata ada atau bahkan banyak sifat-sifatnya yang tidak ketahuan ketika sebelum menikah. Sebelum menikah, calon pasangan tampak begitu sempurna di segala sisinya, namun setelah menikah rupanya ia punya kekurangan juga, bahkan mungkin tak sedikit jumlahnya.

Hal ini juga berlaku pada sekolah. Tak ada sekolah yang sempurna. Pasti ada kekurangannya. Entah banyak atau sedikit. Entah di sisi yang mana. Dan biasanya baru benar-benar kita ketahui ketika sudah bersekolah di situ.

Lalu apa yang harus dilakukan ketika sudah bersekolah di situ dan kita menjumpai kekurangan itu? Persis seperti ketika ayah bunda sudah menikah dan menjumpai kekurangan pasangan, apa yang dilakukan? Bersabar, mengembalikannya pada Alloh, dan memohon padaNya agar dituntun melakukan ikhtiar-ikhtiar yang diperlukan.

Itulah beberapa kemiripan antara mencari sekolah dan mencari jodoh.
Semoga bermanfaat bagi ayah bunda yang akan menyekolahkan ananda.
Dan semoga Alloh pertemukan kita dengan sekolah yang terbaik untuk dunia dan akhirat anak-anak kita.

PS :
Di manapun anak kita sekolah nanti, tetap ingat, bahwa sekolahnya yang utama tetap di rumah dan di keluarga. Jadi jangan memasrahkan sepenuhnya pada pihak sekolah. Tetapkan tujuan pengasuhan dan buatkan apa saja kurikulumnya. Sebab kita orang tuanya lah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Sang Pemilik anak-anak kita.

Rabu, 11 September 2019

PENTINGNYA NGOBROL ENAK DENGAN ANAK



Masih tentang mengajari anak bicara.

Izinkan saya membawa anda flashback ke tahun 2004. Tahun di mana saya menjadi mahasiswa baru di sebuah universitas. Ada satu peristiwa yang sangat berkesan bagi saya dan masih saya ingat sampai sekarang.

Saat itu, sebagai mahasiswa baru, saya dan teman-teman se-angkatan diwajibkan untuk mengikuti acara malam keakraban selama dua hari satu malam di sebuah daerah wisata alam. Acara ini bertujuan untuk membuat kami saling mengenal satu angkatan, mengenal kakak-kakak senior kami, mengenal dosen-dosen kami, dan mengenal apa saja yang akan kami pelajari selama berkuliah nanti.

Hari pertama acara berjalan menarik. Banyak ilmu yang kami dapatkan melalui pemberian materi dan games-games seru. Malamnya acara ditutup dengan api unggun dan penampilan dari kami yang sudah dibagi dalam beberapa kelompok. Selepas acara api unggun, kami dipersilahkan istirahat di tenda peserta.

Karena banyaknya persiapan yang harus kami lakukan, lelahnya perjalanan dari kampus hingga tempat tujuan, dan padatnya acara hari itu, kami pun tertidur pulas. Tiba-tiba, bak petir di siang bolong, dini hari kami dikagetkan oleh kegaduhan dari para senior yang masuk ke tenda peserta dan membentak-bentak kami untuk segera bangun dan keluar dengan cepat. Dengan setengah sadar dan agak linglung kami bangun lalu bergegas bersepatu dan keluar dari tenda. Kami pun disuruh berbaris di dekat bekas api unggun. 

Para senior terus membentaki kami. Tak sedikit pula hujatan dan makian yang mereka lontarkan pada kami. Singkat cerita, kata mereka, ada salah satu teman kami yang kedapatan membawa botol minuman keras di tas nya. Dan mereka meminta pertanggungjawaban kami semua. Dalam keadaan kedinginan, kelelahan dan pikiran yang masih loading karena dibangunkan secara mendadak, tidak ada dari kami yang menjawab. Kami belum bisa berpikir dengan utuh. Para senior terus menekan dengan bentakan-bentakan. Sampai akhirnya ada salah seorang teman kami yang sungguh berani mengacungkan tangan. Walaupun dengan kondisi yang belum loading sepenuhnya juga, ia berkata “Kalau yang kedapatan membawa botol minuman keras adalah satu orang, kenapa yang disuruh bertanggung jawab malah satu angkatan, bukan kah kami menyiapkan tas kami sendiri-sendiri di rumah masing-masing, jadi jelas itu bukan tanggung jawab kami dan silahkan minta pertanggungjawaban pada yang bersangkutan!”

Kemampuannya memikirkan jawaban yang masuk akal dan keberaniannya untuk mengungkapkan walau ditekanan bertubi-tubi secara psikologis oleh banyak orang itu begitu berkesan bagi saya, sebab tak semua orang mampu begitu. Banyak juga yang tak mampu bergagasan atau berpikir kritis terhadap sesuatu yang terjadi. Dan tidak sedikit pula yang sejatinya bisa berpikir namun tak cukup berani untuk berbicara tentang kebenaran sehingga lebih memilih diam saja agar “selamat”. Padahal kemampuan berpikir dengan kritis dan keberanian menyampaikan pendapat adalah dua bekal penting yang perlu dimiliki setiap manusia agar tak mudah terseret arus apa-apa yang sedang hits saat ini dan mampu survive dalam hidup.

Nah, kedua bekal itu tentu tak bisa langsung muncul pada diri seseorang. Ia adalah hasil dari sebuah proses panjang pemupukan dan pembelajaran tentang kemampuan berpikir dan keberanian berpendapat. Sehingga tentu akan lebih baik bila proses pembelajaran dan pemupukan ini dimulai sejak seseorang masih anak-anak.

Oleh siapa?
Tentu saja yang utama adalah oleh kita semua, orang tuanya.

Caranya?
Salah satunya ialah dengan NGOBROL bersama anak.

Mengapa mengobrol?
Sebab dengan ngobrol, selain kedekatan dan komunikasi di antara orang tua dan anak dapat terbangun dengan baik, sejatinya kita sedang memancing mereka untuk berpikir dan memberikan kesempatan pada mereka untuk membicarakan pemikirannya. Tentu saja ngobrol nya haruslah ngobrol yang enak. Yang seperti apakah itu? Mari kita lihat pada diri ayah bunda.

Pertama, ketika ayah bunda sedang ngobrol, lebih enak jika ayah bunda sama-sama duduk atau yang satu duduk sementara yang satu lagi berdiri? Tentu akan lebih nyaman jika ayah dan bunda sama-sama duduk, bukan? Apalagi dengan santai dan dengan pandangan mata atau eye level yang sejajar.

Kedua, ketika ayah bunda sedang ngobrol, apakah lebih nyaman bila ayah bunda saling menatap atau salah satu sedang melihat yang lain seperti sedang melihat HP atau televisi? Sudah barang tentu lebih nyaman kalau ayah bunda saling menatap kan? Sebab ayah bunda akan merasa didengarkan, dihargai dan tidak dianggap sambil lalu saja.

Ketiga, ketika ayah bunda sedang ngobrol, lebih enak jika pembicaraannya terjadi dua arah (artinya baik ayah maupun bunda punya kesempatan yang sama untuk berbicara) atau satu arah saja? Saya yakin ayah bunda akan memilih pembicaraan dua arah, sebab kalau hanya salah satu pihak saja yang terus-terusaaaaan bicara sementara yang lain tidak diberi kesempatan, maka itu bukanlah ngobrol melainkan pidato.

Dan keempat, ayah bunda lebih suka ngobrol berjauh-jauhan misalnya yang satu di dapur dan yang satu di teras depan atau ngobrolnya berdekatan? Jelas pasti memilih ngobrol berdekat-dekatan ya, sebab bisa sambil saling berhadapan, saling melihat, perhatian akan lebih fokus, dan tidak perlu berteriak-teriak hehehe...

Jadi, sudah pernah kah ayah bunda ngobrol dengan anak? Semoga ayah bunda semua menjawab “Sudaaaaah” bahkan “Seriiiiiiing” atau “Setiap hariiiiii”. Sebab tak sedikit orang tua yang lebih suka pidato panjang lebar dengan anak, dengan posisi berjarak, lalu orang tua berdiri kalau perlu kedua tangan di pinggang sementara anaknya duduk dan harus mendongak ke atas, atau anaknya sedang berusaha untuk membuka obrolan dengan bercerita tentang temannya atau apa yang sedang menarik perhatiannya, namun orang tuanya justru fokus pada HP atau pada acara di televisi. Bila ayah bunda yang ada di posisi anak, apakah ayah bunda masih akan suka ngobrol dengan orang tua yang seperti itu? Dan bila yang seperti itu terjadi terus menerus, maka lama-kelamaan hubungan ayah bunda dengan anak bisa makin menjauh walaupun tinggal dalam satu rumah dan setiap hari bertemu, dan tak usah heran bila di suatu titik waktu nanti ayah bunda merasa tidak paham dengan kemauan anak bahkan merasa tidak mengenal mereka lagi, atau bahkan anak-anak menjadi mudah sekali terseret arus ini dan itu yang sedang hits hanya karena teman-temannya begitu, yang belum tentu arus itu bermanfaat bagi mereka bahkan bisa merugikan diri mereka sendiri. Na’udzubilllahimindzalik...

Dengan demikian ayah bunda yang baik, yuk biasakan ngobrol yang enak dengan anak-anak, agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang mampu berpikir kritis, berani menentukan pilihan sikap, dan tak takut menyuarakannya. Mulai saja dengan bertanya pada mereka dan dengarkan dengan segenap jiwa raga jawaban-jawabannya.

Semoga bermanfaat.