Sabtu, 01 Desember 2018

AYAH BUNDA BOLEH MARAH KOK, ASALKAN...



Beberapa waktu lalu tetangga dekat rumah memarahi anaknya yang masih balita. Suara kerasnya terdengar sampai rumah saya dan nada bicaranya yang membentak-bentak membuat si anak tak berhenti menangis. Saya yang saat itu sedang membersihkan halaman depan hanya bisa mengelus dada sambil berkata dalam hati “Tega juga ibunya marah-marah begitu. Padahal anaknya sangat lucu dan menggemaskan sekali...”.

Seketika itu juga Allah langsung menyentil saya dan seolah berkata “Memangnya kamu nggak pernah memarahi dan membentak anakmu???”

O iya ya....langsung tepok jidat... dan istighfar banyak-banyak...

Ayah bunda sekalian, tentang marah ini, ada pertanyaan untuk Anda (dan tentu juga untuk saya)...

Misalnya saja, Pak Presiden memiliki anak yang masih kecil lalu menitipkannya pada Anda, berani tidak Anda memarahi dan membentaknya, apalagi sampai mencubit atau memukulnya?

Saya yakin ayah bunda akan kompak menjawab “Ya enggak laaaaaaaah...yang benar saja.....”. Saya pun demikian.

Kalau saya tanya lagi, kenapa?

Besar kemungkinan Anda juga akan kompak menjawab “Ya karena itu kan anak orang lain, bukan anak saya, anaknya presiden lagi....mana berani saya menyakitinya...”

Nah, di sinilah poin menariknya.

Kita (terutama yang punya “bakat” marah) bisa jadi akan dengan mudah mengomeli, mengata-ngatai anak dengan kasar, membentak, mencubit, menjewer, bahkan memukul anak kita sendiri. Apalagi ketika kita sedang lelah lahir dan batin, sedang stres, sedang jenuh bin penat, sedang ada masalah dengan pasangan, sedang ada masalah di kantor, dll. Kesalahan keciiiiil saja yang dilakukan oleh anak kita bisa membuat kita “meledak”.

Tapi bila yang melakukan kesalahan itu adalah anak presiden, hampir pasti kita tidak akan berani memarahinya. Apalagi bila Pak Presidennya ada di situ juga dan melihat. Barangkali kita akan berkata “Ah...nggak apa-apa kooooook...namanya juga anak-anak ya kaaaaan...” sambil dipaksa-paksakan tersenyum dan sekuaaaaaaat tenaga meredam emosi.

Padahal ayah bunda...

Sadarkah kita...

Bahwa yang kita lahirkan, yang setiap hari ada di rumah, di dekat kita, dan kita sebut sebagai anak kita itu SESUNGGUHNYA juga BUKAN milik kita.

Anak-anak itu adalah MILIK ALLAH, Presiden dari segala presiden, dan Raja dari segala raja. Kita ini hanya dititipi saja oleh Allah untuk mengasuh dan merawat mereka sampai batas waktu tertentu.

Lalu kenapa kita berani memarahi, membentak, menjewer, mencubit, apalagi sampai memukulnya? Padahal suatu hari nanti Allah akan mengambil kembali titipanNya dan meminta laporan pertanggungjawaban kita....

Astaghfirullahaladzim.....

Kalau boleh jujur dari lubuk hati yang paling dalam, saya yakin 100% bahwa tak ada satu orang tua waras pun di dunia ini yang ingin memarahi anaknya dalam bentuk melukai perasaannya apalagi sampai menyakiti fisiknya.

Tapi mengapa masih saja sulit untuk tidak memarahi anak?

Ada beberapa kemungkinan penyebabnya, ayah bunda:

Pertama, karena dulu kita dibesarkan juga dengan dimarah-marahi, sering dibentak-bentak, dikata-katai kasar, dicubit, dijewer, bahkan dipukul pun pernah.

Ayah bunda mungkin sudah sering mendengar bahwa anak itu ibarat giant sponge (mudah sekali menyerap semua yang dilihat, didengar, dan dialaminya) sekaligus peniru paling ulung. Bukan kah kita semua ini adalah anak dari orang tua kita. Jadi sudah pasti gaya pengasuhan orang tua kita dulu akan berpengaruh pada bagaimana kita mengasuh anak-anak kita sekarang. Sampai-sampai ada pepatah yang mengatakan bahwa buah yang jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Jadi walau dalam hati sesungguhnya kita tak ingin, tapi akhirnya kita pun marah-marah juga ke anak.

Kedua, karena kita sedang sangat capek, baik capek secara fisik, apalagi bila batin ikut lelah dan iman sedang turun, ditambah sedang ada masalah dengan pasangan, dengan orang tua, mertua, atasan di kantor, dll. Kalau kata orang, sedang episode senggol bacok hehehe... Dan sasaran yang paaaaling empuk untuk melampiaskan semua sampah emosi itu adalah anak, apalagi yang masih kecil dan belum berdaya untuk membela dirinya yang sesungguhnya tidak salah apa-apa....

Istighfar lagi.... 

Jadi, kita harus bagaimana???

Ayah bunda yang baik, kita harus sadari terlebih dahulu bahwa sesungguhnya Allah itu menganugerahi kita emosi LENGKAP, ada senang, ada sedih, ada takut, ada jijik, termasuk juga marah.

Jadi boleh saja kita merasa marah, termasuk bila anak-anak kita melakukan kesalahan, apalagi bila mereka melanggar aturan yang sudah disepakati bersama. Tapiiiiiiiiii.....ada beberapa hal yang harus kita pahami dan kita lakukan:

Pertama, kita marah karena perbuatan salah yang dilakukan anak, bukan karena personal anak kita. Jadi sejajarkan mata kita dengan matanya lalu katakan padanya “Ayah/bunda marah karena kamu melakukan ini, tapi ayah/bunda tetap sayang padamu”. Dengan cara ini pesan yang ingin kita sampaikan akan lebih mudah masuk dan dimengerti oleh anak.

Sebaliknya, jika kita mengomel tanpa henti, membentak, melabelinya nakal, apalagi mencubit atau memukulnya, maka anak tidak akan mengerti bahwa ia baru saja melakukan kesalahan. Yang ia pahami justru dua hal, pertama bahwa mengomel, membentak, mencubit, dan memukul itu boleh dilakukan bila kita marah, dan kemungkinan besar ia akan menirunya dan melakukannya juga. Kedua, ia justru merasa bahwa ia tidak disayang oleh orang tuanya. Dan bila hal ini terjadi terus menerus, ia akan merasa tidak berharga, tidak diinginkan, tidak berarti, dan akan tumbuh menjadi pribadi yang tak memiliki nilai diri. Ini sungguh berbahaya bagi anak dan masa depannya.

Kedua, wajar bila emosi kita mudah sekali tersulut ketika sedang lelah. Sehingga sejatinya setiap kita, baik ayah maupun bunda, sama-sama butuh istirahat dan refreshing, untuk memulihkan kembali jiwa dan raga, serta men-charge energi agar siap mengahadapi hari, termasuk juga menghadapi anak-anak.

Tentu istirahat dan refresing-nya harus disesuaikan pula dengan kondisi kita saat ini yang sudah tak lajang lagi dan sudah punya keluarga yang Allah amanahi. Sehingga ayah bunda bisa mengomunikasikan ini dengan pasangan, agar ada waktu untuk me-time barang sebentar.

Kalaupun ternyata pasangan kita tak bisa diajak bekerja sama, maka ayah bunda harus mengusahakan sendiri untuk ada kesempatan istirahat/refreshing/me-time. Tak harus yang mahal dan besar, bisa dengan cara-cara yang sederhana, seperti mandi supaya segar kembali, minum secangkir teh hangat, dll.

Ketiga, bila ayah bunda sedang merasa sangat sangat sangat emosi, bahkan rasanya sudah memuncak sampai ke ubun-ubun, lalu kita mendapati anak kita melakukan kesalahan, maka kita HARUS SEGERA keluar dari situasi itu. Bukan berarti keluar dari rumah, tapi keluar dari situasi.

Kata Baginda Rosul SAW “Jika kamu marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika kamu masih marah, padahal sudah dalam keadaan duduk, maka berbaringlah. Jika kamu masih marah padahal sudah dalam keadaan berbaring, maka segera bangkit dan ambil air wudhu untuk bersuci, lalu lakukan sholat sunnah dua rokaat.”

Inilah yang saya maksud dengan keluar dari situasi itu. Harus ada movement, harus ada pergerakan yang bisa memecahkan ketegangan. Misalnya pergi ke dapur untuk minum, pergi ke halaman untuk bernafas, dll. Sebab bila tidak, maka bara emosi akan semakin besar dan mendorong kita melakukan hal-hal yang bisa menyakiti anak.

Jika sudah terlanjur???

Tak apa ayah bunda. Kita ini manusia. Bukan malaikat. Dan Allah sudah tentu tahu itu. Jadi segera MOHON AMPUN. Mohon ampun banyak-banyak dan bertaubat sungguh-sungguh. Lalu lakukan hal yang tak kalah penting, yakni MINTA MAAF pada anak dan sampaikan padanya bahwa kita tetap menyayanginya dan ia pun boleh mengingatkan kita bila kita marah.

Memang tak mudah. Namun bukan berarti tak mungkin untuk dilakukan. Jadi mari kembali pada Allah Sang Penggenggam diri dan hati agar dibimbing selalu dalam mengasuh dan membesarkan anak-anak. Sebab tak ada daya dan kekuatan selain dari Allah SWT.

Sebagaimana pesan nabi “Siapakah yang kalian anggap paling perkasa? Kami menjawab : orang-orang yang tak bisa dikalahkan oleh siapapun. Nabi bersabda : Bukan itu, melainkan orang-orang yang dapat mengendalikan dirinya pada saat marah.” (HR. Muslim)

Tulisan ini adalah pengingat bagi saya pribadi.
Dan semoga juga bermanfaat untuk Anda.

Kamis, 25 Oktober 2018

NAK, KAMU CANTIK DAN ITU FAKTA!


Seingat saya, dulu ketika masih duduk di bangku sekolah, istilah bullying belum lah se-terkenal sekarang. Malahan rasanya di sekolah tidak ada yang menyebut-nyebut kata bullying. Namun demikian praktek-prakteknya sudah ada, baik dalam bentuk verbal maupun non verbal.

Saat itu, saya yang Allah takdirkan berambut keriting kerap kali menjadi bahan gurauan, lucu-lucuan, bahkan ejekan dari teman-teman sekelas. Mereka sering memanggil saya tidak dengan nama saya, tetapi dengan panggilan kribo atau miting alias mie kriting.

Awalnya saya tak terlalu menanggapi gurauan dan ejekan mereka. Namun karena dilakukan berulang-ulang, dan hampir seisi kelas melakukannya, ternyata gurauan dan ejekan tentang rambut saya itu berpengaruh juga pada diri saya. Mulailah muncul rasa risih, rendah diri, minder, dan merasa tidak cantik.

Hingga puncaknya ketika suatu hari di jam pelajaran akuntansi, ibu guru meminta saya dan teman saya yang laki-laki (dan berambut keriting juga) untuk maju ke depan kelas mengerjakan soal di papan tulis. Sontak hampir seisi kelas menertawakan kami dan berkata “Ada duo kriboooo hahahaha...”. Duuuuuuuuh.....saya maluuuuuuu sekali dan ingin rasanya menangis saat itu juga karena sakit hati dengan ejekan mereka. Tapi saya tahan sekuat tenaga, sebab tak mungkin saya menangis di depan seisi kelas.

Selepas kejadian itu muncullah pertanyaan dalam benak saya “Apa ada yang salah bila rambut saya keriting? Saya kan terima jadi, tidak pernah request pada Allah mau rambut seperti apa”. Dan karena kejadian itu terjadi pada saat saya remaja dan masa-masanya puber, sehingga sudah mulai memikirkan penampilan, maka semakin galau lah hati ini.

Di saat yang bersamaan rupanya sedang booming teknik meluruskan rambut alias rebonding. Lalu terpikirlah dalam benak saya untuk me-rebonding rambut. Tujuannya hanya satu, agar tidak jadi bahan ejekan lagi. Saya pun mencari info harga rebonding di salon dekat rumah.

Sayangnya, hubungan saya dengan orang tua saya tidak dekat dan komunikasi di antara kami juga tidak lancar, sehingga saya cenderung tertutup pada mereka. Karena itulah tak mungkin meminta uang dalam jumlah segitu pada mereka, apalagi dengan alasan untuk rebonding karena dibully teman-teman. Alhasil saya menabung sendiri. Saya rela tidak jajan ketika jam istirahat dan sekuat tenaga menahan air liur melihat teman-teman saya makan nasi goreng, tahu telor, dll dengan lahap selepas pelajaran olah raga agar ada uang yang bisa saya sisihkan untuk rebonding. Setelah beberapa waktu akhirnya terkumpulah uang sejumlah harga rebonding di salon dekat rumah itu.

Namun muncul masalah baru, saya tidak cukup berani untuk datang ke salon itu seorang diri. Apalagi saya belum pernah melihat dan melakukan rebonding sebelumnya. Lalu saya putuskan untuk bercerita pada kakak perempuan saya dengan harapan dia mau menemani saya ke salon. Di sinilah titik balik saya. Semula saya mengira bahwa kakak akan mau menemani saya rebonding di salon, karena menurut saya jarak umur kami tak terlalu jauh dan kami sama-sama perempuan, jadi dia pasti bisa memahami kondisi saya, bisa menerima alasan saya ingin rebonding, dan mau menemani saya ke salon. Ternyata Allah berkehendak lain.

Dengan mantap kakak saya berkata

“Dek, SEMUA PEREMPUAN itu Allah ciptakan CANTIK. Tidak ada satupun ciptaan Allah yang jelek. Kamu dengan rambut keritingmu itu SAMA cantiknya dengan teman-temanmu yang rambutnya lurus. Jadi simpan kembali uangmu. Gunakan untuk kebutuhan yang lain. Tak ada yang perlu diubah dari penampilanmu, sebab kamu sudah cantik!” Lalu ia tersenyum.

Huaaaaaaaaaaaa....pecahlah tangisan saya mendengar perkataan kakak saya itu. “Terima kasih kak....terima kasih....terima kasih....” kata saya berulang kali sambil terisak-isak. Sejak saat itu saya tak pernah ambil pusing lagi setiap kali teman-teman saya mengejek rambut saya. Saya katakan kepada mereka dengan nada melawan dan tangan di pinggang “Emang kenapa kalau gue keriting? Masalah buat lo?!!!”

Kejadian itu begitu melekat kuat dalam ingatan saya meski sudah belasan tahun berlalu. Dan sangat menjadi perhatian saya saat kini saya sudah menjadi orang tua. Mengapa?

Sebab ayah bunda sekalian, sadarkah kita bahwa media massa, media sosial dan lingkungan sekitar membentuk deskripsi perempuan cantik yang identik dengan kulit putih, rambut panjang hitam lurus, dan tubuh tinggi kurus dengan kaki jenjang. Betapa banyak iklan produk-produk kecantikan yang menjanjikan kulit menjadi putih cemerlang dalam kurun waktu singkat kepada konsumennya. Betapa tidak sedikit iklan shampo yang menggambarkan rambut indah itu adalah rambut yang panjang, hitam, dan lurus. Dan itu semua dengan model-model iklannya yang bertubuh tinggi kurus.

Gempuran deskripsi ini sungguh sangat dahsyat. Hingga tak sedikit perempuan yang kemudian merasa minder dan tidak percaya diri dengan fisiknya yang tidak sesuai dengan deskripsi cantik itu. Kemudian mereka melakukan treatment-treatment kecantikan dari yang harganya murah meriah hingga yang mahal agar bisa sesuai.

Dan itu pun bisa juga terjadi pada anak-anak perempuan kita! Apalagi bila mereka sudah remaja, sudah memasuki masa puber, sudah mulai memperhatikan penampilannya, dan sudah mulai tertarik pada lawan jenisnya. Sangat mungkin mereka menjadi minder, tidak percaya diri dengan keadaan fisik mereka, dan merasa tidak cantik. Ditambah lagi bila fisik mereka itu menjadi bahan ejekan atau bullying orang lain, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Sama seperti yang pernah saya alami dulu.

Sayangnya, saat itu orang tua saya tidak tahu menahu tentang kejadian itu dan tidak hadir ketika saya mengalami pergolakan batin itu. Syukurlah kakak saya menggantikannya sehingga saya tidak sampai melakukan hal-hal keliru yang sesungguhnya tidak perlu dan menjadi punya keberanian menghadapi bullying dari teman-teman karena fisik saya.

Namun demikian bagi saya sungguh amat sangat penting sekali bahkan wajib bagi orang tua (ayah dan bunda) untuk tidak abai terhadap hal ini dan hadir bagi anak-anak ketika mereka merasa minder dengan penampilan bahkan dibully oleh orang lain.

Mengapa?

Alasan pertama dan yang paling utama ya karena kita ini orang tuanya. Kita lah yang diberi tanggung jawab penuh oleh Allah untuk mengasuh dan mendidik mereka dalam segala hal. Termasuk membangkitkan rasa syukur dan percaya diri dengan apapun kondisi fisik mereka.

Kita lah yang sesungguhnya berkewajiban meyakinkan mereka bahwa Allah itu Maha Hebat dan Maha Kreativ dalam menciptakan segala sesuatu, sehingga Allah menciptakan perempuan itu dengan fisik yang beraneka ragam. Ada yang kulitnya putih, kuning langsat, sawo matang, coklat gelap, dll. Ada yang berambut lurus, keriting, bergelombang, dll. Ada yang matanya besar, ada yang sipit, dll. Ada yang tubuhnya tinggi dan ada pula yang tidak. Ada yang kurus dan ada yang tidak. Dan masih banyaaaak lagi keanekaragamannya. Tapi semuanya itu punya satu kesamaan, yaitu SAMA-SAMA CANTIK! Sebab semuanya buatan Allah. Bahkan Allah sendiri yang mengatakan dalam salah satu ayatNya bahwa Dia menciptakan manusia itu dengan sebaik-baik bentuk.

Tentu sebelum menjelaskan semua itu, terlebih dulu kita harus menjadi teman ngobrol yang nyaman dan aman bagi mereka. Nyaman karena kita bersedia mendengarkan dengan penuh perhatian dan menghargai apapun curahan hati mereka. Aman karena kita tidak akan menceritakannya pada orang lain yang bisa membuat mereka malu.

Alasan kedua ialah agar mereka tidak salah langkah dalam menghadapi situasi tersebut. Apalagi mereka masih remaja. Dengan kondisi kejiawaan yang belum matang dan stabil, serta besarnya pengaruh teman sebaya dan lingkungan, sangat mungkin mereka melakukan hal-hal yang malah merugikan bahkan membahayakan diri mereka sendiri. 

Di sinilah orang tua harus berperan membimbing mereka tentang apa-apa yang harus mereka lakukan untuk mengatasinya. Ajaklah mereka menggali potensi diri, menemukan passion, dan menekuninya dengan sungguh-sungguh. Sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan hal-hal yang tidak berguna seperti bully-an orang lain dan mereka justru bisa menunjukkan kemampuan yang mereka miliki dengan penuh percaya diri, bangga dengan diri mereka, bersyukur atasnya, dan bersinar terang dengan apapun kondisi fisik mereka.

Jadi ayah bunda, bila anak-anak perempuan kita merasa tidak cantik dengan kondisi fisiknya apalagi sampai dibully orang lain, maka peluk erat mereka dengan segenap jiwa raga, lalu tatap mata mereka lekat-lekat, dan katakan padanya dengan mantap “Nak, kamu cantik dan itu fakta!”

Semoga bermanfaat.

Minggu, 14 Oktober 2018

AYAH BUNDA HARUS BELAJAR MENERIMA



Sometimes, life doesn’t go the way we plan.
Ada kalanya yang terjadi dalam hidup tidaklah sesuai dengan yang kita inginkan dan kita rencanakan. Dalam hal apapun, mulai dari rumah tangga, mengasuh anak, pekerjaan, pertemanan, percintaan, dll.

Misalnya, kita ingin punya pasangan yang setia hingga akhir usia, ternyata di tengah perjalanan rumah tangga, ia mengingkari janjinya dan melalaikan tanggung jawabnya.

Atau, setelah menikah dan menunggu bertahun-tahun untuk punya momongan, ternyata Allah ambil kembali buah hati kita sebelum ia sempat lahir ke dunia.

Atau suatu hari bagai tersambar petir di siang bolong, kita mendapati bahwa anak kita terlanjur kecanduan gadget, kecanduan game, bahkan pornografi, sebab selama ini kita merasa sibuk dengan pekerjaan sehingga tak ada waktu yang kita berikan untuk benar-benar mengasuh dan menemani mereka.

Atau kita ingin memberi nafkah bagi keluarga sekaligus menjadi usahawan yang berjaya, sudah membuat proposal, sudah memeras otak menggali ide-ide kreativ, sudah mengeluarkan biaya dan tenaga, ternyata hasilnya jauh dari harapan, ditipu partner sendiri pula.

Alhasil kita merasa sedih, kecewa, sakit hati, gagal, dan menyesal.
Lalu, nasehat apa biasanya yang kita dapat ketika mengalami kondisi seperti itu?

Ya, MOVE ON!

Alias bangkit dari kesedihan, kegagalan, penyesalan yang berkepanjangan plus rasa sakit dan kepedihan yang menyertainya, lalu melanjutkan kembali perjalanan hidup, sebab the show must go on!

Memang betul, kita harus move on, dan harus segera, agar waktu yang kita miliki tak terkuras di peristiwa itu saja. Tapi taukah ayah bunda, bahwa sesungguhnya ada satu tahapan lagi yang harus kita penuhi terlebih dahulu sebelum bangkit atau move on. Satu tahapan yang justru sangat sangat penting namun seringkali terlupakan dan terlewatkan sebab kita buru-buru ingin atau harus move on.

Apa itu???

Tahap MENERIMA kejadian itu.

Ya, menerimanya dengan hati yang lapang, lapaaaaaaang sekali, selapang samudera tak bertepi. Penerimaan tanpa kata “tapi....”. Atau dalam bahasa agamanya disebut dengan IKHLAS.

Mungkin tidak mudah awalnya, sebab biasanya kejadian-kejadian yang tak sesuai harapan ini membawa dampak kesedihan, kekecewan, penyesalan, mungkin juga kepedihan di hati. Akan tetapi, semoga beberapa hal ini bisa membantu kita menerimanya dengan lapang dada.

Pertama, kita harus yakin dulu, haqqul yakin, dengan sepenuh hati dan segenap jiwa raga bahwa tidak ada satu kejadian pun yang terjadi kecuali sudah dengan IZIN ALLAH. Bahkan sehelai daun yang jatuh dari pohonnya adalah karena Allah mengizinkan. Tak ada yang namanya kebetulan apalagi kecolongan bagi Allah. Jadi kejadian apapun yang menimpa kita semua (termasuk yang tak sesuai dengan harapan kita itu) juga terjadi lantaran Allah mengizinkannya terjadi. Oke?

Nah bila kita sudah meyakini bahwa Allah mengizinkan kejadian itu terjadi pada diri kita, maka tahap yang kedua ialah meyakini dengan sepenuh hati dan segenap jiwa raga pula bahwa Allah tidak pernah, sekali lagi, ALLAH TIDAK PERNAH MENYAKITI hamba-hambaNya. Allah tidak pernah berniat jahat terhadap hamba-hambaNya. Allah itu yang paling sayang dan yang paling cinta pada kita. Tak ada satupun yang mampu menyamai apalagi menandingi besarnya cinta dan kasih sayang Allah pada kita. Jadi, semua yang terjadi (termasuk yang tidak sesuai harapan kita itu) sesungguhnya adalah bentuk kasih sayang Allah pada kita.

Lho? Kalau Allah memang sayang, kok kita diberi sakit, sedih, gagal, dan kawan-kawannya?

Nah, inilah step yang ketiga. Di sinilah saatnya kita menggunakan anugerah Allah yang hanya diberikan Nya kepada manusia, yakni akal. Bukankah dalam Al Quran berkali-kali Allah memerintahkan kita untuk menggunakan akal pikiran? Jadi sekarang saatnya kita berpikir untuk menemukan jawaban dari pertanyaan MENGAPA Allah mengizinkan kejadian itu terjadi. Mari kita gunakan akal kita untuk flasback ke belakang, untuk bermuhasabah, untuk evaluasi diri, adakah sesuatu yang pernah kita perbuat di masa lalu sehingga Allah mengizinkan kejadian itu terjadi? Atau pelajaran apa yang sesungguhnya ingin Allah berikan pada kita?

Dalam sebuah forum pengajian, seorang ustadz pernah bercerita. Suatu kali ia sedang berkunjung ke pondok pesantren yang sedang dibangunnya untuk mengecek sampai di mana proses pembangunannya. Ketika naik ke lantai tiga, iseng-iseng sang ustadz menjatuhkan selembar uang seratus ribu rupiah. Ternyata tanpa melihat ke atas, tukang yang sedang berada di lantai bawah langsung memungut uang itu. Lalu ia jatuhkan lagi selembar uang seratus ribu dan tukang itu pun langsung mengambilnya. Begitu ia jatuhkan sebuah bata, tukang itu tadi terkejut dan langsung mendongak ke atas.

Ayah bunda sekalian, bisa jadi seperti itulah kita. Ketika Allah berikan peristiwa yang membuat kita sedih, sakit, kecewa, merasa gagal, dll barulah kita “mendongak ke atas”, barulah kita kembali padaNya. Sehingga boleh jadi melalui peristiwa itu, Allah sesungguhnya ingin berjumpa dengan kita di sujud-sujud yang panjang, di sunyinya sepertiga malam, di kesungguhan taubat dan khusyuk nya doa-doa kita.

Nah, bila kita sudah menerima dengan lapang dada, sudah yakin 100% bahwa kejadian itu atas izin Allah dan karena besarnya sayang Allah pada kita, dan sudah kita temukan jawaban penyebabnya, barulah kita MOVE ON. Saatnya kita berdiri, bergerak, dan melangkah lagi, dengan sebuah harapan besar agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dalam hal rumah tangga, dalam hal menjadi orang tua, dalam hal pekerjaan, dll.

Terakhir, mungkin muncul pertanyaan, mengapa tahap MENERIMA ini sangat penting?

Sebab, setiap kejadian (termasuk yang tidak sesuai harapan itu) beserta perasaan-perasaan yang ditimbulkannya erat hubungannya dengan HATI. Sementara hati kita ini diciptakan tidak selalu stabil, mudah terbolak-balik, kadang bisa semangat, tapi ada kalanya pula down, kadang bisa bangkit, tapi kalau teringat kembali akan kejadian itu kita merasa sedih lagi.

Nah, agar kita benar-benar bisa MOVE, benar-benar bisa ON lagi, dan agar kita bisa berdiri tegak lagi melanjutkan perjalanan hidup ini, maka tidak ada jalan lain selain MENERIMAnya terlebih dahulu dengan ikhlas yang totalitas. Sehingga kita bisa mulai melangkah lagi dengan langkah pertama, kedua, ketiga dan seterusnya, dengan menjadikan yang terjadi itu sebagai spion yang cukup sesekali dilihat dengan senyum keikhlasan karena kita akan maju terus ke depan.

Jadi ayah bunda....
Selamat menerima,
Selamat MOVE ON!

Kamis, 02 Agustus 2018

AYAH BUNDA, MENGASUH ITU MEMBENTUK KENANGAN



Lembar monokrom hitam putih
Aku coba ingat warna demi warna di hidupku
Tak akan ku mengenal cinta
Bila bukan karena hati baikmu

Apakah ada di antara ayah bunda yang punya foto kenangan masa kecil bersama orang tua? Baik foto bersama mereka maupun foto Anda yang diambil atau dipotret oleh mereka, baik yang warnanya masih hitam putih seperti lirik lagu “Monokrom” dari Tulus, maupun yang sudah berwarna.

Apa yang Anda rasakan ketika melihatnya? Mungkin ingatan Anda akan melayang ke puluhan tahun silam saat Anda masih anak-anak, masih lucu-lucunya, polos-polosnya, dekil-dekilnya, atau masih nakal-nakalnya. Saat dimana Anda adalah manusia paling bahagia karena tidak perlu mempedulikan apa yang terjadi dengan dunia dan tetap merasa aman-aman saja, sebab ada AYAH dan IBU anda. Lalu Anda berkata “Foto ini dulu waktuuu....” sambil senyum-senyum sendiri, sambil geleng-geleng kepala, atau sambil terharu karena foto itu mengingatkan Anda pada mereka berdua.

Wah...sungguh kenangan yang sangat berkesan ya...

Lalu kita kembali ke masa kini. Foto-foto di zaman sekarang memang sudah tidak hitam putih lagi (kecuali yang sudah diedit) dan sudah jarang sekali dicetak pada lembaran seperti jaman dulu, namun kegiatan memfoto-nya tetap ada, bahkan boleh dikatakan makin menggila dengan hadirnya sebuah benda persegi segenggaman tangan bernama smartphone.

Fitur kamera dengan ketajaman gambar yang semakin akurat pada smartphone membuat para penggunanya tak pernah lupa mengabadikan setiap momen dalam hidupnya, mulai dari momen-momen istimewa hingga momen-momen yang sesungguhnya tidaklah penting untuk direkam, lalu membaginya pada keluarga, teman, bahkan pada dunia melalui aplikasi media sosial.

Smartphone dengan kameranya ini juga berhasil memberikan dampaknya pada para orang tua zaman sekarang. Salah satunya ialah menjadikan ayah dan bunda jauh lebih fokus pada mengabadikan setiap momen dalam hidup anaknya, baik dalam bentuk foto maupun video, lalu men-share-nya di media sosial. 

Pernahkah ayah bunda melihat (atau mungkin mengalami sendiri) ketika sedang berlibur, rekreasi, jalan-jalan atau bermain bersama anak-anak, ayah bunda secara spontan langsung mengeluarkan smartphone lalu sibuk mencari angle yang pas untuk memfoto anak atau merekamnya. Ayah bunda lebih memilih berkata “Ayo berdiri di situ...geser ke kanan sedikiiit...agak maju lagi biar keliahatan ombaknya...senyuuum...” atau “Ayo pegang kelincinya, dek... sambil lihat sini yaaa...cheeeees”  atau “Berdiri di dekat gajahnya situuu....mana gayanyaaa..” dan jepret jepret jepret...share.

Atau ketika sedang bermain di playground mall, tak sedikit orang tua yang justru sibuk memotret maupun merekam anaknya yang sedang bermain lalu minggir ke tepi dan khusyuk meng-share hasil jepretannya di media sosial dengan harapan mendapat komentar dan like.

Tentu bukan berarti memfoto ataupun memvideo mereka dan kemudian men-share-nya tidak boleh. Itu boleh, sah-sah saja, tidak dilarang, dan hak setiap orang. Hasilnya pun bisa dijadikan update kabar bagi keluarga, saudara, maupun teman-teman. Namun semoga ayah bunda, termasuk saya, tidak lupa pada hal lain yang lebih mendasar dan lebih penting untuk dilakukan. Apa itu? MEMBENTUK KENANGAN pada setiap momen itu.

Ya, karena tanpa kenangan, maka foto-foto itu hanyalah foto belaka dan video-video itu hanyalah rekaman semata. Tidak ada yang membekas. Tidak ada yang berkesan. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada sesuatu yang sungguh-sungguh berarti bagi anak-anak ketika suatu hari nanti mereka melihatnya kembali. Tidak ada sesuatu yang akhirnya turut andil membentuk kepribadian dan berpengaruh positiv bagi tumbuh kembang mereka.

Lalu bagaimana caranya agar kenangan itu bisa terbentuk pada foto dan videonya?

Caranya ialah dengan menjadikan momen-momen yang difoto maupun divideo itu sebagai sarana untuk membangun attachment alias kedekatan dan komunikasi ayah bunda dengan anak-anak, serta berilah kesan positiv pada momen-momen itu.

Jadi, misalnya suatu hari ayah bunda dan anak-anak pergi ke pantai, ajaklah mereka ngobrol. “Ini namanya pantai, nak... Indah sekali ya... Ciptaan siapa? Yang ini namanya pasir, adek boleh pegang...bisa dibentuk lho...yuk kita bikin istana dari pasir...”. Ayah bunda bisa merekam keasyikannya membuat istana pasir dan setelah selesai berfotolah bersamanya dan istananya, lalu katakan padanya “Istana buatan adek adalah istana terbagus yang pernah ayah bunda lihat (beri jempol)”. Lalu sepulang dari pantai, tanyakan pada mereka “Suka nggak dek ke pantai? Apa yang paling adek suka?” dll.

Atau ketika anak ayah dan bunda berulang tahun. Di samping sibuk merekam jalannya acara syukuran maupun ber-swafoto dengannya, jangan lupa untuk memeluk dan menciumnya dengan segenap jiwa raga dan hati lalu katakan padanya “Selamat ulang tahun, nak. Semoga Allah selalu menyayangimu.”

Intinya ayah bunda, jangan hanya berfokus pada memfoto atau merekam momen anak Anda semata, tapi bentuklah kenangannya. Karena membentuk kenangan adalah bagian dari mengasuh mereka juga. Hingga bila suatu hari nanti mereka melihat kembali foto-foto dan video-video itu, mereka bisa berkata...
Di mana pun kalian berada
Ku kirimkan terima kasih
Untuk warna dalam hidupku dan banyak kenangan indah
Kau melukis aku...
(“Monokrom” by Tulus)

Selasa, 24 Juli 2018

RUMAH TANGGA DAN ANALOGI TUKANG PARKIR


“Suamiku jatuh cinta pada teman sekantornya...”

Ucapan sahabat saya itu hampir membuat saya menelan es batu dalam es jeruk yang sedang saya nikmati.

“Aku tahu dari percakapan whatsapp nya dengan teman sekantornya itu, dan kemarin dia sudah menyatakan perasaan cintanya.....Padahal teman sekantornya itu juga sudah berkeluarga....” ucapnya dengan wajah tertunduk.

Saking kagetnya, saya sungguh tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapinya. Saya letakkan gelas es jeruk saya. Saya putuskan untuk mendengarkan saja apapun yang ingin ia ceritakan. Namun ternyata tidak ada cerita lagi, karena yang keluar darinya selanjutnya hanyalah air mata. Akhirnya saya pindah duduk di sampingnya dan saya peluk sahabat saya itu se-erat mungkin yang saya bisa.

Sebagai sesama istri dan juga ibu, saya bisa merasakan kepedihan itu meski tak sedalam yang sahabat saya rasakan. Betapa tidak pedih, kesetiaan dan kepercayaan yang sudah dibangun oleh sahabat saya selama hampir 10 tahun pernikahan tiba-tiba dihantam oleh suaminya. Perasaan saya jadi campur aduk, saya jadi merasa kecewa dan marah pada suaminya, merasa sebel pada perempuan teman sekantornya itu, sekaligus merasa sangat sangat kasihan pada anak semata wayang mereka yang meski belum paham akan kejadian ini tapi pasti akan terkena dampaknya juga.

Fiuuuuuuh.....saya harus menarik nafas yang benar-benar panjang dan menghembuskannya dengan sangat perlahan. Saya yakin, pasti tak ada satupun di antara kita yang ingin mengalami badai itu dalam rumah tangga, tiba-tiba tahu bahwa telah dikhianati atau diselingkuhi oleh suami atau istri sendiri sementara awalnya semua terasa berjalan baik-baik saja.

Sakiiiiiit memang....

Tapi.... ada satu hal mendasar yang harus kita sadari dan kita ingat terus sampai akhir hayat kita nanti. Apa itu?

Bahwa sebenarnya kita TIDAK memiliki apa-apa di dunia ini.

Seperti layaknya TUKANG PARKIR. Pasti anda semua pernah melihat bahkan berinteraksi dengan tukang parkir bukan? Kendaraan-kendaraan yang ada di lahan parkir si tukang parkir bukanlah kendaraanya. Semua kendaraan itu adalah titipan dari pemiliknya. Kendaraan itu dititipkan sementara saja oleh pemiliknya. Ketika tiba waktunya, ya kendaraan itu akan diambil lagi oleh pemiliknya. Selama kendaraan-kendaraan itu dititipkan padanya, ia wajib menjaganya dengan baik. Sebab bila ia lalai menjaganya, maka ia harus mempertanggungjawabkannya kepada si pemilik.

Sebelas dua belas dengan analogi itu......sesungguhnya kita semua ini adalah “tukang parkir”, kendaraan-kendaraan itu adalah apapun yang ada pada diri kita selama kita hidup di dunia ini, termasuk suami, istri, anak-anak, dan lain sebagainya. Dan pemilik “kendaraan-kendaraan” itu adalah Allah SWT. Selama Allah menitipkan suami, istri, anak, dan lain sebagainya itu kepada kita maka kita WAJIB menjaganya sesuai dengan amanat dari Sang Pemilik. Dan bila kita menyakiti titipan-Nya, maka kita pun harus bertanggung jawab pada Pemiliknya.

Berangkat dari apa yang dialami oleh sahabat saya itu, saya ingin mengingatkan suaminya dan suami-suami yang lain. Anda jangan lupa bahwa ketika ijab qobul dulu sesungguhnya Anda mengadakan perjanjian, tidak hanya dengan wali perempuan itu, tapi juga dengan Pemiliknya, yakni Allah. Anda berjanji akan menjaganya dengan baik dan melindunginya dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Sungguh bukan perjanjian yang ringan dan sembarangan. Bahkan Allah menyebutnya dengan istilah “Mitsaqan Ghaliza”, sebuah perjanjian yang setara dengan perjanjian Allah dengan para nabiNya. Jadi, jika anda mencederai perjanjian itu (dengan menyakiti atau mengkhianati istri Anda), ingatlah dengan siapa sesungguhnya Anda akan berurusan.

Dan untuk mbak teman sekantornya, saya tidak kenal Anda, tapi semoga Anda tahu dan ingat pesan Baginda Rosul...

“...dan aku melihat neraka, maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita. Para sahabat pun bertanya : Mengapa demikian wahai Rosul? Baginda SAW menjawab : Karena kekufuran mereka. Kemudian sahabat bertanya lagi : Apakah mereka kufur kepada Allah? Baginda menjawab : Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya....” (HR Imam Al Bukhari).

Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat bagi saya pribadi dan Anda semua. Dan semoga Allah selalu membimbing kita dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Aamiiin Ya Robbal alamin...

PS : Untuk sahabatku...bersabarlah dan bertahanlah...ujian ini bentuk sayang Allah padamu.
Dan untuk kakak tercinta, terima kasih yang tak terhingga untuk analoginya.

Selasa, 05 Juni 2018

AYAH BUNDA, LEBARAN NANTI DAHULUKAN MINTA MAAF PADA ANAK


Saya pribadi termasuk orang yang jarang ngobrol dengan bapak dan ibu, baik tentang hal-hal yang sepele apalagi tentang hal-hal yang sifatnya personal. Bapak pekerja keras. Sebagian besar waktu dari senin sampai sabtu, dari subuh hingga maghrib bapak gunakan untuk mencari nafkah. Bahkan tak jarang di tanggal merah pun bapak tetap masuk kerja. Itu semua bapak lakukan agar saya dan 3 saudara saya bisa sekolah tinggi melebihi bapak.

Sementara ibu setiap hari sibuk mengurus pekerjaan rumah beserta kami berempat yang beliau rasa tak ada habis-habisnya, sambil memendam kekecewaan sebab bapak melarangnya berkarir di luar, sehingga tidak jarang kami berempat menjadi sasaran pelampiasan kekecewaan dan kejenuhan ibu. Alhasil banyak momen dalam hidup saya dimana bapak dan ibu tidak hadir di situ.

Pernah ada masa-masa di mana saya menuntut perhatian mereka, menuntut hal-hal yang mestinya saya dapatkan dari mereka. Bukan hanya makan, baju, tempat tinggal, dan kesempatan bersekolah semata, tapi juga kehadiran mereka secara utuh lahir batin fisik dan pikiran untuk saya.Tak peduli sesibuk apapun mereka atau sedang punya masalah apa. Sebab saya toh tak pernah minta dilahirkan oleh mereka.

Akhirnya saya azzam-kan niat dalam hati saya, bila kelak saya punya anak, saya akan berusaha sungguh-sunguh untuk menjadi orang tua terbaik bagi anak saya. Saya ingin hadir terutama di momen-momen penting dalam hidupnya secara utuh. Saya ingin mengasuhnya dengan segenap kasih sayang dan perhatian yang bisa saya berikan. Pokoknya saya ingin memberikan padanya apa-apa yang tidak saya dapatkan dari bapak dan ibu!

Tapi Allah memang sutradara terbaik.

Ketika sekarang sudah menjadi ibu, sebelas dua belas saya merasakan apa yang ibu saya rasakan dulu. Lelah dan jenuh dengan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak (padahal anak saya baru satu). Belum lagi bila sedang ada masalah dengan suami. Hingga tak jarang emosi-emosi negativ itu saya tumpahkan pada anak. Begitu pula dengan ayah yang sebagian besar waktu, tenaga, dan pikirannya terserap di tempat kerja demi mencari nafkah untuk keluarga. Sehingga pulang ke rumah membawa sisa: sisa waktu, sisa tenaga, dan sisa pikiran untuk berhadapan dengan anak.

Ayah Bunda,
Saya yakin setiap kita pasti ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Namun apalah daya, kita ini tetaplah manusia. Pasti ada saat dimana kita khilaf dan salah ketika mengasuh dan membesarkan anak-anak, entah karena sedang lelah, jenuh, stress, ataupun karena kurangnya ilmu yang kita miliki. Namun kita tak mungkin bisa memutar waktu seolah kesalahan dan kekhilafan itu tak terjadi, bukan? Sehingga yang perlu dan harus kita lakukan ialah MEMINTA MAAF pada anak-anak.

Ya, M-A-A-F...cukup 4 huruf.

Namun, meski hanya 4 huruf dan hanya butuh satu tarikan nafas pendek saja untuk mengucapkannya, nyatanya tak semua kita bisa mudah meminta maaf dengan tulus dan sungguh-sungguh. Apalagi orang tua pada anak-anaknya. Bisa karena gengsi “Masa orang tua minta maaf ke anak?! Anak lah yang harus minta maaf ke orang tuanya!”. Bisa pula karena memang sejak dulu tak terlatih dan tak dilatih untuk meminta maaf setelah melakukan kesalahan. Padahal sekali lagi, orang tua juga manusia yang tentu bisa salah juga, kan? Dan bagaimana mungkin kita bisa punya anak yang dengan tulus meminta maaf pada orang tua bila orang tuanya tak lebih dulu mengajarkan dan mencontohkan untuk meminta maaf?

Tak hanya itu ayah bunda, ternyata kata MA-AF yang cuma 4 huruf ini juga punya kekuatan sakti untuk mencairkan kembali hubungan yang dingin bahkan beku antara orang tua dan anak. Bagi anda para orang tua yang bertahun-tahun hubungan dengan anak-anak tidaklah hangat, hanya ngomong seadanya dan seperlunya meski dalam satu rumah, atau sering nggak nyambung dan salah paham ketika berkomunikasi, cobalah urai kebuntuan dan kebekuan itu dengan mengucap MA-AF pada anak-anak. Katakan “Nak, ayah/bunda minta maaf atas segala kesalahan ayah/bunda selama ini”. Cukup itu saja dulu. Dan tunggu rekasi dari mereka.

Apalagi di momen lebaran nanti. Sudah menjadi tradisi bukan bahwa masyarakat kita selalu mengucapkan “Mohon maaf lahir dan batin” ? Dan sudah menjadi tradisi pula anak-anak sungkem atau meminta maaf pada orang tuanya. Nah, tinggal menjadikan tradisi pula orang tua meminta maaf pada anak-anaknya. Lebih juara lagi bila orang tua yang mengawali meminta maaf terlebih dahulu, dengan tulus dari lubuk hati yang paling dalam dan tanpa gengsi sama sekali. Semoga satu kata  yang diucap dengan niat yang baik ini bisa membawa perbaikan dan keberkahan dalam hubungan antara orang tua dan anak.

Aamiin...

Sabtu, 24 Februari 2018

MEMUTUS MATA RANTAI BULLYING

Beberapa waktu lalu seorang ibu bercerita pada saya bahwa anaknya didorong dan dipukul kepalanya oleh temannya di sekolah......yang masih PAUD! Rupanya tidak hanya anak si ibu itu yang pernah mengalami hal serupa di sekolah itu.

Lalu saya tanya bagaimana respon gurunya. Si ibu berkata bila si anak ini menyakiti temannya, maka gurunya akan mendekatinya dan menuntunnya untuk meminta maaf pada temannya yang masih menangis karena kaget dan kesakitan. Si anak pun meminta maaf sambil cengengesan (tidak serius) dan setelah itu tetap mengulangi perbuatannya lagi. Begitu terus. Hingga ibu-ibu wali murid lainnya sudah hafal dengan perilakunya, bahkan ada yang menjulukinya preman-nya PAUD. Sedih hati saya mendengarnya, apalagi belum genap balita sudah bisa menyakiti temannya.

Karena masih penasaran, saya bertanya lagi tentang orang tua si anak. Lalu si ibu bercerita bahwa ia kerap kali melihat ibu si anak ini membentak, meneriaki, dan pernah juga mencubit anaknya, bahkan ketika sedang ada di depan ibu-ibu yang lain. Bagaimana dengan  ayahnya? Ayahnya tidak pernah mengantar maupun menjemput si anak ke sekolah karena bekerja di luar negeri.

Ayah bunda sekalian, mungkin sudah berulang-ulang kali kita membaca, menonton, melihat dan mendengar kasus-kasus bullying, atau bahkan mengalaminya sendiri, entah kita yang mengalami atau anak-anak kita. Kecenderungan untuk menyakiti atau menindas orang lain yang dirasa lebih lemah baik secara fisik maupun verbal alias bullying bukanlah sesuatu yang ujug-ujug (tiba-tiba) dilakukan oleh seseorang. Pasti ada sejarahnya dan pastilah ada penyebabnya sehingga seseorang (baik dewasa, remaja, apalagi anak-anak yang notabene masih suci bersih) melakukan bullying. Bila penyebabnya ini terjadi ketika masih anak-anak dan tidak segera diatasi, maka kemungkinan besar perilaku mem-bully akan berlanjut hingga ia remaja bahkan dewasa.

Khusus untuk kasus yang diceritakan seorang ibu di awal tulisan saya ini, saya percaya bahwa si anak yang kerap kali menyakiti temannya ini bisa melakukan hal seperti itu karena 2 kemungkinan. Kemungkinan pertama, ia pernah dan sering kali melihat orang yang menyakiti orang lain. Kemungkinan kedua, ia yang menjadi korban, pernah dan sering disakiti orang disekitarnya. Salah satu atau kedua kemungkinan ini bisa membuat si anak MENIRU perilaku tersebut dan melakukannya kepada teman sebaya atau yang dia rasa lebih lemah darinya. Dan ketika mendengar bahwa ibu si anak juga kerap kali membentak, meneriaki, bahkan mencubit si anak, maka tidak heran lah saya.

Meski saya tidak kenal dengan ibu si anak itu, tapi saya yakin bahwa tidak ada ibu waras di dunia ini yang punya keinginan dan sengaja menyakiti darah dagingnya sendiri. Di samping karena kurangnya ilmu dan memiliki inner child yang tak bahagia, penyebab lain seorang ibu menyakiti anaknya (entah dalam bentuk memarahi, membentak, mencubit, dll) adalah karena ibu sedang lelah fisik, hati, jiwa, dan pikirannya.

Karena itulah ibu yang juga manusia biasa sejatinya juga membutuhkan istirahat, refreshing, me time, ganti suasana, teman curhat, maupun bertemu orang lain. Dan di sinilah AYAH HARUS BERPERAN.

Tentu ayah juga lelah dengan semua kesibukan dan ke-stres-an mencari nahkah. Tapi tak usah lah mengukur siapa yang lebih lelah. Cukup dengan sadar dan sekuat tenaga saling membantu, agar baik ayah maupun ibu sama-sama punya kesempatan untuk me-refresh-kan diri. Tak harus dengan cara yang muluk-muluk atau mahal, bisa dengan yang sederhana dan murah seperti ayah mengambil alih sejenak untuk bermain atau mengurus anak-anak, sehingga ibu bisa mandi agar tubuh dan pikiran lebih segar, bisa makan dulu (sebab logika tanpa logistik jadinya anarki hehehe...), bisa sesekali facial, pijat, atau creambath di salon, bisa ikut pengajian agar tambah ilmu dan bisa bertemu orang lain.

Atau sesekali ayah mengajak ibu dan anak-anak naik motor keliling perumahan, makan di luar, jalan-jalan di mall (nggak harus belanja, tapi kalau sambil belanja ya lebih baik hehehe...), dll. Atau bisa juga dengan bersedia mendengarkan curhatan dan cerita ibu seharian itu. Mungkin ibu akan bercerita ini dan itu, ngalor ngidul, dari satu tema lompat ke tema yang lain (maklumlah perempuan memang diberi kapasitas berbicara lebih banyak oleh Allah) tapi cukup dengarkan saja dengan penuh perhatian, maka ibu akan merasa lega.

Intinya adalah agar ibu merasa bahagia lahir dan batinnya. Sebab bila ibu bahagia, maka seisi rumah akan ikut bahagia. Bila ibu bahagia, maka ibu bisa berpikir dan bertindak lebih bijak dan waras, termasuk ketika menghadapi anak-anak. Tapi jika ibu sedih, jenuh, sumpek, jengkel, dan stress maka seisi rumah akan kena dampaknya juga. Termasuk berpotensi menciptakan pelaku bullying.

Dan satu lagi yang menjadi perhatian saya dari cerita ibu itu, yakni kondisi long distance marriage. Tentu kondisi dan kebutuhan setiap keluarga berbeda-beda. Karena sesuatu dan lain hal ayah harus tinggal terpisah dengan ibu dan anak-anak. Tapi tolong diusahakan sungguh-sungguh semaksimaaaal mungkin agar ayah bisa tinggal bersama ibu dan anak-anak. Terutama dengan ibu.

Mungkin ini terdengar agak tabu, tapi kita yang sudah dewasa apalagi sudah berumah tangga sama-sama tahu bahwa kita memiliki satu kebutuhan biologis yang sama pentingnya seperti makan, yakni kebutuhan untuk berhubungan suami-istri. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi dengan baik, maka akan membawa dampak negativ baik bagi suami maupun istri, seperti perasaan tidak tenang, tidak semangat, stress, cenderung mudah marah, dll. Yang juga bisa berdampak pada anak-anak.

Jadi ayah bunda, usahakanlah untuk berkumpul dan tinggal dalam satu rumah, saling menolong, saling support, saling meringankan, saling menyayangi, saling mendoakan, saling mengingatkan agar anak-anak tumbuh utuh dan bahagia jiwa dan raganya. Dan agar rantai bullying itu bisa terputus.


Semoga bermanfaat.