Selasa, 16 Juli 2019

KARENA BUNDA INGIN JADI SAHABATMU


Catatan Pulang Kampung (Capung) 

#Part 1


Sejak dulu saya dan ibu hampir tak pernah ngobrol. Yang ada adalah pembicaraan satu arah, dan mayoritas lebih kepada perintah untuk beres-beres rumah. Meski secara fisik ada, namun ibu tak banyak hadir dalam peristiwa-peristiwa di hidup saya. Saya paham, sebab mengurus empat anak bukanlah hal yang mudah. Apalagi saat itu sarana untuk belajar menjadi orang tua tidaklah sebanyak dan semudah seperti saat ini. Namun barangkali penyebab yang paling mendasar ialah karena ibu memendam kekecewaan yang amat sangat besar pada bapak sebab bapak meminta ibu tinggal di rumah untuk mengurus anak-anak dan melarangnya berkarir di luar, sementara ibu adalah seorang sarjana. Kekecewaan itulah yang sering kali ditumpahkan pada saya dan ketiga saudara saya yang lain. Karena itulah hubungan saya dengan ibu tidak romantis.

Sejak tangisan iin (anak semata wayang saya) pecah ke dunia ini, saya bertekad tidak ingin iin merasakan kesedihan, kesepian dan kehampaan akan sosok ibu seperti yang saya rasakan. Saya tak ingin hatinya terluka karena tumpahan emosi negativ dan kekecewaan saya pada apapun. Saya tidak ingin ia merasa diabaikan dan tidak diterima kehadirannya di dunia ini. Saya ingin dekat lahir batin dengannya. Saya ingin hubungan kami romantis. Saya ingin jadi sahabatnya.

Ternyata tidak mudah...sungguh-sungguh tidak mudah mewujudkannya. Saya masih sering menumpahkan emosi negativ saya padanya meski sebetulnya bukan karena kesalahannya. Saya masih sering takluk pada lelahnya mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari, sehingga saya pun jarang ngobrol dengannya. Lebih banyak pembicaraan satu arah dan saya jarang bertanya padanya. Saya masih sering menganggap sambil lalu apa-apa yang ia ceritakan. Hingga suatu hari ia berkata

“Aku mau ganti bunda aja..”

Deg! Saya langsung menghentikan aktvitas saya saat itu.

“Kenapa kamu mau ganti bunda?”

“Karena bunda suka marah-marah...” jawabnya.

Saya tarik nafas dalam-dalam...dalaaaaaaam sekali.....

“Oh...kamu bisa kok ganti bunda, nanti kalau bunda sudah meninggal ya...”

“Tapi aku nggak mau bunda meninggal, nanti aku kesepian...” ucapnya dengan wajah mau menangis...

“Hehehe...oke sayang...” dalam hati saya juga mau meweeek....

Ya Alloh...mohon ampunan...mohon ampunan....

Percakapan itu membuat saya sadar...saya ini hampir 24 jam bersamanya, kami tinggal di rumah yang sama, tapi barangkali kami tidak dekat dan hubungan kami juga tidak romantis....

Alhamdulillah bertepatan dengan libur sekolah kemarin Alloh takdirkan saya dan iin bisa pergi ke Malang berdua. Sebetulnya ini agak modal nekat, sebab biasanya kami pergi bertiga dengan ayahnya. Dan kalau pergi jauh macam pulang kampung ke Malang, biasanya ayahnya iin lah yang mengurus tiket pulang pergi, bawa-bawa koper atau apapun yang berat-berat, dan memimpin perjalanan kami. Tapi ini berdua saja. Sehingga tugas saya lebih berat dari biasanya. Tangan kanan menggandeng iin, tangan kiri menggandeng koper besar, dan punggung menggendong ransel besar berisi oleh-oleh dan perbekalan kami. Lebih berat dan lebih repot. Tapi dalam hati saya sudah bertekad untuk menikmati perjalanan berdua ini dan menjadikannya momen untuk memperbaiki dan mendekatkan hubungan kami. Jadi, Bismillah!

Qodarullah, perjalanan kami diawali oleh sebuah kejadian yang berhasil membuat kami tertawa. Jadi ceritanya, seharusnya kami di eksekutif satu. Tapi karena saya salah memperkirakan urutan gerbong dan karena panik hanya pergi berdua sambil membawa banyak barang, kami malah mengantri masuk ke ekonomi satu. Ketika sudah hampir masuk pintu, barulah saya sadar kalau kami salah gerbong. Padahal eksekutif satu letaknya jauh di dekat lokomotif.

“Astaghfirullaaah...kita salah gerbong, nak!!!”

Alhasil saya suruh iin berlari ke arah eksekutif satu, sementara saya juga berlari di belakangnya sambil menarik koper besar.

“Lari terus yaaa...sampai bunda bilang stop!”

“Di gerbong sini ya, bun?”

“Bukan! Masih depan lagi....”

Kami memang harus cepat, sebab kereta sudah akan berangkat. Alhamdulillaaah akhirnya kami sampai juga di gerbong eksekutiv satu. Sambil duduk di bangku nomer 1A 1B dan dengan nafas tersengal-sengal kami tertawa.

“Bunda siih...salah gerbong...”

“Hahaha..iya iya...maaf yaa...berdoa dulu yuk”

Bismillah kereta kami melaju menuju kampung halaman saya.

Delapan jam perjalanan memang waktu yang cukup lama. Saat iin sudah mulai bosan melihat pemandangan di jendela dan sudah kenyang makan bekal, akhirnya saya keluarkan senjata pamungkas, yaitu Youtube hehehe...

“Mau nonton apa, bun?” tanya iin

Tiba-tiba terbersit ide.
“Nonton lagunya doraemon yang himawari yuk...yang dulu iin pernah nonton itu..”

“Oh...oke.”

Saya dan iin memang sama-sama suka menonton film doraemon dan sama-sama suka sekali lagu Himawari no Yakusoku. Iin bahkan sampai meneteskan air mata karena terharu saat pertama kali menonton lagu penutup film Stand By Me Doraemon itu. Siapapun yang pernah menonton Doraemon atau membaca komiknya pasti tahu bahwa Nobita dan Doraemon adalah sahabat yang sangat dekat. Bahkan saking dekatnya, seringkali Nobita justru bercerita dan meminta bantuan bukan pada ayah ibunya, tetapi pada Doraemon. Namun tidak jarang pula mereka bertengkar, apalagi saat Nobita menyalahgunakan alat yang dipinjami Doraemon. Meski demikian mereka berdua tetap saling menyayangi bahkan sulit sekali bagi mereka untuk berpisah ketika tugas Doraemon untuk mendampingi Nobita telah usai dan ia harus kembali ke masa depan seperti yang dikisahkan di film Stand By Me Doraemon.

Sambil menonton video clip nya di Youtube, saya jadi terpikir. Bersahabat bukan berarti tak ada konflik. Bersahabat bukan berarti tak pernah bertengkar. Bersahabat bukan berarti tak pernah marah. Dan bersahabat bukan berarti tanpa masalah. Sebab konflik, pertengkaran dan masalah adalah sunatullah yang pasti ada selama kita bernyawa dan hidup bersama orang lain. Yang terpenting adalah tindak lanjutnya untuk segera bertaubat, meminta maaf, dan memperbaikinya. Sehingga konflik, pertengkaran, dan masalah bisa membuat persahabatan menjadi lebih erat.

Sambil memandang iin yang tertidur pulas di kursinya setelah menonton lagu dari film favorit kami itu, dalam hati saya berkata “Izinkan bunda memperbaikinya ya nak, karena bunda ingin jadi sahabatmu...”.

PS:
Inilah sepenggal cerita dari pengalaman pulang kampung saya ketika liburan sekolah kemarin. InsyaaAlloh akan ada cerita selanjutnya.
Bagaimana dengan Anda, apakah juga ingin menjadi sahabatnya putra putri Anda?  



Rabu, 12 Juni 2019

GADGET YANG MENGGANGGU KEHANGATAN MUDIK


Lebaran tahun ini Alhamdulillah kami bertiga berkesempatan untuk silaturahim dengan keluarga dan saudara-saudara di Solo. Karena jarak yang tidak terlalu jauh dari Jogja, saya dan suami memutuskan untuk pergi dan pulang naik Kereta Api Prameks saja. Murah meriah. Murah karena harga tiketnya hanya Rp 8.000,- per orang. Meriah karena kita bisa naik ke dalam kereta dan diantar sampai kota tujuan, tapi belum tentu dapat tempat duduk hehehe...

Dalam perjalanan menuju Solo, atas kebaikan hati seorang kakak yang masih remaja, Alhamdulillah iin (anak kami) mendapat tempat duduk. Dia duduk sekursi bertiga dengan kakak baik hati itu dan adiknya. Sementara saya dan suami berdiri hingga Stasiun Purwosari (satu stasiun sebelum Solo Balapan, stasiun tujuan kami). Lumayan juga, hampir satu jam kami berdiri, tapi harus tetap dinikmati, sebab kan jarang-jarang juga kami berdiri di kereta.

Perjalanan pulang kembali ke Jogja juga tidak kalah seru. Sebetulnya hotel tempat kami menginap di Solo berseberangan dengan Stasiun Purwosari, tapi kami putuskan untuk naik Prameks dari Stasiun Solo Balapan agar bisa kebagian tempat duduk. Ternyata orang lain pun sepertinya berpikiran sama. Banyak sekali orang yang juga hendak kembali ke Jogja dengan Kereta Prameks yang sama dengan kami dari Stasiun Solo Balapan. Alhasil sambil memanggul ransel, membawa koper, menenteng kardus oleh-oleh, dan menggandeng iin, saya dan suami harus berdesakan dengan penumpang lain di pintu Prameks agar bisa dapat tempat duduk. Alhamdulillah saya dan iin bisa dapat satu tempat duduk sehingga iin harus saya pangku. Sementara suami kembali harus berdiri karena tak ada lagi tempat duduk yang kosong.

Nah di perjalanan pulang inilah ada hal yang menarik perhatian saya sekaligus memprihatinkan. Di deretan bangku sebelah kami, duduklah sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan tiga anaknya. Anak yang sulung mungkin sudah SMP duduk satu kursi dengan saya. Sementara dua anak yang lain yang mungkin masih SD duduk di deretan sebelah berhadapan dengan orang tua mereka. Meskipun ayah, ibu, dan dua anak yang kira-kira masih SD itu duduk berdekatan dan berhadapan-hadapan, nyatanya tak banyak yang mereka bicarakan. Mereka justru lebih asyik dengan gadget masing-masing. Sesekali mungkin mereka bosan, sehingga gadget dimasukkan, lalu kedua anak yang masih SD itu mengajukan beberapa pertanyaan pada ibunya, seperti kenapa di jendela ada tulisan kaca boleh dipecah, ini sudah sampai di mana, dll. Tapi itu tak lama, sebab setelah itu mereka kembali mengeluarkan gadget masing-masing.

Nah yang paling membuat saya tak habis pikir adalah si ayah. Sebab sejak kereta belum jalan hingga kami turun di Stasiun Maguwo Jogja, si ayah tetap bergeming dengan gadget-nya. Sepertinya sedang asyik bermain game, karena gadget-nya dipasangi alat tambahan seperti joystick game lengkap dengan earphone yang tak pernah lepas dari telinganya. Sepanjang perjalanan itu nyaris si ayah tak bercakap-cakap dengan anggota keluarga yang lain. Sesekali si ibu mengajaknya bicara bahkan bercanda, namun sepertinya si ayah tidak dengar. Lalu tersiratlah kekecewaan di wajah si ibu dan kembali ia mengeluarkan gadgetnya.

Sungguh sangat miris melihatnya. Sebab sebetulnya perjalanan di kereta seperti itu bisa dimanfaatkan untuk menjalin kedekatan dan menumbuhkan kehangatan dengan keluarga. Barangkali di hari-hari biasa, kita sudah terlalu dilelahkan oleh aktivitas masing-masing, disibukkan pula oleh rutinitas yang itu-itu saja. Dan yang paling sering terjadi di era digital ini, perhatian serta pikiran bahkan perasaan kita kerap kali diambil alih oleh gadget kita sendiri-sendiri. Jangan sampai gadget kembali menjauhkan kita di momen mudik ini, momen di mana seharusnya kita menghangatkan kembali yang selama ini terasa dingin dan kaku, serta mendekatkan kembali yang selama ini jauh walaupun secara fisik dekat.

Sampai kami turun lebih dulu di Stasiun Maguwo Jogja, si ayah masih tetap khusyuk dengan gadget dan gamenya. Semoga setelah itu si ayah menghentikan game-nya, mematikan gadgetnya, memasukkannya ke dalam saku atau tas, lalu bercengkrama dengan istri dan anak-anaknya. Agar suasana berubah jadi hangat, agar perjalanan tak terasa hambar-hambar saja, dan agar terbentuk kenangan indah di benak anak-anaknya. Sebab sejatinya mengasuh itu adalah menciptakan kebiasaan dan membentuk kenangan.

-Self reminder-
Tiket Prameks kami PP Jogja-Solo


Selasa, 02 April 2019

WAHAI BAPAK, JADILAH CINTA PERTAMA BAGI ANAK PEREMPUAN ANDA


Gegara di debat capres kemarin tersebut kata DILAN, saya jadi teringat sebuah tulisan menarik di facebook. Bukan...bukan tentang debatnya ataupun pemilunya. Melainkan postingan tentang keromantisan dalam film Dilan yang kemarin booming sekali di negeri ini.

Pada intinya, menurut si penulis, keromantisan yang dilakukan oleh Dilan (termasuk ucapan-ucapannya pada Milea) sungguh adalah receh bagi emak-emak, apalagi bagi para emak yang anaknya sudah lebih dari satu. Bagi si penulis, romantis itu bukan berupa kata-kata puitis, tapi romantis itu adalah ketika suami mencuci semua piring kotor yang menumpuk sampai-sampai wastafel dan busa sabut cucinya pun ia bersihkan juga. Atau ketika suami bersedia membelikan pembalut untuk istrinya dan tidak malu ketika berhadapan dengan petugas kasirnya. Dan para netizen yang berkomentar di bawah tulisan itu pun 100 persen sepakat bin setuju dengan pendapat si penulis.  

Saya pribadi juga setuju dengan tulisan itu. Kalau suatu hari tetiba suami saya berkata pada saya yang adalah emak beranak satu ini “Bun...kalau ayah jadi presiden yang harus mencintai seluruh rakyatnya, aduh, maaf, ayah pasti tidak bisa karena ayah cuma suka bunda..” maka sudah pasti saya akan bertanya sambil menempelkan tangan saya di keningnya “Ayah lagi nggak enak badan ya?????”

Hehehe...

Memang, bagi kita yang sudah menikah apalagi sudah belasan bahkan puluhan tahun, definisi romantis kita sangat mungkin berbeda dengan definisi romantis bagi anak-anak muda yang belum berumah tangga apalagi yang baru beranjak remaja dan baru mulai merasakan manisnya jatuh cinta.

Nah, pertanyaannya....
Mengapa gombalan Dilan seperti “Jangan rindu. Berat. Kamu nggak akan kuat. Biar aku saja...” dll mampu membuat gadis-gadis yang mendengarnya langsung histeris, klepek-klepek dan meleleh hatinya, sementara bagi emak-emak yang sudah berumah tangga dan beranak bahkan lebih dari satu justru terdengar geli di telinga atau bikin keselek di tenggorokan?

Ya. Sebab kita yang sudah menjadi emak-emak ini tahu bahwa cinta sejati tak cukup hanya berupa rangkaian kata-kata manis belaka. Kata-kata manis memang perlu juga dalam kehidupan berumahtangga, seperti ucapan “I love you”, terima kasih, panggilan “sayang”, dll. Tapi apalah artinya kata-kata manis tersebut bila tidak dibarengi dengan tindakan nyata. Kita yang sudah emak-emak ini pun tahu bahwa cinta yang sesungguhnya bukan terletak pada kalimat-kalimat romantis saja, namun cinta yang tetap saling diberikan meski sudah ditempa dengan berbagai cobaan, berbagai rintangan, berbagai hal-hal di luar ekspektasi dan harapan, serta berbagai ujian yang nggak enak di hati.

Jadi para emak (dan tentu juga para bapak), bagaimana caranya agar anak-anak perempuan kita tidak terjebak apalagi tertipu oleh gombalan-gombalan romantis dari “Dilan”, baik Dilan-Dilan di dunia nyata maupun Dilan-Dilan di dunia maya?

Nah di sinilah peran penting para bapak.

Wahai bapak-bapak, dekatlah dengan anak perempuan Anda, baik secara fisik dan terlebih lagi secara hati. Tentu saja kedekatan ini bukan sesuatu yang ujug-ujug alias tiba-tiba ada, namun harus mulai dijalin sediniiiiii mungkin, bahkan sejak anak perempuan Anda masih berada di dalam perut ibunya.
Bagaimana caranya?

Sering-seringlah mengajak anak perempuan Anda ngobrol. Seringlah bertanya padanya. Mulai saja dengan pertanyaan sederhana bahkan remeh temeh. Lalu dengarkan jawaban, celotehan dan ceritanya.

Tempelkan fisik Anda dengan fisiknya. Gendong, cium, pangku, dan peluk ia dengan segenap jiwa raga Anda.

Bermainlah dengannya. Tak masalah bila permainannya permainan perempuan. Biarkan ia menjadi princess dan Anda jadi kudanya atau jadi pangerannya. Atau biarkan ia bermain masak-masakan dan Anda yang mencicipinya. Atau biarkan ia bermain boneka, dan pura-pura bonekanya sakit lalu Anda jadi dokternya, memeriksa bonekanya dan membuatkan resep.

Bacakan mereka cerita sebelum tidur. Atau ceritakan serunya masa kecil Anda.

Jangan segan memujinya cantik atau memanggilnya sayang.  

Dan juga antar ia berangkat ke sekolah. Buatlah perjalanan Anda dengannya dari rumah menjadi penyemangat baginya untuk menjalani harinya di sekolah.

Intinya Bapak, jadilah cinta pertama bagi anak perempuan Anda! Meski mungkin waktu Anda tak banyak karena harus berjuang mencari nafkah, tapi tetap sempatkanlah! Buat waktu yang sedikit itu menjadi sangat-sangat berkesan untuknya.

Agar apa?

Agar kelak bila ada “Dilan” yang datang mendekatinya, menyebutnya cantik, memanggilnya sayang, bahkan memberikan gombalan-gombalan yang mendayu-dayu, anak perempuan Anda tak mudah terbujuk dan terayu apalagi sampai menyerahkan kehormatannya pada laki-laki itu, sebab dalam hatinya sudah terlebih dulu ada sosok laki-laki yang hangat dan penyayang, baik dengan kata-kata maupun dengan tindakan nyata, yaitu BAPAKNYA.

Semoga bermanfaat.



Sabtu, 02 Maret 2019

DARI SIAPA ANAK BELAJAR BERBOHONG?


Ayah bunda yang baik, adakah di antara Anda yang pernah dibohongi???

Barangkali banyak yang akan menjawab dengan lantang “Adaaaaaa!!!” Apalagi kalau dibohonginya baru-baru saja, masih segar di ingatan dan rasa sakitnya masih periiiih di hati.

Suka nggak ayah bunda dibohongi?

Kemungkinan besar Anda akan menjawab “Ya jelas enggakkk laaaaaaaah...”

Nah kalau sekarang pertanyaannya dibalik (dan harus dijawab dengan jujur yaa) adakah di antara ayah bunda yang pernah membohongi?

Mungkin akan banyak juga yang menjawab “Adaaaa...” tapi dengan suara liriiiiiih sekaliiiiii bahkan di dalam hati, apalagi kalau korbannya sedang ada di sebelah Anda hehehe...

Nah, kalau memang tidak suka dibohongi bahkan pernah merasakan pahit dan perihnya dibohongi, lantas mengapa kita berbohong atau membohongi orang lain? Apalagi sampai menyebarluaskannya pada orang banyak. Misalnya saja mengaku kecelakaan menabrak tiang listrik sampai bengkak sebesar bakpao, atau mengaku dipukuli orang ternyata baru saja menjalani treatment wajah, atau menyebutkan data-data yang jelas-jelas tidak sesuai fakta di sebuah forum debat yang ditonton jutaan orang secara live?

Mengapa kita dengan mudahnya bisa berbohong padahal tidak suka dibohongi?

Hemm....saya jadi teringat beberapa waktu lalu seorang anak tetangga sedang bermain dengan anak saya di rumah. Lalu anak itu berkata pada anak saya “Eh kamu jangan makan permen karet lho!” Anak saya pun bertanya mengapa dan anak itu menjawab dengan polosnya “Soalnya kata kakekku permen karet itu bikinnya diinjek-injek..” Saya yang saat itu sedang minum di dekat mereka hampir saja tersedak. Di lain waktu ia berkata lagi pada anak saya “Eh kamu kalau sudah malam jangan keluar rumah lho, kata kakekku nanti perutnya digeli-geli sama setan...” Apaaaaa??? (tepok jidat)

Pernah juga saya melihat seorang anak merengek pada ibunya karena minta diajak berenang ke sebuah tempat berenang. Karena sedang tidak memungkinkan untuk berenang saat itu, si ibu lalu mengambil HP dan berpura-pura menelepon tempat berenang itu “Halo pak...sudah tutup ya pak kolam renangnya. O ya udah makasi ya pak.” Lalu ibu itu berkata pada anaknya “Tuh kan mama sudah telpon kolam renangnya sudah tutup. Kapan-kapan saja kita ke sana...” Padahal jelas tempat berenangnya masih buka.

Ada pula seorang nenek yang suatu pagi berusaha menenangkan cucunya yang sedang menangis karena ditinggal ibunya berangkat kerja “Bunda cuma ke tambal ban di depan situ kok bentaaaar, soalnya motornya harus diperbaiki...bentar lagi bunda balik, sudah cup cup cup nggak usah nangis...” Padahal si ibu bukan pergi ke tambal ban dan baru akan pulang kerja sore harinya.

Atau seorang ayah sedang asyik berselancar di dunia maya dengan smartphone-nya lalu datanglah anaknya yang merajuk ingin pinjam untuk nonton youtube “Nggak bisa...nggak bisa...batrey hp ayah sudah mau habis...” Tapi si anak tetap merengek bahkan makin kencang. Lalu si ayah berketa lagi “Kuota ayah sudah habis. Nggak bisa dipakai nonton youtube.” Padahal jelas batrey dan kuotanya masih ada.

Pun masih jelas sekali di ingatan saya, dulu saat saya masih duduk di bangku TK, guru saya pernah berkata “Kalau sudah besar itu nggak boleh nen (menyusu ke ibu) lagi ya. Nanti kalo masih nen, lidahmu akan bolong-bolong kayak habis di makan ulat”. Kenapa perkataan guru saya itu masih saya ingat terus sampai sekarang, sebab ketika beliau berkata seperti itu, saya langsung membayangkan lidah yang bolong-bolong seperti daun yang di makan ulat, dan itu sukses membuat saya geli bin takut. Sekarang saya hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala saja kalau ingat kata-kata guru saya itu.

Nah ayah bunda, tanpa kita sadari, ternyata sejak kecil seorang anak sudah belajar untuk berbohong. Dari siapa mereka belajar? Justru dari orang-orang terdekat di sekitarnya yang SEMESTINYA dan SEHARUSNYA mengajarinya untuk menjadi baik, termasuk mengajarkan tentang kejujuran.

Saya percaya, tidak ada orang tua, keluarga, maupun guru manapun yang secara sadar dan sengaja berniat mengajari anak atau cucu atau muridnya untuk berbohong. Dan ketidaksengajaan serta ke-tidak-ada-niatan itu biasanya mereka lakukan karena alasan yang baik bahkan mulia. Misalnya kakek teman main anak saya itu, saya yakin beliau berkata pada cucunya bahwa permen karet itu proses pembuatannya dengan cara diinjak-injak pakai kaki adalah agar cucunya tidak kebanyakan makan permen yang bisa membuatnya batuk atau sakit gigi, dan memang teman main anak saya itu suka sekali makan permen. Pun dengan guru TK saya itu, saya yakin beliau tentu tahu bahwa menyusu sampai kapan pun tak akan pernah membuat lidah anak menjadi bolong. Saya yakin beliau berkata seperti itu agar saya dan teman-teman saya yang saat itu sudah berusia 5 tahun tidak lagi menyusu pada ibu kami dan bisa lebih mandiri. Sayangnya maksud-maksud dan tujuan-tujuan yang baik nan mulia itu tidak diikuti oleh cara yang baik serta bijak pula.

Mengapa tidak mengatakan yang sebenarnya saja pada anak?

“Cucuku sayang, jangan makan permen lagi ya, nanti kalau kebanyakan bisa sakit gigimu...”

“Maaf ya nak, ibu nggak bisa mengantarmu berenang. InsyaaAlloh kita berenang lain waktu ya...”

“Cup cup cup...jangan menangis cucuku...bundamu berangkat kerja dulu. Nanti sore bunda pulang. Yuk kita main dulu sambil menunggu bunda pulang...”

“Bentar ya anakku sayang, ayah sedang pakai HP nya. Nanti kalau ayah sudah selesai, gantian kamu boleh pakai HP ayah untuk nonton Youtube...tapi nontonnya bareng ayah ya hehehe...”

“Murid-murid...kalian itu sudah besar dan hebat, sudah bisa makan dan minum sendiri. Jadi sudah tidak perlu lagi menyusu ke ibu ya. Oke?”

Mudah kan???

Tapi nanti cucu atau anak akan menangis, merajuk, merengek bahkan sampai gulung-gulung dan koprol di lantai, dsb....

Ya nggak apa-apa. Itu wajar, sebab itulah cara mereka (yang masih belum dewasa) merespon atau bereaksi terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan yang mereka inginkan. Berikan mereka kesempatan untuk menyalurkan respon atau reaksi mereka itu, selama respon atau reaksinya tidak menyakiti diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar. Bukankah dalam hidup ini sejatinya kita pun pernah bahkan mungkin sering mendapakan sesuatu yang ternyata tidak sesuai dengan yang kita inginkan atau tidak sesuai dengan ekspektasi kita? Lalu kita pun merasa kecewa, sedih, patah semangat atau marah. Tak apa, itu reaksi emosi yang wajar sebagai bentuk respon atas kejadian seperti itu.

Lagipula suatu hari nanti dalam perjalanan usianya, anak-anak akan tahu bahwa dulu dia dibohongi. Ingat, anak adalah peniru paling ulung, sehingga tidak menutup kemungkinan ia akan berbohong pula. Dan bila pembohongan yang dilakukan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya itu dilakukan berulang-ulang maka bisa jadi anak akan berpersepsi bahwa berbohong adalah hal yang biasa alias tak masalah untuk dilakukan.

Jadi biarlah sedari dini anak-anak kita belajar menghadapi kenyataan dan belajar tentang kejujuran agar mereka tidak tumbuh menjadi manusia yang mudah berdusta.

-Self Reminder-
Semoga bermanfaat

Selasa, 15 Januari 2019

JANGAN SAMPAI KITA SENDIRI LAH YANG MEMENDAM POTENSI ANAK



Salah satu cara paling mudah untuk belajar tentang parenting alias pengasuhan ialah dengan melihat kembali dan mempelajari bagaimana orang tua kita dulu mengasuh kita. Hasilnya? Ya adalah diri kita sekarang ini.

Dulu saat masih menjadi penyiar radio, saya pernah ditunjuk oleh produser saya untuk memandu sebuah talkshow spesial dalam rangka hari kartini. Talkshow itu mengundang 2 narasumber perempuan hebat. Yang satu istri seorang profesor sekaligus pengusaha sukses pemilik sebuah perguruan tinggi di Jogja, dan yang satunya lagi istri seorang tokoh muda Jogja (yang saat tulisan ini dibuat) menjabat sebagai anggota DPR RI.

Meski awalnya saya agak tegang, alhamdulillah talkshow itu bisa mengalir santai, ada canda tawa meski usia kami berbeda-beda, dan ada juga sesi yang mengharu biru. Saya sungguh bersyukur mendapat kesempatan memandu talkshow tersebut, sebab banyak pelajaran berharga yang bisa saya petik dari 2 narasumber saya itu. 

Namun yang membuat talkshow itu meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi saya ialah komentar teman-teman kantor selepas talkshow, terutama manajer saya. Beliau (yang sangat sangat jarang sekali memberikan apresiasi positiv) berkata pada saya

“Bagus zur...kamu bisa nge-bland sama narasumbernya....” ucapnya sambil tersenyum dan memberi jempol.

Waahhhhhh...sungguh sebuah penghargaan yang tak bisa saya lupakan. Mungkin terkesan lebay ya? Namun memang itulah yang saya rasakan. Saya jadi berpikir, mengapa ucapan manajer saya itu bisa begitu berkesan, bahkan membuat saya terharu setiap kali mengingatnya. Rupanya pujian itu membuat saya merasa dihargai hingga saya TERSADAR bahwa ternyata saya ini punya kemampuan yang lumayan juga.

Lha, kok BARU sadar???

Ya, saya pun bertanya-tanya juga mengapa di usia saya yang waktu itu sudah kepala dua, saya baru meyadari bahwa saya ini punya kemampuan. Dan setelah merenung plus melihat kembali ke belakang, ternyata ada dua penyebab utamanya.

Pertama, rupanya sejak dulu saya amat amat sangat sangat jaraaaaang sekaliiiiiii mendapat apresiasi positiv dari kedua orang tua saya atas apa-apa yang pernah saya capai dalam perjalanan hidup. Saat saya berhasil memenangkan lomba-lomba tujuh belasan, saat saya bisa mendapat nilai ulangan terbaik di kelas, saat saya berhasil mendapat rangking satu, saat saya diterima di SMP dan SMA favorit, pun saat saya diterima di perguruan tinggi negeri ternama di surabaya tanpa harus ikut SPMB, dan momen-momen keberhasilan lainnya, tak ada sepatah katapun yang terucap dari bapak dan ibu kepada saya sebagai bentuk penghargaan. Mungkin mereka mengungkapkannya dalam hati, atau dalam bentuk sujud syukur ketika sholat atau mengadakan syukuran dengan mengundang anak yatim, dsb. Namun tak ada satupun yang diungkapkan langsung kepada saya, baik dalam bentuk kata-kata, bahasa tubuh, ekspresi wajah, apalagi hadiah. Hingga akhirnya saya pun TERLAMBAT menyadari bahwa saya ini sebetulnya punya kemampuan.

Kedua, adalah karena gaya pengasuhan populer yang saya dapatkan sejak kecil seperti dicap, dibanding-bandingkan, diremehkan, diabaikan, dll yang membuat saya merasa tidak berharga, tidak diterima, tidak memiliki kelebihan apa-apa, dan tidak memiliki konsep diri yang positiv.

Nah ayah bunda yang baik,
Belajar dari pengalaman saya itu, tentu tak ada satupun dari kita yang ingin anaknya bernasib sama seperti saya, terlambat menyadari bahwa dirinya berharga dengan potensi-potensinya yang luar biasa. Sehingga ayah bunda, sebelum terlambat, yuk lihat kembali bagaimana kita mengasuh anak-anak kita selama ini. 

Mari mulai membiasakan diri untuk memberikan apresiasi positiv pada apa-apa yang bisa anak kita lakukan, pada niat baiknya, pada usaha kerasnya, pada kesungguhannya, pada ketekunannya, pada prosesnya meski mungkin hasilnya masih jauh dari sempurna di mata kita. 

Jangan hanya dibatin! Tapi ucapkan apresiasi itu! Dahulukan dengan memuji Allah sebagai bentuk syukur, baru berikan pujian padanya. Pujian yang proporsional (tidak berlebihan) dan tulus dari hati terdalam.

Lihat juga bagaimana kita bicara kepada anak kita selama ini. Apakah bicara kita terlalu banyak memerintah tanpa jeda, tanpa mendengarkan perasaannya, tanpa membaca bahasa tubuhnya, serba tergesa-gesa, lebih sering menyalahkan dari pada melihat sisi positiv yang dilakukannya, kerap meremehkan kemampuannya, mencap dengan cap-cap negativ, membandingkannya dengan yang lain padahal jelas setiap anak adalah unik, dsb... Bila iya, segera mohon ampun pada Allah dan minta maaf pada anak lalu perbaiki, agar anak merasa bahwa dirinya diterima oleh kedua orang tuanya apa adanya dan dihargai usahanya. Percayalah ayah bunda, bila mereka merasa diterima, dihargai, dan diapresiasi maka mereka akan berusaha untuk melakukan lebih dan lebih baik lagi bahkan tanpa diminta.

Last but not least, PEKA-lah. Perhatikan hal apa yang paling menonjol dari anak kita, meski mungkin tampak sederhana bahkan remeh. Bisa jadi di situlah potensi unggulnya. Asah terus agar ia menjadi spesialis atau ahlinya, dan arahkan pada kebaikan. Saya masih ingat betul, salah satu presenter favorit saya pernah bercerita bahwa dirinya sejak kecil sangat suka sekali berbicara dan melucu. Bahkan saking seringnya bicara dan melucu di kelas, orang tuanya sampai dipanggil ke sekolah sebab ia sering membuat kelas menjadi ramai. Ternyata disitulah talentanya, hingga ia sukses menjadi penyiar radio dan presenter televisi yang seakan tak pernah kehabisan kata untuk bicara dan bercanda.

Jadi ayah bunda....anak itu ibarat kertas putih. Kita lah yang punya kewajiban utama untuk melukisnya dengan lukisan yang baik, agar ia tumbuh menjadi pribadi yang siap bermanfaat bagi alam semesta dengan potensinya.

-Self reminder-

Meski belum berhasil jadi juara, saya selalu bilang pada iin "MasyaAlloh...gambarmu bagus sekali, sayang"

Rabu, 26 Desember 2018

AYAH BUNDA, APAKAH KITA MENGENALI ANAK KITA SENDIRI?



Sebuah pertanyaan super penting yang patut kita tanyakan pada diri kita masing-masing. Mumpung sedang berada di penghujung tahun dan hendak berganti tahun yang baru. Meski sebetulnya tak harus menunggu pergantian tahun.

Mengapa saya sebut super penting?

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menonton sebuah film bertajuk “SEARCHING”. Bagi Anda yang belum menontonnya, izinkanlah saya bercerita sedikit tentang film produksi Bazelevs Company, Screen Gems, dan Stage 6 Films ini tanpa membocorkan ending ceritanya yang mengejutkan agar Anda tetap penasaran dan akhirnya memutuskan untuk menontonnya juga hehehe....

Film bergenre thriller yang disutradarai oleh Aneesh Chaganty ini berkisah tentang seorang ayah bernama David Kim yang tengah mencari putrinya bernama Margot yang tiba-tiba menghilang.

Awalnya David hidup bahagia bersama istrinya (Pam) dan Margot. Mereka rajin sekali merekam moment-moment bahagia, terutama sejak Margot lahir dan melengkapi kehidupan mereka. Namun suasana mulai berubah ketika Pam dinyatakan mengidap kanker. Meski sempat berjuang bersama, akhirnya Pam meninggal dunia. Dan mulai lah sejak saat itu hanya ada David dan Margot.

Meski tinggal serumah, David dan Margot lebih sering berkomunikasi via smartphone, baik chat maupun video call. David merasa semua baik-baik saja. Hingga suatu hari David menelpon Margot via video call. Margot mengatakan bahwa ia sedang berada di rumah salah satu temannya untuk belajar biologi bersama. Margot berjanji akan pulang meski larut malam. Ternyata keeseokan paginya Margot tak ada di rumah. David mencoba menelpon Margot, namun selalu masuk ke kotak pesan. Ia terus mengirim pesan teks pada Margot, namun pesan-pesannya tak kunjung dibalas. Mulai lah David merasa khawatir.

Kekhawatiran David bertambah, manakala ia menemukan bahwa Margot yang harusnya saat itu sedang les piano, ternyata ia tak ada di tempat les dan bahkan gurunya memberi tahu David bahwa Margot sudah berhenti les sejak enam bulan yang lalu! David sungguh terkejut karena ia tidak tahu manahu akan hal ini, apalagi ia masih terus memberikan uang les piano pada Margot.

Karena tak kunjung mendapat kabar dari Margot, David memutuskan untuk menghubungi polisi. Polisi pun membantu menemukan Margot melalui detektiv Rosemary Vick.

Detektiv Vick meminta David untuk mulai mengumpulkan informasi tentang keberadaan Margot melalui teman-temannya. Ternyata David baru sadar bahwa ia sama sekali tidak tahu siapa teman-teman Margot! Syukurlah Margot meninggalkan laptopnya di dapur dan David pun mulai menelusuri teman-teman Margot melalui laptop Margot dan akun media sosialnya. Dimulai dari facebook Margot, tapi David tidak tahu apa password akun facebook Margot. Dan setelah berusaha keras, akhirnya David bisa masuk ke dalam facebook Margot dan mulai menghubungi teman-temannya.

Selama masa pencarian, dengan dibantu polisi, fakta demi fakta tentang Margot  tak henti-hentinya membuat David terkejut. Melalui detektiv Vick, David mendapat informasi bahwa pada malam di mana Margot berjanji akan pulang selepas kerja kelompok biologi, rupanya Margot justru berkendara ke luar kota. Tak hanya itu, polisi bahkan menemukan bahwa uang piano yang selama ini diberikan oleh David justru disimpan oleh Margot di bank lalu Margot mentransfer uang itu ke sebuah rekening yang ternyata juga milik Margot sendiri. Semacam alur yang biasa terjadi pada praktek pencucian uang dan biasa digunakan juga oleh para pemakai narkoba.

Hari demi hari berlalu. Kejadian hilangnya Margot pun menjadi viral di dunia maya dengan berbagai macam tagar. Beragam komentar dari netizen mengalir, mulai dari dukungan, ungkapan turut berduka hingga menyalahkan David yang tidak bisa melindungi Margot bahkan ada juga yang beranggapan bahwa David menculik putrinya sendiri.

Di tengah keputusasaan karena tak kunjung mendapat titik cerah dari keberadaan Margot, David berkata pada Detektiv Vick:

I don’t know her...I don’t know my daughter....

Bagi saya, pernyataan David ini adalah titik penting dari film ini sekaligus alarm bagi kita para orang tua.

Apakah kita sungguh mengenali anak-anak kita?

Meski mereka buah dari sperma dan sel telur kita, lahir dari rahim kita, sehari-hari bersama kita, tinggal di rumah yang sama dengan kita, dll...apakah kita sungguh mengenali mereka? Tentu hanya kita sendiri yang bisa menjawabnya....dengan jujur.

Suatu hari seorang ibu dibuat terkejut sebab pagi-pagi ia mendapati putranya tergeletak di teras rumah dan ketika ibu itu mencoba membangunkannya, putranya malah muntah-muntah. Rupanya putranya mabuk setelah semalam dugem. Dan ternyata ibu itu tidak pernah tahu kalau putranya kerap kali dugem apalagi sampai mabuk.

Di lain kesempatan, seorang ibu lain bercerita dengan penuh kebanggan bahwa anak laki-lakinya ketika TK dulu sudah hafal banyak surat pendek bahkan seringkali jadi imam ketika sholat bersama teman-teman TK nya. Dan dengan penuh keyakinan pula si ibu berkata pada saudara-saudaranya bahwa sudah tertanam ketakwaan pada diri anak laki-lakinya itu sejak kecil. Sementara si ibu tidak pernah tahu bahwa kini ketika sudah dewasa, anak laki-lakinya itu justru malas sekali membaca Al Quran, sering menunda-nunda sholat, bahkan pernah mengkhianati istrinya.

Beberapa waktu yang lalu pun seorang artis senior tanah air dibuat terkejut bukan kepalang ketika polisi menangkap anak dan saudara-saudaranya sedang menikmati narkoba bersama-sama. Sementara selama ini yang ia tahu adalah anaknya baik-baik saja.

Astaghfirullahaladzim......

Ayah bunda yang baik, kita ini memang bukan cctv yang bisa memantau anak kita 24 jam, dan sungguh memang yang paling mengenali anak kita hanyalah dirinya sendiri dan Tuhan.

Akan tetapi ayah bunda, bagaimana pun juga kita ini adalah orang tua dari anak-anak kita. Kita lah yang akan dihisab pertama kali alias paling dimintai pertanggungjawaban tentang anak kita oleh Allah SWT kelak. Sehingga kita memang patut bertanya pada diri kita masing-masing, apakah saya sungguh kenal pada anak saya sendiri?

Apalagi di era teknologi yang kian pesat seperti sekarang, smartphone dan internet kerap kali menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Gadget beserta beragam aplikasinya macam games, media sosial, portal berita, dll di dalamnya membuat kita tahu bahkan selalu update dengan kejadian-kejadian yang jauh dari kita, namun justru abai pada hal-hal yang ada di dekat kita. Kita menjadi akrab dengan orang-orang yang berada jauh dari kita, tapi kita jarang sekali berkomunikasi bahkan tidak begitu kenal pada orang yang tinggal serumah dengan kita. Bisa jadi kita pun seperti David, tidak tahu password media sosial anak kita, tidak kenal siapa teman-teman dekatnya, tidak tahu apa aktivitas mereka, dll. Padahal kita serumah dengan mereka!

Jadi ayah bunda, di momentum penghujung tahun ini, ketimbang kita merayakannya dengan pesta hura-hura dan hingar bingar panggung musik serta terompet dan kembang api, alangkah jauuuuuuh lebih baik bila kita gunakan untuk bermuhasabah dan evaluasi diri, baik sebagai suami, sebagai istri, sebagai pribadi, dll termasuk sebagai orang tua dari anak-anak kita. Ajukan pertanyaan pada diri sendiri dan jawab dengan jujur apa adanya. Sujud dengan sujud terdalam untuk memohon ampunanNya dan Minta pada Nya agar Dia membimbing kita untuk memperbaiki semuanya.

Semoga bermanfaat.