Jumat, 12 Juni 2020

SILENT-TALK


Beberapa waktu lalu saya terlibat dalam sebuah rapat yang agak lucu. Mengapa “agak” lucu? Sebab, rapat itu sebenarnya bukan rapat untuk membahas komedi, melainkan membahas keamanan komplek perumahan setelah salah satu rumahnya kemasukan maling.

Nah, yang membuatnya lucu ialah proses dan peserta rapatnya. Bagaimana tidak, belum satu peserta selesai mengutarakan pendapatnya, sudah dipotong oleh peserta lainnya. Si peserta yang memotong ini belum selesai bicara, sudah dipotong juga oleh peserta yang lain lagi. Begituuuuuuu terus. Sampai-sampai ada momen di mana dua peserta yang duduk bersebelahan berbicara bersamaan kepada forum, padahal yang mereka bicarakan berbeda. Peserta rapat yang lainnya pun melongo. Lah, ini rapat atau paduan suara sebetulnya???

Alhasil pendapat para peserta tidak bisa tersampaikan dengan tuntas dan dimengerti secara utuh. Dan malah membawa kerugian bagi semua peserta, sebab rapat menjadi lama dan muter-muter di tempat.

Hemm...kejadian agak lucu ini menjadi bahan renungan bagi saya. Mungkin semua orang bisa bicara, namun ternyata tak semuanya bisa mendengarkan (menyimak) dengan baik. Padahal Tuhan memberi kita hanya satu mulut, tetapi mata dan telinga masing-masing diberi Nya dua. Berarti sejatinya, kita diperintahkan untuk mendengar dan melihat (menyimak/memperhatikan) dua kali lebih banyak dari pada bicara. Bukan sebaliknya. Agar apa? Agar kita dapat mengambil hikmah, memetik pelajaran, dan memahami dengan utuh apa-apa yang terjadi di sekitar kita, dan ketika tiba giliran kita untuk bicara maka kita akan dapat berbicara (menyampaikan pendapat/berkomentar) dengan tepat.

Lalu mengapa yang kerap terjadi justru sebaliknya? Semangat 45 ketika diri sendiri bicara, tetapi tak mampu bersabar mendengar saat orang lain yang bicara...

Ini karena ayah bunda yang baik, kemampuan mendengarkan dengan utuh alias menyimak ini memang tidak muncul secara tiba-tiba. Sebagaimana kemampuan bicara yang kita pelajari dan latih sejak kecil dulu, mendengarkan/menyimak ini sejatinya juga butuh dipelajari dan dilatih sejak dini.

Caranya?

Ada satu cara yang menarik untuk melatihnya. Cara ini saya dapatkan dari sebuah cerita pendek berjudul “Silent-Talk” karangan Aya Shofia dalam buku “Benih-Benih Kebaikan” terbitan Wonderful Publishing tahun 2019. Singkat cerita, Arkam yang duduk di kelas 3 SD ditegur oleh gurunya saat jam pelajaran bahasa indonesia. Penyebabnya, ia diajak ngobrol terus oleh teman sebangkunya bernama Rio. Lepas ditegur, rupanya Rio masih juga melanjutkan ceritanya pada Arkam tentang game terbaru yang berhasil ia pecahkan rekornya. Sebenarnya Arkam tak terlalu tertarik dengan cerita Rio, dan merasa tidak enak dengan gurunya, karena Rio bercerita saat guru mereka sedang menjelaskan pelajaran.


Cerpen "Slent-Talk" karangan Aya Shofia

Pulang sekolah, Arkam menceritakan kejadian itu pada ibunya. Di situlah lalu ibunya mengajarkan Arkam untuk membuat kesepakatan Silent-Talk dengan Rio. Jadi Arkam dan Rio harus membuat kesepakatan kapan waktunya mereka berdua tidak boleh bicara dan menyimak betul-betul pelajaran dari guru (silent) dan kapan mereka berdua bisa ngobrol dan saling bercerita (talk).

Nah, sejatinya konsep silent-talk ini bisa kita terapkan juga antara kita dengan anak-anak kita. Saat kita harus bicara pada anak-anak kita (talk), minta pada mereka untuk mendengarkan dulu apa yang akan kita sampaikan (silent). Sebaliknya, saat mereka sedang bicara meski masih terbata-bata (talk), giliran kita mendengarkan sampai mereka selesai mengutarakannya (silent). Jangan memotongnya, kecuali bila kita terpaksa, dengan meminta maaf terlebih dulu pada mereka.

Sebagaimana ilmu-ilmu lainnya dalam dunia pengasuhan, maka cara terbaik dalam mengajarkan silent-talk ini kepada anak-anak kita adalah dengan TELADAN. Dan sebagaimana ilmu-ilmu lainnya pula dalam dunia pengasuhan, maka mengajarkan silent-talk ini adalah PROSES, butuh tekad yang bulat, usaha yang kuat, kesabaran yang berlipat, dan doa yang terus dipanjat. Namun demikian, percayalah ayah bunda sekalian, buah dari proses panjang ini akan sangat manis terasa dan menjadi bekal berharga untuk anak-anak kita menjalani kehidupannya.

-Self reminder-
Semoga bermanfaat.




Sabtu, 09 Mei 2020

DI RUMAH SAJA MENGISI JIWA



Salah satu kegiatan yang ampuh mengusir jenuh selama di rumah saja bagi saya ialah membaca buku. Alhamdulillaaah beberapa buku fiksi bisa saya khatamkan. Dan semuanya meninggalkan kesan yang mendalam. Salah satunya ialah buku Si Anak Pintar karangan Tere Liye.

Buku terbitan Republika tahun 2018 ini bercerita tentang masa kecil Pukat (tokoh utama dalam buku ini) seorang anak laki-laki kelas 5 SD beserta Bapak Mamaknya, ketiga saudaranya, dan seluruh penduduk kampungnya di Sumatera.

Di sampul belakang buku setebal 345 halaman ini tertulis kalimat “Dari puluhan buku Tere Liye, serial buku ini adalah mahkotanya”. Setuju. Sebab buku ini (sebagaimana buku karangan Tere Liye lainnya) memberikan banyak pelajaran kehidupan. Termasuk pelajaran tentang parenting. Salah satunya tentang mengisi jiwa anak.

Bagi Anda yang sudah maupun belum membaca buku ini, izinkan saya menceritakan kembali salah satu bab-nya yang berjudul “Untung-Rugi”.


Suatu kali Pukat dan Burlian (adiknya) menemani Mamak mereka berjualan duku di pasar kalangan. Pasar ini dibuka sejak pukul enam pagi selama empat jam saja di sebuah lapangan. Hanya seminggu sekali adanya.

Para pedagangnya menggunakan tikar, terpal, atau alas lainnya lantas sembarang menghamparkan dagangannya. Nah karena panen duku keluarga pukat sangat melimpah dan tak habis-habis meski sudah dimakan sendiri setiap hari dan dibagi-bagikan ke tetangga, maka Mamak memutuskan menjualnya di pasar kalangan.

Datanglah pembeli pertama.

“Buahnya baru, bu?” tanyanya.

“Baru dipetik kemarin.” Mamak mengangguk.

“Satu tumpukan berapa?” Pembeli itu tertarik.

“Lima ribu.”

“Tiga ribu bisa tidak?”

Mamak mengangguk ringan. Pukat terkejut. Langsung hilang rasa ngantuknya pagi itu. Gampang sekali Mamak ditawar? Biasanya pedagang lain keras kepala tidak mau mengalah dan pembelinya juga keras kepala memaksa.

“Murah sekali, Mak?” Pukat berbisik protes.

“Biar saja. Penglaris.” Mamak memasukkan tumpukan duku ke dalam kantong plastik lalu memberikannya pada si pembeli. Pembeli itu tersenyum. Transaksi selesai.

Tak lama kemudian dua pembeli lain mendekat. Ternyata masih terhitung saudara yang tinggal di kampung lain.

“Duku ladang sendiri, Kak Nung?”

Mamak mengangguk.

“Tolong bungkuskan dua tumpukan.”

Ternyata Mamak menumpahkan lebih banyak duku ke dalam kantong plastik. Membuatnya hampir dua kali lebih banyak dari yang diminta. Pembeli itu tertawa senang, menyerahkan uang, transaksi selesai.

“Mak, kenapa dikasih banyak sekali?” Pukat protes saat punggung pembeli tadi hilang ditelan kerumunan pengunjung pasar.

“Biar saja. Masih saudara kita, “ Mamak menjawab ringan. Baiklah, masih masuk akal, semasuk akal saat pembeli pertama tadi.

“Ah, mahal sekali. Di tempat sebelah harganya cuma dua ribu satu tumpukan.” Pembeli berikutnya menawar. Mamak mengangguk sepakat, sama sekali tidak berniat menawar balik, lalu menyuruh Pukat membungkuskannya. Pukat menggaruk kepalanya yang tidak gatal lantas berbisik “Mana mungkin lapak sebelah menjual seharga itu. Kita jual lima ribu saja itu sudah paling murah sedunia, Mak.”

“Biar saja. Kita tidak rugi ini.”

“Rugi, Mak! Seharusnya kita bisa menjual lebih mahal.” Protes Pukat.

“Kau ini dari tadi pagi berisik.” Mamak melotot.

Pukat menghela napas putus asa. “Bagaimana mungkin aku tidak berisik? Mamak melanggar seluruh tata tertib standar berjualan di pasar kalangan.” Pikirnya.

Baru pukul delapan, ternyata tiga keranjang duku yang dibawa sudah habis terjual.

“Gulanya sekilo berapa?” Selesai jualan, Mamak membeli keperluan rumah tangga untuk seminggu ke depan.

“Tiga ribu delapan ratus. Ini gula putih kelas satu.” Si penjual menepuk-nepuk karung gulanya.

Mamak mengangguk, tersenyum, minta dibungkuskan dua kilogram. Pukat lagi-lagi menepuk jidat. Kalau yang ini ia sudah tahu, ini kelakukan Mamak sejak dulu. Setiap kali berbelanja, Mamak tidak pernah menawar harga yang diminta.

Setibanya di rumah, terjadilah dialog antara Pukat dan Burlian (adiknya) dengan Bapak.

“Banyak sekali contoh kebaikan sederhana di dunia ini yang semakin pudar, Pukat. Besok lusa, saat kau melihat dunia, pindah dari kampung ini, kau akan melihat lebih banyak lagi kebaikan-kebaikan kecil yang hilang, digantikan kesombongan dan keserakahan hidup.” Bapak menyeka bibir, kopi luwaknya meninggalkan bekas.

“Pasar misalnya. Jika kau memprotes cara Mamak kau berjualan tadi pagi, itu karena kau masih memahami pasar sebagai tempat jual-beli. Untung-rugi. Mahal-murah. Kau belum memahami pasar sebagai bagian kehidupan kita, tempat untuk berbuat kebaikan, menebalkan rasa jujur dan prasangka baik. Oi, bukankah kau tahu, agama kita meneladani begitu banyak adab bertransaksi yang indah di pasar?”

“Jual-beli itu dihalalkan. Siapa yang menjual dengan baik, memberikan barang yang benar, tanpa menipu, senang hati melebihkan timbangan, memberi bonus, tambahan, niscaya ia mendapat keuntungan yang berlipat-lipat.” Lanjut Bapak.

“Tidak mungkin! Bagaimana kita untung berlipat-lipat kalau menjual lebih murah?” Pukat protes. Penjelasan bapak tidak bisa diterima oleh nalarnya.

“Itu karena kau menghitung keuntungan yang terlihat saja. Oi, rasa senang yang muncul dari proses kebaikan itu tidak bisa dibeli dengan uang segunung. Kalian masih terlalu kecil untuk mengerti. Sayangnya, hari ini, esok-esok lusa, akan lebih banyak orang dewasa yang tahu urusan ini, tetapi tetap pura-pura tidak mengerti. Kalian tahu, hal ini juga berlaku sebaliknya. Barang siapa yang membeli dengan santun, ringan hati melebihkan bayaran, tidak selalu menawar, nisacaya bukan hanya barang itu yang berhasil dia beli, dia juga sejatinya telah mendapatkan harga yang lebih murah......”

“Bagaimana akan mendapatkan harga yang lebih murah kalau tidak ditawar, Pak?” Kali ini Burlian yang menyela, menghentikan gerakan tangannya menyendok sup jagung.

“Kenapa tidak? Itu bisa terjadi jika pedagang sudah datang dengan pemahaman yang baik, menjual dengan harga yang baik, tidak menipu. Maka buat apa lagi pembeli menawar?” Ucap bapak.


Itulah sedikit penggalan bab “Untung-Rugi” dalam buku Si Anak Pintar.

Sebetulnya ada banyak lagi obrolan antara Bapak maupun tokoh-tokoh lainnya dengan Pukat. Dan semua obrolan itu berkesan. Sungguh sarat akan pelajaran kehidupan. Termasuk ketika Bapak menjelaskan tentang hakikat sesungguhnya dari jual-beli dan cara bijak memandang pasar yang sudah mulai pudar saat ini. Dan penjelasan Bapak itu rupanya melekat kuat dalam diri Pukat hingga ia dewasa.

Begitulah ayah bunda yang baik, sesungguhnya ngobrol adalah sarana yang sangat ampuh untuk mengisi jiwa anak-anak kita dengan nilai-nilai kebaikan yang kelak akan menjadi bekal mereka menjalani kehidupan ini.  Sayangnya, kegiatan ngobrol antara orang tua dengan anak ini mulai pudar, tergantikan oleh kesibukan orang tua dan anak yang ngobrol dengan gadget-nya sendiri-sendiri.

“Ah, setiap hari saya juga sudah ngomong kok sama anak saya, sudah saya nasehatin ini itu, sampai capek mulut saya. Tapi anak sekarang itu memang susah dikasih tau. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Matanya ke Hapeeee teruuusss.....dst dst.....”

Nah, inilah pentingnya kita paham dulu apa itu NGOBROL, terutama ngobrol yang enak. Sehingga tak perlu sampai berbusa-busa mulut kita, namun setiap kata yang kita sampaikan bisa tertanam kuat di jiwanya.

Pertama, ngobrol itu dua arah, kalau hanya satu arah namanya ceramah. Kedua belah pihak yang terlibat di dalamnya (baik orang tua maupun anak) punya kesempatan yang sama untuk bicara.

Kedua, ngobrol itu gantian bukan barengan. Kalau yang satu bicara, maka yang lain harus sabar mendengarkan. Kalau semuanya sama-sama biacara, lantas siapa yang mendengarkan? Dan mendengarkan ini ya benar-benar menyimak, bukan cuma sepintas lalu.

Ketiga, ngobrol itu posisi tubuh kita setara, sama-sama berdiri, sama-sama duduk, atau sama-sama rebahan. Kalau yang satu berdiri sementara yang satunya lagi duduk kan kasihan, yang berdiri bisa kesemutan kakinya sementara yang duduk bisa pegel lehernya karena mendongak terus hehehe...

Keempat, ngobrol itu supaya enak, kondisikan tempat dan suasana yang enak pula. Matikan dulu TV di hadapan. Singkirkan dulu gadget di genggaman. Kalau perlu sediakan camilan dan minuman.

Mungkin ada di antara kita yang kesulitan ngobrol dengan anak karena memang tak terbiasa. Tapi yuk Bismillah kita mulai ayah bunda. Mulai dengan niat yang baik. Mulai dengan bertanya yang sederhana dulu saja, seperti

Bagaimana kabarmu hari ini, Nak?

Atau “Nak, dulu waktu ayah/bunda masih seumurmu.......

Atau “Apakah kamu kangen bertemu teman-teman dan guru-gurumu di sekolah?

Dan lain-lain...

Mungkin terasa agak canggung. Tak apa, ibarat naik sepeda, kita selalu butuh kayuhan pertama yang biasanya agak berat terasa, tapi kayuhan-kayuhan berikutnya akan lebih ringan rasanya.

Mumpung juga kita lebih banyak di rumah saja karena wabah corona. Sama-sama kita isi jiwa anak-anak kita dengan nilai-nilai kebaikan dan pelajaran-pelajaran kehidupan. Salah satunya melalui obrolan-obrolan. Sehingga kelak anak-anak kita bertumbuh secara utuh, dengan jiwa dan raga yang tangguh. Sebelum waktu terus berputar, dan tak terasa mereka bertambah besar, lalu terlanjur lebih dekat dengan teman-temannya di luar.

-Self reminder-
#cerita ramadhan dari rumah saja

Kamis, 30 April 2020

TOKO MAMA


Suatu hari sepulang dari main di rumah teman depan rumah, anak saya bercerita.

Bun bun, mamanya A (teman depan rumah itu) bikin toko lho, bun”.

Toko??? Toko apa???” Saya agak bingung, sebab setahu saya tetangga depan rumah kami itu tidak buka toko.

Toko Mama.

Toko Mama??? Jualan apa???

Jualan jajan! Ada coklat, permen, ciki-ciki, banyaaak.... Terus mamanya A juga bikin uang-uangan warna pink. Nah, tadi aku sama A bantu bersih-bersih, terus kami dikasih uang pink itu sama mamanya. Terus boleh beli jajan di tokonya itu pakai uang pink itu...

Ooooh, setelah saya cari tahu sendiri, rupanya tetangga depan rumah saya itu (mamanya si A) memang berinisiatif bikin “toko”. Namanya Toko Mama. Toko yang sengaja dibuatnya untuk mengajari anaknya tentang uang. Ada daftar pekerjaan bersih-bersih rumah dan berapa lembar uang yang bisa didapat dari setiap pekerjaan bersih-bersih itu (upah). Uangnya ia buat sendiri dari lembaran kertas warna pink yang ditulisi angka 500, 1000, dan 2000. Ada pula macam-macam jajanan beserta daftar harganya. Brilian!!!

Mengapa brilian?

Sebab, pelajaran tentang uang memang perlu untuk diberikan pada anak-anak kita sejak dini. Ini penting.

Saya pribadi agak sedih sebetulnya melihat beberapa teman anak saya yang masih TK bahkan PAUD diberi uang oleh orang tuanya. Biasanya lembaran 2000 atau 5000. Tapi mereka tidak diberi penjelasan dulu tentang uang itu. Para orang tua sekedar memberi uang agar anaknya bisa beli jajan atau mainan SENDIRI!

Mungkin si anak sudah bisa membaca angka sehingga ia tahu itu uang berapa. Tapi ada juga yang bahkan belum bisa membaca angka 2 dengan 3 angka nol di belakangnya. Yang penting diberi uang selembar untuk beli jajan atau mainan, si anak tinggal pilih mana yang dia suka, lalu berikan selembar uang itu pada penjualnya. Pasrah saja pada si penjual, kalau uangnya lebih maka si penjual akan memberikan kembalian pada si anak, kalau pas maka si anak boleh langsung pergi, dan kalau kurang maka si penjual akan berkata pada si anak “uangnya kurang, bilang ke ibumu ya...”

Dengan kata lain, si anak yang diberi uang oleh orang tuanya itu belum mengerti apa arti uang 2000, 5000, dst. Misal ia beli jajan seharga 1000 dengan selembar uang 2000 apakah uangnya cukup atau kurang. Syukur-syukur kalau si penjual jujur dan baik hati, tak masalah. Lha bagaimana kalau penjualnya curang dan memanfaatkan ketidaktahuan si anak? Harga jajan 1000, uangnya 2000, setelah beli si anak langsung disuruh pulang tanpa diberi uang kembalian. Mungkin orang tua bisa berkata “Halaaah...cuma kembalian 1000 rupiah aja kok, ikhlasin aja”. Ya boleh-boleh saja. Tapi ini bukan tentang ikhlasin aja. Ini tentang mendidik (which is jauh lebih penting), yakni mengajarkan tentang uang itu sendiri pada anak, sehingga anak paham betul tentang lembaran uang atau koin recehan yang digenggamnya sebelum membelanjakannya.

Nah, tentang mendidik ini, setidaknya ada dua hal yang perlu kita ajarkan pada anak tentang uang, yaitu nilai yang tertera di uang tersebut dan nilai-nilai yang ada di baliknya.

Pertama, tentang nilai yang tertera pada uang.

Sebelum kita memberikan uang pada anak kita untuk membeli sesuatu sendiri, maka ajarkan dulu ia tentang angka. Ia harus sudah tahu dulu angka 1, 2, 3 dan seterusnya, termasuk ratusan, ribuan, dan seterusnya pula. Ajarkan padanya, misalnya ia punya uang 2000 lalu ia ingin memberli permen seharga 500, maka berapa permen yang bisa ia dapat. Yap, persis seperti pelajaran matematika.

Waduh, repot dong kalau harus mengajari mereka tentang itu dulu.” Betul bapak ibu, jadi orang tua itu memang repot, tapi sejatinya kita sendiri juga lah yang akan menikmati hasil dari kerepotan mendidik itu kelak (selain anak kita tentunya). Lha kalau mereka sudah keburu minta uang untuk beli jajan sendiri seperti teman-temannya bagaimana?” Ya kita saja yang belikan. Mudah kan? Ini supaya anak paham betul akan benda yang ada di tangannya itu (uang).

Sebagai contoh, ini pengalaman pribadi dan sungguh-sungguh terjadi. Dulu saat hari pertama saya duduk di kelas 1 SD, ibu saya memberikan saya 2 koin uang 100 rupiah untuk bekal. Lalu saat jam istirahat, karena haus, saya segera berlari ke kantin hendak membeli minuman dingin yang dibungkus dalam plastik es. Setibanya di kantin, saya terbengong-bengong di depan wadah minuman dingin itu. Kebingungan. Mengapa? Sebab saya melihat angka yang tertera di minuman berbungkus plastik es itu adalah 75. Sementara angka yang ada di dua uang koin yang saya pegang adalah 100. Gawat, angkanya tidak sama! Berarti saya tidak bisa membelinya. Agak lama saya berpikir tentang itu sambil mengelap air liur. Dan akhirnya saya tidak jadi beli, saya tahan rasa haus saya sampai pulang ke rumah, hanya karena angkanya tidak sama! Padahal sejatinya, saya bahkan bisa dapat 2 bungkus. Konyol sekali ya hehehe...tapi itulah yang terjadi bila kita menggenggam dan menggunakan sesuatu yang tidak kita pahami terlebih dahulu. Jangan sampai kejaian konyol itu terulang pada anak-anak kita.

Kedua, yang tidak kalah pentingnya, ialah nilai-nilai di balik uang itu. 

Nilai-nilai apa maksudnya? Pemahaman tentang bagaimana cara mendapatkan uang, bagaimana cara membelanjakannya, bagaimana cara menabungnya, dan tentang bersedekah.

Ide Toko Mama dari tetangga depan rumah saya itu tepat sekali untuk mengajarkan nilai-nilai itu. Jadi pertama-tama anak harus do something dulu, harus ada usaha dulu bahkan harus kerja keras dulu untuk bisa mendapatkan uang. Seiring berjalannya waktu, kelak anak akan paham bahwa uang itu tidak jatuh begitu saja dari langit. Dengan demikian ia jadi lebih bisa menghargai uang. Dan perlu diingat, kita sebagai orang tua tidak hidup selamanya. Kalau anak kita terbiasa hanya meminta dari kita saja untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, bagaimana bila kelak kita pergi lebih dulu dari dunia ini? Pada siapa mereka akan meminta? Sementara kita sendiri tidak tahu berapa lama usia kita.

Terkait usaha yang harus dilakukan dulu oleh anak agar ia bisa mendapat uang, mari kita fokus pada niat dan kerja kerasnya. Nah, selain dalam bentuk bersih-bersih rumah yang sesuai dengan kemampuannya, kita juga bisa memintanya membuat suatu karya, lalu minta ia menjualnya pada kita. Misalnya minta ia membuat gambar yang bagus, lalu minta ia menjualnya pada kita dan kita membelinya. Dengan demikian ia pun bisa mendapat uang dari hasil karyanya sendiri.

Atau bisa juga kita memberinya modal untuk membeli sesuatu untuk ia jual kembali pada orang lain dengan mengambil untung. Misal kita memberinya uang untuk membeli alat tulis lalu minta ia menjual kembali alat-alat tulis itu pada teman-temannya dengan harga yang sudah ditambah dengan keuntungan yang bisa ia dapat.

Atau kalau anak kita punya banyak buku di rumah bisa juga ajarkan mereka membuka persewaan buku. Jadi teman-temannya boleh menyewa buku dalam kurun waktu tertentu dan membayar uang sewanya.

Nah, selain mengajari mereka bagaimana cara mendapatkan uang, ajarkan pula pada mereka untuk membelanjakan uangnya. Dari Toko Mama itu anak belajar untuk memilih dan mengambil keputusan sendiri apa yang ia mau beli. Memilih dan mengambil keputusan ini juga penting. Karena percaya atau tidak, ada lho yang hingga dewasa selalu bingung memilih kalau mau beli sesuatu. Salah satu penyebabnya ya karena tidak terbiasa memiilih dan memutuskan sendiri sesuai kebutuhannya. Kalau sudah memilih lalu yang dibeli tidak sesuai harapan? Misalnya beli permen tapi ternyata rasanya tidak enak? Nah ini pelajaran juga bagi anak-anak, pelajaran tentang konsekuensi dari pilihan/keputusan. Kalau barang yang dibeli sesuai harapan maka bersyukurlah, tapi kalau tidak alias mengecewakan maka bersabarlah, setidaknya kita jadi tahu tentang barang yang sudah dibeli itu.

Lha kalau ternyata uang yang didapat belum cukup untuk membeli barang yang diinginkan, maka inilah saatnya mengajari anak-anak kita tentang menabung hingga uangnya terkumpul. Anda bisa memanfaatkan barang bekas untuk dijadikan celengannya sekaligus menghiasnya bersama agar menarik. Kalau perlu tulis di celengan itu barang apa yang ingin dibelinya sehingga anak-anak lebih bersemangat menabung.

Yang tidak kalah pentingnya juga adalah mengajari mereka menabung untuk akhirat alias bersedekah. Ajarkan pada mereka untuk menyisihkan uang yang mereka dapat untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Tak masalah berapapun jumlahnya, semampu mereka. Itu akan membuat hati bahagia.

Lalu, umur berapa semua nilai-nilai itu bisa mulai diajarkan dan diterapkan pada anak-anak? Tergantung dari kesiapan masing-masing anak untuk bisa diajak berkomunikasi dan dipahamkan tentang itu. Jelaskan dengan cara sederhana dan menyenangkan, seperti membuat Toko Mama itu. Dan berikan teladan dimulai dari kita dulu sebagai orang tua.

Jangan lupa untuk memberi apresiasi atas setiap usaha anak-anak kita dalam mendapatkan uang dengan keringatnya sendiri, membelanjakannya, menabungnya dengan sabar, dan menyedekahkannya.

Nah mumpung kita semua sedang banyak di rumah saja akibat pandemi corona, kita bisa mulai mengenalkan pada anak-anak tentang nilai yang tertera pada uang dan nilai-nilai yang ada di baliknya. Bisa dengan cara Toko Mama atau dengan cara-cara kreatif lainnya. Selamat mencoba!

-Self Reminder-
#cerita ramadhan dari rumah saja

Sabtu, 25 April 2020

NGAJI (tak hanya untuk) JOMBLO


Sejak sehari sebelum ramadhan, saya punya satu kebiasaan baru. Berawal dari tidak sengaja alias iseng-iseng saja. Apa itu? Mendengarkan siaran langsung kajian ustadz Felix Siauw dari akun instagramnya.

Kenapa tidak sengaja, karena jujur saja, walau sudah agak lama saya punya akun instagram, tapi baru kali itu lah saya iseng-iseng meng-klik siaran langsung dari suatu akun hehehe.... Dan passs sekali itu akun @felixsiauw. Beliau sedang mengadakan siaran langsung bertajuk “Ngaji Jomblo”. Ini semacam kajian online yang berseri untuk para jomblo. Berisi arahan step by step bagi para jomblo untuk memperbaiki diri dan menentukan langkah-langkah syar'i untuk menemukan jodohnya.

Lah, kalau kajiannya untuk jomblo, lantas mengapa saya yang sudah tidak jomblo lagi ini ikut menyimak? Bahkan menunggu-nunggu nya setiap siang hari? Ada dua alasannya.

Pertama, karena ustadz Fellix ini ngomongnya enak banget. Lancar jaya macam jalan tol bebas hambatan. Tak hanya itu, setiap kalimatnya pun berisi dan mudah dipahami. Lucu lagi.

Menurut saya, di dunia ini ada 2 tipe orang pintar. Tipe satu, orang yang pintar, banyak ilmunya, namun tak mampu menyampaikan ilmu-ilmunya itu dengan cara yang mudah dipahami orang lain, nggak menarik, dan malah bikin bingung. Padahal berilmu. Sayang ya...

Tipe dua adalah orang berilmu, bahkan padet banget, dan dia mampu menyampaikannya dengan enak, mudah dipahami, dan menarik. Sebagai seorang yang audio visual, tentu saya lebih memilih belajar dari tipe yang kedua ini. Dan menurut saya ustadz Felix ini termasuk tipe yang kedua. Maka jadilah saya dengan mudahnya mengikuti setiap kata yang beliau sampaikan. Apalagi beliau juga jago mengisahkan siroh yang notabene kejadian-kejadian masa lalu di zaman Rosul dengan bahasa-bahasa saat ini. Malah makin suka lah saya menyimaknya.

Kedua, karena meski materi-materinya adalah materi pra-nikah, namun masih sangat bermanfaat kok bagi yang sudah menikah. Serius!

Misalnya saja, dalam salah satu sesi, beliau menjelaskan tentang prioritas cinta kita. Bahwa Alloh harus kita letakkan di nomer 1 sebagai yang paling kita cintai. Sehingga cara kita dalam memilih pasangan akan dengan sendirinya menyesuaikan dengan perintah Alloh. Setelah itu barulah kita bisa berkata “Saya mencintai seseorang karena Alloh” atau dalam bahasa arabnya ana uhibbuki fillah. Memang materi tersebut beliau tujukan untuk para jomblo. Namun sejatinya, mencintai pasangan karena Alloh (sebab Alloh ada di prioritas cinta nomer 1) ini merupakan pegangan penting juga untuk yang sudah berumah tangga.

Jadi, misalnya ketika sudah menikah, kita menemukan karakter-karakter pasangan yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita, yang mungkin membuat kita sedih dan kecewa, maka sesungguhnya inilah ujian bagi kita untuk mencintai pasangan kita itu karena Alloh. Mencintainya semata-mata karena Alloh lah yang menitipkannya kepada kita. Bila pondasi ini sudah kuat, maka insyaAlloh kita akan sanggup menjalani kehidupan rumah tangga bersama pasangan, meski dalam perjalanannya kita menjumpai karakternya yang tidak sesuai dengan harapan kita, which is ini pasti terjadi dalam kehidupan pernikahan. Dan inilah biasanya salah satu tool setan untuk mengguncang bahtera rumah tangga.

Dan masih banyaaaak lagi materi ngaji jomblo lainnya yang tetap bermanfaat meski kita sudah tidak lagi menyandang status itu.

Nah, suatu siang ketika sedang mendengarkan siaran langsung itu, suami saya yang duduk di samping saya berujar “wong di luar sana banyak orang yang kelaparan dan kehilangan pekerjaan (karena pandemi corona), kok malah ngurusin jomblo...

Jlebbbb...kalimatnya serasa menusuk hati saya....

Mengapa menusuk? Sebab saya tau bahwa meski hampir sepuluh tahun berumah tangga, namun ilmu-ilmu tentang berumah tangga masih belum menarik baginya untuk dipelajari. Padahal ilmu itu cahaya. Tanpa ilmu, kita bagai berjalan di tempat yang gelap. Bisa tersesat, bahkan bisa menabrak sesuatu, atau tanpa kita sadari ternyata kita hanya berputar-putar saja di tempat. Apalagi kalau posisi kita sebagai pemimpin, atau orang kerap juga menyebutnya nahkoda.

Saat itu pula ingatan saya langsung flashback pada alasan mengapa dulu saya memilihnya sebagai pasangan hidup. Jujur saja, yang membuat saya jatuh hati padanya saat itu satu, yaitu karena ia enak diajak bicara. Saya tidak terlalu memperhitungkan faktor-faktor yang lain. Mengapa saat itu faktor “enak diajak biacara”  menjadi penting bagi saya, sebab salah satu elemen penting dalam rumah tangga adalah komunikasi. Komunikasi yang baik antara suami dan istri akan membuat rumah tangga mampu berjalan dengan baik, meski di dalamnya banyak ujian. Sebaliknya, komunikasi yang buruk antara suami istri akan membuat rumah tangga berjalan dengan buruk pula, dan dampak buruknya juga bisa berimbas pada anak-anak. Nah, dampak buruk bahkan sangat buruk itulah yang saya rasakan akibat komunikasi yang buruk antara bapak dan ibu saya.

Ternyata, di awal-awal pernikahan, yang terjadi sungguh di luar ekspektasi dan harapan saya. Namun inilah cara Alloh mengajari saya tentang banyak hal. Termasuk mengajari saya untuk mencintai suami saya karena Alloh lah yang menitipkannya pada saya. Sekali lagi, karena Alloh lah yang menitipkan.

Kalau kita sedih dan kecewa karena realita tak sesuai dengan harapan kita? Tak apa, itu sangat sangat manusiawi. Tinggal kita kembalikan saja urusan ini pada yang menitipkan pasangan kita. Alloh. Percayalah bahwa Alloh pasti akan menolong kita dengan caraNya.

Analoginya begini, katakanlah kita punya pacar seorang aktor korea yang super tampan atau aktris korea yang cantik, bening, dan bersinar. Kita mencintainya dan ia juga sangat mencintai kita. Lalu suatu hari ia menitipkan kucingnya pada kita dan meminta kita berjanji untuk merawat kucing itu baik-baik sampai datang suatu hari ketika ia mengambilnya kembali. Karena aktor/aktris korea itu mencintai kita dan kita mencintainya, pasti kita akan berusaha sekuat tenaga menepati janji itu. Lha kalau suatu ketika si kucing mencakar kita dan kita terluka? Maka tinggal telpon saja si aktor korea tampan atau aktris korea yang bening itu dan katakan “Halo sayang, kucingmu mencakarku, dan rasanya sakiiit sekali, apa yang harus kulakukan?

Begitulah.

Mumpung ini sedang  ramadhan dan mumpung kita sedang lebih banyak berada di rumah saja, mari bersama-sama introspeksi dan memperbaiki kembali prioritas cinta kita. Entah kita masih jomblo ataupun sudah berumah tangga, tempatkan cinta kepada Alloh di urutan pertama.

Semoga bermanfaat.
#Cerita ramadhan dari rumah saja.


Jumat, 28 Februari 2020

SEBAB SEJATINYA, TAK ADA ANAK BODOH MAUPUN NAKAL


Taare Zameen Par. Salah satu film india favorit saya. Pertama kali menontonnya, film yang merupakan debut aktor Aamir Khan sebagai sutradara sekaligus produser ini berhasil meninggalkan kesan yang begitu mendalam di hati saya. Pun ketika saya menontonnya lagi untuk yang kedua dan ketiga kali. Kesan yang mendalam itu masih sama terasa.

Bagi anda yang belum pernah menontonnya, izinkan saya membagi cerita film yang diproduksi tahun 2007 ini.

Ishan Awasthi (tokoh utama dalam film ini) adalah seorang anak laki-laki kelas 3 SD. Berbeda jauh dengan kakaknya, Yohan Awasthi, yang selalu menjadi juara kelas dan mendapat nilai-nilai sempurna hampir di semua mata pelajaran, nilai-nilai Ishan justru selalu buruk dan paling rendah di kelasnya.

Ishan memiliki kesulitan memahami instruksi yang diberikan secara beruntun. Ketika gurunya menyuruhnya membaca paragraf sekian di halaman sekian, Ishan kesulitan menemukannya. Setelah dibantu teman sebangkunya menemukan paragraf yang dimaksud, Ishan juga masih kesulitan membacanya. Baginya, huruf-huruf yang dilihatnya di buku itu seperti sedang menari-nari. Sehingga alih-alih mengejanya dengan benar, Ishan justru mengeluarkan bunyi-bunyi aneh dari mulutnya. Ini membuat semua teman di kelasnya tertawa hingga gurunya marah besar dan langsung menyuruhnya berdiri di luar kelas.

Tak hanya sekali itu saja Ishan membuat guru-gurunya kehabisan kesabaran. Suatu hari saat ulangan matematika, sepanjang jam pelajaran, ishan justru berimajinasi dengan angka-angka di soal ulangan, seolah-olah angka-angka itu adalah planet-planet di luar angkasa. Hingga tak terasa waktu habis dan lembar jawaban harus dikumpulkan, sementara ia baru menjawab satu soal saja. Itupun dengan jawaban yang salah.

Tak hanya di sekolah, di rumah pun ishan tak pernah berhenti menguji kesabaran ayah ibunya. Ishan dan keluarganya tinggal di rumah susun. Suatu ketika Ishan sedang duduk bersama anjing-anjing di halaman rumah susun. Lalu sebuah bola jatuh di dekatnya. Anak-anak yang sedang main bola itu meminta Ishan melemparnya kepada mereka. Ishan yakin lemparannya akan tepat sasaran, namun ternyata bola yang dilemparnya malah melenceng jauh. Anak-anak itu marah dan salah satu dari mereka mengatai Ishan “idiot”. Ishan memandang tajam ke arahnya. Anak itu lalu mendorong Ishan. Ishan balas mendorongnya. Mereka berdua pun berkelahi dan anak tadi membenturkan kepala Ishan ke tanah hingga berdarah. Ishan lalu menggigit lengan anak itu dan berlari pergi sambil menangis.

Rupanya anak tadi datang ke rumah Ishan bersama ibunya. Si ibu mengadu bahwa Ishan telah menyakiti dan merobek-robek baju putranya. Ia meminta pertanggungjawaban orang tua Ishan. Ayah dan ibu Ishan sangat malu. Ishan sendiri tak sanggup berkata-kata untuk membela dirinya, hingga sebuah tamparan dari ayahnya membuatnya jatuh. Ayahnya amat sangat marah lalu mengatainya nakal dan tidak tahu malu sebab setiap hari Ishan selalu saja membuat masalah.

Puncak kemarahan ayahnya terjadi ketika ia tak sengaja menemukan secarik kertas. Isinya permohonan izin bahwa Ishan tidak dapat mengikuti pelajaran matematika beberapa hari yang lalu karena demam. Ayahnya segera bertanya pada ibunya apakah betul Ishan kemarin demam. Sambil keheranan ibunya pun menjawab tidak. Dan tulisan di surat itu bukan tulisan ibunya. Maka ayahnya memanggil Ishan dan menanyainya. Dengan takut, Ishan mengaku bahwa saat itu ia keluar dari sekolah dan berjalan-jalan sendirian. Lalu ia meminta tolong kakaknya untuk membuatkan surat keterangan palsu untuk disampaikan pada gurunya bahwa ia tidak dapat mengikuti pelajaran karena demam. Padahal sesungguhnya, saat itu Ishan keluar sendiri dari sekolah dan berjalan-jalan sebab ia takut dimarahi dan dihukum lagi oleh gurunya karena belum mengerjakan tugas matematika. Sang ayah pun marah besar dan lagi-lagi mengatainya idiot.

Keesokan harinya ayah dan ibunya menghadap kepala sekolah untuk meminta maaf. Saat itu guru-gurunya sekaligus memberitahukan semua perilaku Ishan ketika di kelas beserta semua nilai-nilai buruknya. Dan di saat itu pula baru ketahuan bahwa Ishan tidak memberikan lembar hasil ulangan yang harus ditandatangani orang tua dan surat dari guru khusus untuk ibunya. Kepala sekolah akhirnya mengatakan bahwa dengan kondisi seperti itu sulit bagi Ishan untuk bisa naik kelas. Padahal saat itu sudah kedua kalinya ia tinggal di kelas 3. Menurutnya, Ishan mempunyai kelainan dan bisa disekolahkan ke sekolah yang mampu mendidik anak dengan kondisi seperti itu.

Ayah Ishan semakin kecewa. Maka keputusan sudah bulat. Ia akan memasukkan Ishan ke sekolah berasrama. Meski ibunya meminta agar Ishan dimasukkan ke sana tahun ajaran berikutnya saja sebab Ishan belum pernah jauh darinya, meski Ishan sudah meminta maaf berkali-kali, dan meski ia juga sudah memohon-mohon sampai menangis agar tidak dikirim ke sana, ayahnya tetap bergeming.

Akhirnya sampailah Ishan di sekolah asrama khusus laki-laki yang letaknya sangat jauh dari rumahnya. Guru yang menerima Ishan berkata pada ayahnya “Jangan khawatir pak. Kami sudah pernah berhasil menjinakkan yang paling nakal sekalipun”. Ishan sungguh sangat sedih harus berpisah dari keluarganya. Tatapannya kosong memandang mobil keluarganya pergi. Ia tak berselera makan dan tidak bisa tidur. Ketika teman-teman sekamarnya sudah terlelap, ia justru menangis seorang diri di kamar mandi.

Hari demi hari dimulai di sekolah baru. Namun kondisinya tetap tak berubah. Ishan tak mampu memahami semua pelajaran di situ. Ia berkali-kali melakukan kesalahan dan berkali-kali ia pula kena marah guru-gurunya. Mereka mengatai Ishan idiot, bodoh, pemalas, gila dll. Bahkan Ishan pernah dipukul kedua tangannya dengan penggaris karena tak mampu menemukan titik di papan tulis ketika pelajaran seni. Ishan menahan sakit dan tangsinya. Ishan benar-benar putus asa dan tak punya semangat lagi.

Hingga akhirnya Ishan bertemu dengan guru seni yang baru, Rham Shankar Nikumbh yang diperankan Aamir Khan. Sejak awal Rham merasa ada yang tidak beres dengan Ishan. Ketika Rham memulai pelajaran dengan bermain suling, menyanyi dan menari (khas film india) hingga semua murid di kelas ikut menyanyi dan menari dengan riang gembira, Ishan justru hanya diam saja. Ia bahkan tak menggambar apapun ketika Rham meminta murid-murid menggambar sesuatu sesuai imajinasi mereka masing-masing. Rham juga merasa bahwa Ishan selalu tampak ketakutan.

Ketika Rham menanyakan tentang Ishan kepada teman sebangkunya, kemudian mengecek semua tulisan Ishan di buku-bukunya, barulah Rham sadar bahwa Ishan menderita disleksia.

Rham kemudian datang ke rumah Ishan untuk bertemu dengan orang tuanya. Rham sangat terkejut mengetahui bahwa ternyata Ishan sangat suka melukis. Bahkan mata Rham sampai berkaca-kaca ketika melihat hasil lukisan Ishan di dinding kamarnya. Ishan bahkan bisa membuat prakarya yang rumit, lukisan bersambung dan flipbook (sebuah buku dengan gambar bergerak).

Dengan emosi yang tertahan, Rham lalu bertanya pada orang tua Ishan mengapa mereka memasukkan Ishan ke sana. Ayahnya menjawab bahwa mereka tak punya pilihan lain. Ishan lemah di semua mata pelajaran dan itu karena ia nakal, malas, pembangkang, dll.

Yang Anda sebutkan tadi adalah gejalanya, bukan penyebabnya. Mengapa Ishan lemah di semua mata pelajaran?” tanya Rham.

Ayah dan ibunya terdiam kebingungan, “Kenapa tidak Anda saja yang memberitahukan pada kami” ucap ayahnya.

Barulah Rham menjelaskan pada mereka bahwa Ishan mempunyai gangguan disleksia. Karena disleksianya itu, Ishan tak mampu membedakan huruf-huruf yang bentuknya mirip, sehingga ia tak mampu membentuk imaji atau simbol di benaknya tentang kata yang dimaksud. Padahal itu adalah syarat utama untuk bisa membaca dan menulis. Karena disleksia pula lah, Ishan tak mampu memahami instruksi yang diberikan secara beruntun. Ia juga tidak punya reflek yang baik sebab tidak mampu memperkirakan ukuran, jarak, dan kecepatan dengan cepat.

Coba Anda bayangkan, anak umur 8 tahu belum bisa baca tulis, belum bisa melakukan hal-hal yang mudah dilakukan oleh anak-anak lain seusianya, maka kepercayaan dirinya hancur. Ia pun menyembunyikan kekurangannya itu dengan menunjukkan kenakalan sebagai bentuk pemberontakan, karena dunia di sekitarnya telah mengalahkannya (dengan mengatainya idiot, nakal, selalu membuat masalah, dll)” ujar Rham.

Orang tuanya kembali terdiam, semua perasaan bercampur aduk. Namun kemudian ayahnya berkata “Lalu apa kelebihan Ishan?”

Kelebihan? Pak, coba Anda lihat semua hasil lukisan Ishan. Ini adalah hasil imajinasi dengan tingkat kecerdasan yang sangat tinggi. Saya dan Anda saja belum tentu bisa membuat seperti ini.”

Lalu bagaimana nanti ia akan bersaing di masa depan? Apa aku harus memberinya makan terus seumur hidupnya?!!”

Rham merasa kecewa denga tanggapan ayah Ishan. Akhirnya Rham memutuskan untuk turun tangan mengajari Ishan sendiri.

Hal pertama yang dilakukan Rham ialah mengambalikan kepercayaan diri Ishan yang nyaris mati. Ketika pelajaran seni, Rham menunjukkan pada Ishan flipbook buatan Ishan. Ishan terkejut. Rham lalu bercerita pada seisi kelas tentang orang-orang hebat yang hasil karyanya mengguncang dunia dan sangat bermanfaat bagi umat manusia, namun ketika kecil mereka sulit membaca dan menulis. Rham menyebut nama-nama besar seperti Albert Eintein, Leonardo Da Vinci, Agatha Christi, Walt Disney, Thomas Alfa Edison, hingga bintang bollywood yang digemari murid-murid.

Rham lalu meminta semua murid untuk menuju kolam di luar dan membuat sesuatu dari benda-benda yang ada di sana. Saat semua murid sudah keluar, Rham berkata pada Ishan bahwa ada satu nama lagi yang belum disebutnya. Ada satu orang lagi yang saat kecil juga sulit membaca dan menulis, meski sekarang karyanya tak sebesar nama-nama yang telah disebut tadi. Nama itu ialah Rham Shankar Nikumbh. Ishan sungguh terkejut mendengarnya. Mulailah kepercayaan dirinya tumbuh.

Ketika di kolam, ia mengeluarkan barang-barang kecil yang dulu pernah dikumpulkannya dan dengan ranting-ranting di dekat kolam ia membuat pesawat kecil yang bisa meluncur di kolam. Semua anak terkagum-kagum melihat pesawat buatan Ishan, begitu pula Rham. Namun Ishan masih sangat malu dan merasa rendah diri.

Hal berikutnya yang dilakukan Rham ialah mengajari Ishan membuat huruf melalui media-media yang disukai Ishan. Ishan belajar membuat huruf di atas pasir, belajar melukis huruf di kertas, dan belajar membuat huruf dari plastisin. Rham bahkan meminta Ishan menutup matanya, lalu ia membuat huruf di pergelangan tangan Ishan, dan meminta Ishan menebak huruf apa itu. Ishan juga belajar membuat angka yang simetris pada papan tulis yang diberi kotak-kotak kecil. Ishan juga belajar penjumlahan dan pengurangan dengan naik turun tangga. Anak-anak tangga sudah diberi angka oleh Rham, lalu ia menyebutkan soal, kemudian Ishan turun dan naik tangga sesuai soalnya, hingga ia bisa menjawab dengan benar hasilnya. Semua dilakukan Ishan dengan senang. Dan hasilnya mulai tampak. Ishan sudah bisa menulis, membaca, dan berhitung dengan benar.

Suatu hari Rham mendapat ide. Ia meminta ijin pada kepala sekolah untuk mengadakan lomba melukis yang diikuti oleh semua siswa, guru, termasuk kepala sekolah sendiri. Pemenangnya akan mendapatkan hadiah dan lukisannya akan dijadikan sampul depan buku tahunan berikutnya. Kepala sekolah setuju.

Maka di hari yang ditentukan, semua murid (termasuk ishan), semua guru (termasuk Rham), dan kepala sekolah berkumpul di lapangan teater untuk ikut lomba melukis. Rupanya dewan juri mengalami kesulitan menentukan pemenang sebab ada dua lukisan yang sama-sama bagusnya, yakni lukisan milik Ishan dan lukisan milik Rham (Rham sendiri melukis wajah Ishan). Namun karena pemenangnya hanya satu orang, maka juri sepakat bahwa lukisan Ishan lah yang menang. Semua yang ada di lapangan teater langsung berdiri, bersorak gembira dan bertepuk tangan untuk Ishan. Ishan sendiri sangat terkejut. Rham lalu memintanya maju untuk mendapat hadiah. Dengan malu-malu dan takut-takut Ishan maju dan menerima hadiah. Begitu menerimanya, Ishan langsung berlari dan memeluk Rham erat-erat sampai menangis. Dan seluruh orang pun ikut terharu (termasuk saya hiks...hiks...). Saat itulah kepercayaan diri Ishan yang sebelumnya padam bahkan hampir mati telah menyala dan bersinar kembali.

Pada saat pembagian rapot, orang tua Ishan sangat terkejut karena kepala sekolah memberi mereka buku tahunan dengan sampul lukisan wajah Ishan yang dibuat oleh Rham dan lukisan buatan Ishan sendiri. Mereka semakin terkejut saat menerima hasil pembelajaran Ishan dari guru-gurunya. Perkembangan Ishan cepat sekali dan nilai-nilainya pun bagus-bagus. Ayah dan ibu Ishan sampai terharu dan tidak tahu harus berkata apa untuk berterima kasih pada Rham.

Dua jempol untuk film ini. Tak heran bila film ini berhasil memborong banyak sekali penghargaan, sebab pesan yang disampaikannya sangatlah dalam.

Memang tokoh utama dalam film ini menyandang disleksia dan itu membuat orang-orang dewasa di sekitarnya mencapnya dengan label-label negatif. Namun bukankah kenyataanya di keseharian, kita kerap menjumpai orang dewasa yang mudah mengata-ngatai anak dengan label bodoh, nakal, pemalas, cengeng, pembangkang, bahkan tolol, idiot, goblok, dsb meski si anak tidak disleksia? Atau mungkin kita sendiri juga melakukannya pada anak-anak dan murid-murid kita?

Taukah kita apa yang akan terjadi pada anak jika kita sering memberinya label-label negatif? Ia akan menjadi seperti pohon dalam kisah pulau Solomon yang juga diceritakan Rham pada ayahnya Ishan. Ketika penduduk pulau itu ingin membangun tempat tinggal di hutan, mereka tidak menebangi pohonnya. Mereka hanya berkumpul di sekitar pohon lalu berteriak, mengutuk, dan mengumpati pohon tersebut. Maka dalam hitungan hari pohon itu layu dan mati dengan sendirinya.

Astaghfirullahaladzim....

Ketahuilah ayah bunda dan juga para guru bahwa semua anak terlahir istimewa. Mereka adalah sebaik-baik makhluk yang diciptakan oleh Sang Maha Pencipta. Dia pula lah yang telah menginstal fitrah-fitrah kebaikan dan potensi unggul dalam diri setiap anak agar kelak bisa menjadi pemimpin di bumi ini. Sehingga sejatinya tidak ada satupun anak yang bodoh maupun nakal.

Kalaupun ayah bunda dan para guru menemukan bahwa si anak lamban dalam memahami sesuatu, maka carilah penyebabnya! Lalu ajari ia sesuai dengan cara yang tepat baginya untuk mudah belajar. Sebab setiap anak juga unik. Mereka punya caranya sendiri-sendiri dalam memahami sesuatu.

Dan kalaupun ayah bunda dan para guru menemukan ada anak yang sulit untuk mematuhi sesuatu, tidak bisa diam, dan kerap kali membuat kesalahan maka lagi-lagi carilah penyebabnya! Dekati ia, lalu bertanyalah baik-baik padanya mengapa ia melakukan itu. Kalau memang yang dilakukannya adalah suatu kesalahan, ajarkan ia untuk mengucap maaf, lalu jelaskan padanya seperti apa perbuatan yang benar. Bila anak itu memang punya energi berlebih, berilah ia sarana untuk menyalurkan kelebihan energi itu secara positif.

Memang itu semua tidak mudah dan seringkali menjadi ujian kesabaran bagi kita. Tak jarang pula menguras energi dan emosi. Namun itu karena hadiah yang Alloh siapkan bagi kita adalah sebaik-baik hadiah, yakni surga. Bila mendidik dan mengasuh anak-anak itu mudah, semudah membalik telapak tangan, maka mungkin hadiahnya cukup payung atau piring cantik saja. Sehingga jangan pernah berhenti memohon agar Alloh selalu menolong, menuntun, dan menguatkan jiwa raga kita dalam mendidik dan mengasuh anak-anak. Hingga kelak suatu hari nanti mereka akan menjadi Taare Zameen Par alias bintang-bintang terang di langit.

Semoga bermanfaat.