Minggu, 17 September 2017

PENTINGNYA MENGENALKAN ANAK PADA TETANGGANYA

Di jogja ini kami tinggal di sebuah perumahan, di mana sebagian besar rumahnya berpagar cukup tinggi. Tetangga kami pun bermacam-macam. Ada yang mau diajak ngobrol, ada yang ketika berpapasan sekedar memberi senyum dan anggukan kepala, tapi ada pula yang ketika bertemu pura-pura tak melihat. Yah...memang tiap orang beda-beda...

Tapi ada satu hal yang menarik perhatian dan mengusik pemikiran saya. Ceritanya, tetangga sebelah rumah kami adalah sebuah keluarga kecil dengan kondisi ekonomi sangat mampu, terdiri dari seorang bapak yang sudah pensiun, seorang ibu yang masih aktiv bekerja sebagai PNS, serta seorang anak laki-laki yang baru saja diterima kerja di sebuah BUMN di Bandung. Mereka bertiga cukup ramah pada kami. Qodarullah, ternyata si bapak didiagnosa terkena kanker, sementara si ibu dipindahtugas ke Semarang. Jadilah si ibu pindah sementara ke Semarang dan si bapak ikut dirawat di sebuah rumah sakit di sana. Agar tidak kosong, rumah mereka pun ditinggali oleh beberapa orang keponakan.

Uniknya, ketika bertemu, para keponakan yang usianya masih muda-muda ini tak pernah bertegur sapa dengan kami. Seringkali ketika berpapasan di jalan, kami sudah siap-siap untuk tersenyum dan mengangguk, namun mereka lewat saja, seolah kami tak ada di situ. Ya sudahlah...tak apa.

Hingga suatu pagi, tiba-tiba para keponakan itu mengetuk pintu rumah kami. “Tumben sekali...ada apa?” Pikir saya... Ternyata mereka mengabarkan bahwa om mereka (si bapak yang terdiagnosa kanker tersebut) meninggal dunia dan jenazahnya akan di bawa ke rumah Jogja siang itu juga. Dengan wajah yang masih syok, mereka meminta tolong kepada kami untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk proses pemandian, pengkafanan, dan pemakaman jenazah, sebab mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. “Pokonya kami manut saja harus bagaimana...” begitu kata salah seorang dari mereka. Singkat cerita, akhirnya kami dan beberapa tetangga yang lain ikut menolong mengurus jenazah hingga dimakamkan beserta tahlilannya. Barulah sejak kejadian itu, para keponakan itu mau menyapa kami bila bertemu.

Sejak itulah saya makin yakin betapa pentingnya punya tetangga. Sebab meski kita berduit banyak dan kaya raya sekalipun, nyatanya kita ini makhluk sosial, tak bisa hidup sendiri.

Memang, pada kenyataannya ada perbedaan interaksi antara tinggal di lingkungan kampung, tinggal di perumahan, maupun tinggal di apartemen. Di kampung dekat rumah kami, bila ada yang meninggal dunia, maka saat itu juga dan tanpa diminta, para tetangga langsung membantu dan bagi-bagi tugas hingga proses pemakaman dan tahlilan selesai. Sementara di perumahan apalagi di apartemen belum tentu yang tinggal bersebelahan saling kenal. Apalagi seiring berjalannya zaman, hidup terasa makin individualis.

Tapi sekali lagi, kita ini makhluk sosial, perlu bersosialisasi, perlu berinteraksi, perlu silaturahim, perlu saling menolong dalam kebaikan, atau bahasa agamanya adalah Habluminannas. Kepada siapa? Ya selain kepada keluarga dan kerabat, tentu juga pada orang-orang di sekitar kita, termasuk tetangga.

Dan, ada baiknya bila anak-anak (baik yang sudah besar, maupun yang masih kecil) juga dilibatkan untuk membangun hubungan dengan tetangga-tetangganya. Di perumahan tempat kami tinggal, bila ada pertemuan warga, biasanya yang hadir adalah bapak dan ibunya. Giliran bapak atau ibunya keluar kota, mereka enggan mengutus anaknya yang sudah cukup dewasa untuk mewakili. Jadilah para bapak dan ibu saling kenal, namun anak-anaknya saling cuek. Lha bagaimana bila kelak bapak dan ibunya sudah tak ada? Akan sayang sekali bila silaturahimnya terputus.

Lalu bagaimana cara membangun silaturahimnya? Mulai saja dari yang paling sederhana, seperti tersenyum dan menganggukkan kepala bila bertemu, lebih baik lagi bila sempat menyapa “Mari pak...mari bu...atau monggo pak...monggo bu...”, atau ketika memasak lebihkan porsinya lalu ketuk pintunya dan bagikan, jenguk bila ada yang sakit, ikut di pertemuan atau arisan atau pengajian warga, dll. Bila memungkinkan ajak juga anak untuk terlibat. Atau bisa juga mengajak anak kita yang masih kecil untuk main dengan anak tetangga.

Mungkin ini bukan hal yang mudah bagi yang tinggal di lingkungan perumahan maupun apartemen. Tapi, kita mulai saja dari diri kita sendiri, mulai dari hal sederhana yang bisa kita lakukan, dan mulai saat ini, mumpung masih ada waktu di dunia.

Sebagaimana pesan nabi...
"Tidak henti-hentinya Jibril berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai aku mengira seseorang akan menjadi ahli waris tetangganya." (HR Bukhari no. 6014)


Semoga bermanfaat...

Senin, 11 September 2017

BELAJAR DARI PARA ORANG TUA PENCIPTA GADGET

Bangun tidur lihat HP
Mau mandi lihat HP
Habis mandi lihat HP
Mau sholat lihat HP
Habis sholat lihat HP
Mau makan lihat HP
Habis makan lihat HP
Sambil nyetir motor lihat HP

Begitu kurang lebih bunyi pesan yang saya dapat dari sebuah grup Whats App. Ya, meski hanya sebuah persegi segenggaman tangan, namun HP alias smartphone alias gadget ini memang punya pengaruh yang luar biasa. Ia mampu mengubah rutinitas, sifat, cara berpikir, hingga perilaku manusia.

Kekuatan gadget ini juga mampu mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat. Pernah suatu hari ketika saya dan keluarga sedang makan di restoran, datanglah satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak laki-laki duduk di meja sebelah meja kami. Setelah duduk dan memesan menu, mereka mengambil gadget masing-masing dan langsung sibuk sendiri-sendiri. Ada yang menatap gadget-nya dengan tampang serius, ada pula yang sambil senyum-senyum sendiri. Tak lama kemudian minuman yang mereka pesan datang. Dan mereka pun minum, MASIH sambil menatap gadget masing-masing! Tangan kiri memegang sedotan, sementara tangan kanan memegang gadget dengan jempolnya yang terus bergerak. Hampir tak terjadi obrolan di antara mereka. Padahal mereka adalah satu keluarga yang duduk berdekatan dan berhadapan dalam satu meja! Weleh...weleh...

Rupanya, gadget ini pun tak hanya akrab di tangan orang dewasa, tetapi juga anak-anak, bahkan yang masih balita. Meski masih kecil, tidak sedikit anak-anak sudah lihai mengoperasikan gadget, malah ada juga yang lebih pintar dari orang tuanya. Dari mana mereka bisa tahu caranya? Tentu dari orang terdekat yang notabene adalah orang tuanya. Selain dikenalkan dengan cara diberitahu, tak jarang orang tua masih sibuuuk saja dengan gadgetnya ketika sedang bersama  anak-anak. Ada pula orang tua yang sengaja memberikan gadget pada anaknya agar bisa duduk manis dan tidak rewel. Maka tak heran bila muncul orang-orang dan anak-anak yang kecanduan gadget, tak bisa lepas dari gadget, bahkan hidup serasa berakhir bila gadget-nya hilang atau ketinggalan.

Lantas kalau orang tua awam sudah kecanduan gadget dan mengenalkan gadget pada anak-anaknya, bahkan pada yang masih balita, bagaimana dengan para orang tua pembuat gadget dan teknologinya ini? Dalam sebuah artikel menarik di majalah Intisari edisi November 2015 bertajuk “Kontradiksi Pendidikan Ala Lembah Silikon” disebutkan bahwa...

Alan Eagle yang bekerja di bagian komunikasi eksekutif Google, yang salah satu tugasnya ialah menulis pidato untuk direktur utama Google, bercerita bahwa anak perempuannya yang duduk di kelas 5 SD belum tahu bagaimana cara menggunakan Google. Sedangkan kakaknya yang duduk di kelas 8 baru belajar memakai Google. Sementara di sini anak SD sudah terbiasa googling untuk mengerjakan tugas sekolah. Eagle pun memilih untuk menyekolahkan kedua anaknya di Waldorf, sebuah sekolah alternatif di Amerika Serikat yang minim menggunakan gadget untuk kegiatan belajar mengajar, mengajari muridnya bersosialosasi dengan orang sekitar, dan rutin mengajak murid-muridnya bermain di tanah lapang atau bercocok tanam di lahan sekolah.

Bagaimana dengan Steve Jobs pendiri Apple? Dalam bukunya berjudul “Steve Jobs”, penulis Walter Isaacson menggambarkan keseharian keluarga Jobs di rumah. Setiap malam Steve makan malam bersama dengan keluarganya di sebuah meja makan di dapur mereka. Mereka berdiskusi tentang buku-buku, sejarah, dan lain sebagainya. Tak seorang pun yang mengeluarkan iPad atau gadget lainnya. Anak-anaknya pun tampak tak kecanduan tehadap gadget.

Evan Williams (pendiri Blogger, Twitter, dan Medium) bersama istrinya Sara Williams mengganti iPad dengan ratusan buku bagi kedua anak mereka. “Mereka bisa mengambilnya dan membacanya kapan saja” kata Evan.

Ada pula Pierre Laurent, mantan manajer pemasaran Microsoft dan Intel, menjauhkan anak-anaknya dari gadget hingga mereka cukup besar dan mampu menggunakanya sesuai kebutuhan. Anak-anaknya menyukai cerita, bermain dengan segala sesuatu, bernyanyi, membuat prakarya, berinteraksi dengan orang-orang di sekitar, dan berada di alam.

Wow! Mereka pencipta teknologi yang sehari-hari kita genggam di tangan dan kita lihatiiiin terus, ternyata SADAR bahwa tak seharusnya teknologi mengganti hal-hal berharga dan mendasar dalam hidup kita. Apa saja itu?

Pertama, meskipun gadget semakin hari kian canggih, namun tetap saja mereka mendorong anak-anaknya untuk memiliki kemampuan dasar dalam hidup, seperti bercocok tanam dengan cara tradisional dll. Sehingga ketika gadget atau teknologi tidak ada di tangan mereka, mereka tidak lantas mati atau dunia serasa kiamat. Mereka masih bisa survive!

Kedua, meski saat ini di gadget terdapat bermacam-macam sosial media, yang mampu menghubungkan kita dengan orang-orang dimanapun, nyatanya mereka tetap mengajarkan pada anak-anak untuk bersosialisasi dengan orang-orang di sekitar mereka secara langsung. Hal ini bisa membuat anak-anak peduli dan empati pada orang lain yang berada di sekitar mereka (bukan peduli pada orang-orang di tempat jauh yang sedang jadi viral di media sosial, namun cuek dengan orang di kanan kiri mereka).

Ketiga, meski dengan gadget canggih dan teknologi digital mereka bisa mendapat ilmu pengetahuan, ternyata mereka tetap mengajarkan dan membiasakan anak-anak mereka untuk membaca BUKU selembar demi selembar. Bagi saya pribadi, membaca buku manual dengan kertas-kertasnya tetap tak bisa tergantikan oleh buku-buku digital atau hasil pencarian google. Selain lebih aman untuk mata, saya sendiri merasa membaca buku manual membuat si pembaca menjadi lebih bijak dan sabar.

Keempat, sebagai orang yang berkecimpung di bidang teknologi dan sehari-hari bergelut dengan gadget, nyatanya para orang tua ini mampu hadir secara utuh baik fisik, pikiran, dan hati ketika sedang bersama anak-anak mereka. Meski mungkin secara kuantitas waktunya tidak banyak, namun mereka membuat waktu kebersamaan ini sangat berkualitas. Tentu hal ini sangat bermanfaat bagi pertumbuhan, perkembangan, dan masa depan anak-anak.

Kelima, para orang tua ini tentulah merupakan orang-orang yang update terhadap perkembangan teknologi, akan tetapi mereka tidak serta merta memberikan gadget pada anak-anak mereka begitu saja. Mereka justru memperkenalkan gadget pada saat mereka sudah yakin bahwa anak-anak mereka telah mampu menggunakannya dengan bijak. Tak seperti di sini, dimana bergadget anak orang maka harus bergadget pula anak kita, terlepas dari apakah mereka sudah mampu atau belum menggunakannya dengan bijak.


Semoga kita dapat belajar dari para orang tua pencipta gadget ini. Dan sebagai mana ilmu-ilmu parenting lainnya, bila kita ingin anak kita bijak menggunakan gadget, maka harus diawali dulu dari orang tuanya.

Selasa, 15 Agustus 2017

BELAJAR MENDIDIK ANAK DARI MONYET

George nama monyetnya, dari sebuah film kartun berjudul “Curious George”. Salah satu film kartun favorit saya dan iin (anak saya), yang di putar di salah satu stasiun televisi swasta setiap pagi. Mungkin Anda juga pernah menonton filmnya.

Izinkan saya mereview sedikit film kartun ini. Film ini bercerita tentang keseharian seekor monyet baik hati bernama George, yang cerdas, kreativ, pantang menyerah, suka menolong, dan memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi, sehingga judulnya “Curious George”.

George tinggal bersama seorang pria bernama “Pria bertopi kuning” (begitulah ia disebut dalam film itu, sebab pria itu memang selalu memakai topi berwarna kuning hehehe...), di apartemen di sebuah kota.

Namun adakalanya pula mereka berdua menghabiskan akhir pekan di sebuah desa tak jauh dari kota tersebut. Di desa itu, George memiliki banyak teman. Salah satunya ialah Bill, seorang remaja desa yang ramah dan sehari-hari bekerja sebagai loper koran.

Nah ada sebuah episode dari film “Curious George” yang menarik perhatian saya, sebab menurut saya di dalamnya terdapat sebuah pelajaran parenting yang cukup penting.

Saya lupa judul episode itu, namun kurang lebih begini ceritanya...

Suatu hari Bill dan George sedang asyik bermain layangan. Tiba-tiba angin kencang datang dan merusak layangan mereka. Meski sedih, akhirnya mereka berdua sepakat untuk membeli layangan baru.

Lalu Bill dan George datang ke sebuah toko layangan sambil membawa uang tabungan mereka masing-masing. Rupanya di toko itu dipajang sebuah layangan besar berbentuk seperti pesawat. Bill dan George sangat tertarik untuk membelinya. Sayang, ternyata uang tabungan mereka berdua tak cukup untuk membeli layangan itu. Kemudian si penjaga toko berkata :

“Kalau kalian memang sangat menginginkan layangan itu, kami akan menyimpan uang kalian ini, dan menyimpankan layangan itu untuk kalian sampai hari senin (saat itu hari sabtu). Semoga hari senin kalian sudah mempunyai uang untuk membayar sisanya”.

Mendengar hal itu, Bill dan George menjadi bersemangat. Masih ada harapan bagi mereka untuk memiliki layangan itu.

Dan, di sinilah pelajaran penting parentingnya...

Yang dilakukan oleh Bill dan Geroge setelah itu bukanlah pergi ke orang tua dan MEMINTA UANG untuk bisa membeli layangan yang mereka inginkan. Namun yang mereka lakukan ialah menyusun rencana untuk bisa MENDAPATKAN UANG.

Bill dan George lalu menelpon beberapa tetangga di desa dan menanyakan adakah pekerjaan yang bisa mereka berdua lakukan untuk hari minggu besok. Ternyata ada! dan cukup banyak, mulai dari mencabut rumput, mengecat gudang, menemani anjing tetangga jalan-jalan, dan banyak lagi.

Agar tidak bingung, Bill dan George membuat daftar urutan beserta estimasi waktu untuk setiap pekerjaan, agar semua pekerjaan dapat selesai dalam sehari.

Keesokan paginya mereka berangkat bekerja sesuai waktu yang ditentukan. Ternyata tidak mudah! Pekerjaan pertama ialah mencabut rumput di halaman seorang tetangga. Ternyata halamannya lebih luas dari yang mereka bayangkan, sehingga mereka berdua harus bekerja dengan lebih cepat agar tak meleset dari estimasi waktu yang sudah disusun.

Pekerjaan berikutnya ialah menemani anjing-anjing tetangga jalan-jalan. Selanjutnya ialah mengecat gudang. Bill dan George senang sekali karena sampai sejauh itu semuanya berjalan lancar sesuai estimasi waktu. Tiba-tiba ujian datang kembali. Hujan turun dan cat gudang yang masih basah itu pun luntur.

Bill dan George sedih, sebab mereka tak bisa menghentikan hujan dan pekerjaan-pekerjaan lainnya pun tertunda hingga hujan reda. Sambil menunggu di dalam gudang, mereka memutuskan untuk membagi pekerjaan, sebagian dilakukan oleh Bill dan yang sebagian lagi oleh George. Dan mereka langsung memulainya begitu hujan reda sebelum nanti turun kembali.

George kebagian melakukan pekerjaan di rumah sepasang suami istri petani, Pak dan Ibu Renkins. Karena hari sudah siang, Bu Renkins menawari George untuk makan siang dulu. George yang sudah lapar langsung menyetujuinya.

Sambil makan siang mereka bertiga mengobrol. Rupanya Pak dan Bu Renkins tahu dari penjual layangan bahwa Bill dan George sedang berusaha mengumpulkan uang untuk membeli sebuah layangan. Maklumlah, di desa berita mudah menyebar. Lalu dengan bahasa monyet, George bercerita bahwa pekerjaan mereka terganggu oleh hujan. Pak Renkins pun memberi nasehat semacam pepatah para petani, “kita memang tidak bisa mengendalikan cuaca, namun kita bisa menyiasatinya”. Artinya, jika cuaca di luar sedang tidak bagus, maka yang dilakukan oleh para petani ialah bekerja di dalam ruangan, seperti mengolah hasil pertanian untuk menjadi produk-produk baru.

Akhirnya George yang cerdas mendapat ide! Ia harus membagi pekerjaannya, mana pekerjaan yang di dalam ruangan (indoor) dan mana pekerjaan yang di luar ruangan (outdoor). Pekerjaan outdoor harus dilakukan selama hujan belum turun kembali. Dan bila hujan turun, mereka tinggal melakukan pekerjaan-pekerjaan indoor. George segera menemui Bill untuk memberitahukan idenya, dan Bill setuju.

Akhirnya semua pekerjaan pun selesai di hari minggu! Dan keesokan harinya mereka sudah memiliki uang untuk membeli layang-layang yang mereka inginkan!

Sungguh luar biasa! Meski saya mungkin terlalu tua untuk nonton kartun, namun saya ikut terharu dan senang Bill dan Geroge akhirnya mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan kerja keras dan pantang menyerah.

Di situlah pelajaran parentingnya. Bagi saya, penting untuk mengajarkan pada anak bahwa dalam hidup ini kita memang harus bekerja keras dan pantang menyerah untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, sebab yang kita inginkan itu tak langsung jatuh dari langit.

Dan ini bisa ditanamkan dalam diri anak-anak sejak mereka masih kecil, sesuai dengan tingkat pemahaman dan kemampuan mereka. Biasakan mereka untuk bekerja atau berusaha terlebih dulu sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan. Hal-hal yang berupa sandang, pangan, papan, dan sekolah merupakan kewajiban orang tua untuk memenuhinya. Sedangkan hal-hal yang sifatnya keinginan, bagi saya, anak harus bekerja dulu untuk mendapatkannya.

Beberapa waktu yang lalu iin (anak saya) minta dibelikan stiker dinding. Lalu saya ajak ia membuat celengan dari mangkok plastik bertutup. Atasnya saya lubangi untuk celah memasukkan uang. Lalu saya katakan padanya...

“Sayang, harga stiker dindingnya kan sepuluh ribu. Nah iin kerja dulu bantu bunda. Setiap pekerjaan iin bunda hargai lima ratus rupiah, atau iin juga boleh bikin hiasan dari kertas lipat, nanti bunda beli hiasannya. Terus uangnya iin masukkan ke mangkok ini. Nanti kalau sudah terkumpul sepuluh ribu, kita beli stiker dinding. Oke?”

Dan kami pun sepakat. Tentu pekerjaannya saya sesuaikan dengan kemampuan iin, seperti membantu saya menyapu lantai, merapikan tempat tidur, menggulung karpet setelah acara arisan di rumah, menjemur cucian, menyiram rumput, membuat bentuk-bentuk dari kertas lipatnya, dll. Saya tidak melihat hasilnya, karena tentu hasilnya belum sempurna, tapi saya melihat usaha dan kesungguhannya.


Suatu kali setelah membantu saya menjemur cucian, ia berkata “Fiuhhh...capek bun..”. Dan saya pun menjawab “Semangat nak, dalam hidup ini kita memang harus kerja keras, tapi nanti hasilnya akan terasa manis.” Mungkin jawaban saya masih terlalu abstrak untuk otak 4 tahunnya, tapi semoga suatu hari nanti ia memahaminya.

Kamis, 27 Juli 2017

BELAJAR PARENTING DARI LAUNDRY


Di Jogja ini kami tinggal di rumah yang dikelilingi oleh sejumlah kampus. Karena itulah di sekitar sini bermunculan usaha-usaha yang berhubungan dengan kebutuhan mahasiswa, mulai dari warung makan, warung internet, rental komputer, fotocopy, mini market, jual pulsa dan kuota, hingga laundry. Dari sekian banyak jenis usaha yang menjawab kebutuhan mahasiswa itu, ada satu yang menarik perhatian saya, yakni laundry.

Mengapa laundry? Sebab, di sini hanya setiap beberapa meter saja Anda akan menjumpai laundry, bahkan ada pula yang bersebelahan namun beda pemilik. Uniknya, meski mereka berdekatan bahkan berdempetan, nyatanya setiap laundry tersebut tetap kebanjiran order cuci dan setrika. Wah wah wah apakah mahasiswa zaman sekarang begitu sibuknya hingga tidak sempat lagi mencuci dan menyetrika pakaiannya sendiri? Seingat saya, ketika kuliah dulu, saya dan teman-teman saya, minimal yang satu kos dengan saya, juga sibuk, tapi masih sempat mencuci dan menyetrika pakaian sendiri. Saat itu usaha laundry sudah ada, tapi belum sebanyak sekarang.

Tentu boleh-boleh saja mencucikan atau menyetrikakan pakaian di laundry. Namun bagi saya, kemampuan mencuci baju sendiri, menyetrika, memasak, bersih-bersih adalah kemampuan dasar yang perlu dimiliki oleh setiap orang. Minimal BISA dan TERBIASA, tak harus menjadi yang ahli. Mungkin terlihat sepele, tapi kemampuan-kemampuan itu sesungguhnya kita butuhkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebab kita tak selalu dapat mengandalkan orang lain melakukannya untuk kita atau kita tak selalu memiliki uang untuk membayar jasanya.

Kemampuan-kemampuan dasar seperti itu pun akan sangat berguna, baik ketika kita masih hidup sendiri (single) maupun ketika sudah berumah tangga. Tak jarang saya mendengar ibu-ibu yang mengeluh betapa lelahnya mereka melakukan pekerjaan rumah tangga, mulai dari bersih-bersih rumah, memasak, mencuci baju orang-orang serumah, menyetrikanya, belum lagi ditambah harus mengurus anak. Lha kemana para ayah? Terlalu sibuk mencari nafkah? Atau terlalu fokus berkarya untuk masyarakat? Atau sejak kecil tak terbiasa bahkan tak bisa melakukan pekerjaan- pekerjaan rumah tangga tersebut?

Bayangkan bila para ayah ikut membantu meringankan pekerjaan rumah para ibu. Kalau mencuci baju orang-orang serumah tidak sempat, minimal cucilah sendiri baju Anda, setrikalah sendiri pakaian Anda sebelum berangkat kerja, cuci sendiri piring Anda setelah makan. Jika Anda pulang kantor dan ternyata istri Anda belum sempat masak, miminal Anda bisa masak nasi sendiri di rice cooker dan goreng telor. Syukur syukur kalau goreng telornya lebih dari satu, biar bisa sekalian untuk istri dan anak Anda juga hehehe... Sangat bermanfaat kan?

Nah, agar bisa dan terbiasa, ada baiknya kemampuan-kemampuan dasar tersebut ditumbuhkan sejak masih anak-anak, baik anak perempuan maupun anak laki-laki. Berikan kesempatan mereka untuk mencoba melakukannya. Karena anak-anak adalah makhluk dengan rasa ingin tahu yang sangat tinggi dan suka meniru, biasanya mereka ingin ikut menyapu bila ibu atau ayahnya menyapu, ingin ikut pencet mesin cuci, ikut aduk-aduk masakan, ikut cuci piring atau cuci mobil sambil main air, dan lain-lain. Dari pada menyuruh mereka minggir jauh-jauh apalagi memarahi (sebab sesungguhnya niat mereka baik, tapi biasanya hasilnya berantakan hehehe...), lebih baik kita beri kesempatan mereka untuk mencobanya (tentu masih dalam pengawasan kita), sambil memberi penjelasan tentang pekerjaan yang sedang mereka lakukan, sekaligus berikan apresiasi juga untuk mereka.

Misalnya :
“Adek mau ikut Ayah cuci baju? Yuk kita ambil bangku kecil, duduk di sebelah Ayah sini ya... Bajunya sudah Ayah rendam pakai air sabun. Sekarang kita kucek yuuk.. Adek kucek kaos kaki adek yaa..begini caranya...”

“Adek mau ikut bunda cuci piring? Yuk yuk kita ambil bangku dulu, berdiri dekat bunda sini...Nah kita mulai cuci piringnya ya. Yang ini namanya spons. Sponsnya  kita kasih sabun yuk. Terus kita gosok piringnya pakai spons sampai berbusa. Kita bisa bikin balon sabun juga lho... Nah sekarang piringnya kita mandiin di bawah pancuran yaaa... Sudah selesaiii! Asyik kan... Terima kasih ya sayang sudah bantu bunda cuci piring...”


Semoga dengan terus diberi kesempatan mencoba, diajari dengan sabar dan menyenangkan, serta diapresiasi, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, bermanfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain. Aamiiin...

Selasa, 16 Mei 2017

KATAKAN MAAF, NAK...


Suatu hari ketika sedang makan malam, tiba-tiba ayah menggebrak meja makan. Saya yang saat itu sedang mengerjakan PR di dalam kamar langsung kaget. Karena penasaran tapi juga takut, saya buka pintu kamar sedikit dan mengintip ke ruang makan. Dengan nada marah ayah berkata “Makanan kok nggak ada yang enak sih!”. Kemudian dengan nada pasrah ibu mejawab “Saya sudah berusaha masak...”.

Perasaan saya langsung campur aduk nggak karuan melihat kejadian itu. Di satu sisi saya sedih dan sangat kasihan melihat ibu. Sebab ibu pasti sudah susah payah menyiapkan makan malam. Saya masih ingat, malam itu ibu masak rawon dan beberapa lauk lain. Dan menurut saya rasanya enak. Masak rawon kan tidak sesederhana nyeplok telur atau goreng tempe. Apalagi sekarang saya juga sudah jadi istri dan ibu. Saya semakin tahu bagaimana rasanya bila masakan yang sudah saya buat dengan susah payah tidak dihargai apalagi dibilang nggak enak oleh suami. Saya pun jadi marah dan sebal melihat perbuatan ayah itu.

Namun di sisi lain, saya yakin ayah tidak bermaksud berbuat kasar pada ibu. Sebab ayah termasuk tipe yang santun dan jarang marah, tapi sekalinya marah maka gempar lah seisi rumah hehehe.... Ayah pun saat itu memang sedang tidak enak badan dan mungkin juga sedang banyak tekanan di kantor, sehingga ayah berkata seperti itu pada ibu.

Kejadian itu melekat sangat sangat kuat dalam ingatan saya. Saya tahu, ada kalanya dalam perjalanan rumah tangga, suami pernah menyakiti istri, atau istri pernah menyakiti suami, dengan bentuk dan kadar yang beragam. Sebab suami dan istri sama-sama hanya manusia biasa, tak lepas dari salah dan khilaf. Tapi ada satu hal yang barangkali sering terlewatkan, yakni meminta MAAF atas kekhilafan yang telah dilakukan.

Ya, walaupun hanya empat huruf dan hanya butuh satu tarikan nafas untuk mengucapkannya, nyatanya tak selalu mudah mengucap maaf. Alasannya bisa karena gengsi atau karena sejak kecil memang tidak terbiasa meminta maaf bila melakukan kesalahan, sehingga kurang memiliki empati, tidak merasa bersalah telah menyakiti orang lain, dan bahkan kesulitan mengucap MA-AF.

Sehingga, sebelum tumbuh menjadi orang dewasa yang sulit meminta maaf, maka sejak dini sangatlah penting untuk mengajari anak tentang maaf dan memaafkan. Bagaimana caranya?

Bisa jadi, kita sebagai orang tua seringkali menjumpai anak kita melakukan beragam kesalahan, misalnya menumpahkan makanan atau minumannya, memecahkan barang, merusak mainan, memencet-mencet laptop atau smartphone kita, menyobek buku atau pekerjaan kantor, menjahili adeknya, dan lain sebagainya. Dari pada meresponnya dengan membentak, memarahi, mengatainya nakal, mencubitnya, apalagi memukul, maka jauuuuuuh lebih baik kita mendekatinya, mensejajarkan tubuh kita dengannya, menatap matanya lekat-lekat, dan berkata dengan intonasi yang tenang namun dalam...

“Anakku sayang, kenapa kamu lakukan itu?”
Beri ia kesempatan untuk menjawabnya hingga tuntas.
Dan lanjutkan berkata “Apa yang kamu lakukan tadi itu adalah suatu kesalahan. Tolong jangan ulangi lagi. Dan sekarang ucapkan MA-AF”. Setelah ia mengucapkannya, katakan “Terima kasih nak karena sudah meminta maaf”. Lalu beri tahu ia apa konsekuensi dari kesalahannya. Misalnya bila ia tadi menumpahkan makanan atau minuman, maka ajak ia bersama-sama membersihkan tumpahannya.  

Pelajaran yang sama juga berlaku ketika anak berbuat salah pada selain orang tuanya, misalnya pada kakaknya, adiknya, saudaranya, temannya, bahkan pada pengasuhnya, asisten rumah tangganya atau orang yang tak dikenalnya sekalipun ia tak sengaja.

Tentu saja pelajaran mengucap maaf ini akan menjadi sia-sia, jika kita sebagai orang tua tak pernah meminta maaf pada anak ketika berbuat salah padanya. Maka bila kita menyakiti atau mengecewakan anak, katakan padanya “Nak, ayah/bunda minta maaf ya karena sudah.... Mau kah kamu memaafkan ayah/bunda?”.  Dari sini anak akan belajar bahwa setiap orang tak lepas dari kesalahan. Ia juga melihat bahwa orang tuanya tak gengsi untuk meminta maaf. Dan di saat yang bersamaan, anak pun belajar tentang ME-MAAF-KAN.

Semoga dengan cara ini anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang peka akan kesalahannya dan mudah untuk memaafkan. Semoga orang tuanya pun menjadi orang tua yang tak segan meminta maaf pada siapapun serta mampu memaafkan kesalahan,  baik kesalahan anak maupun kesalahan pasangan. Aamiiin... 

Minggu, 02 April 2017

MENGAPA SUB KONTRAKKAN ANAK KE TANGAN ORANG LAIN ???


Beberapa waktu lalu selepas isya’, saya, iin, dan ayahnya dikejutkan oleh suara anak tetangga yang sedang menangis di balkon rumahnya. Sebetulnya bukan kali itu saja kami mendengarnya menangis, namanya juga anak-anak. Tapi kali itu si anak menangis sampai meraung-raung. Dan yang lebih membuat kami kaget adalah suara si mbah nya yang berteriak “Diem! Diem!” dengan nada membentak. Namun si anak yang belum genap 2 tahun itu malah menangis semakin keras. Akhirnya si anak diajak masuk ke dalam rumah, sehingga suaranya tidak terdengar lagi, mungkin sungkan juga kalau mengganggu tetangga yang lain. Kami bertiga sama-sama speechless, lalu ayahnya iin bilang “Kasihan...mungkin kangen sama orang tuanya...”

Ya, si anak yang menangis itu memang tidak tinggal bersama ayah ibunya. Ia tinggal bersama mbah putrinya dan beberapa saudara yang lain di rumah itu. Ayah dan ibunya bekerja di jakarta dan baru mengunjungi si anak (di jogja) setiap sabtu pagi, lalu minggu sorenya sudah kembali lagi ke jakarta.

Suatu hari saya pernah bertanya pada si mbah putri “Wah apa nggak capek bu kalau (bapak ibunya si anak) harus bolak balik seperti itu setiap minggu?” Lalu beliau menjawab “Iya, saya sudah bilang sama ibunya ke sininya sebulan sekali saja, biar nggak capek..” Lah??! Sebulan sekali?? Ditinggal seminggu saja si anak sering menangis begitu, apalagi ditinggal sebulan?

Saya menghela nafas dalam-dalam. Cerita seperti ini sungguh tidak asing bagi saya, mungkin juga bagi Anda. Ayah dan ibu sama-sama bekerja, sehingga si anak yang masih kecil dititipkan pada kakek/nenek/baby sitter/daycare/pembantu/dll. Malah seorang teman yang juga membantu di sebuah daycare pernah bercerita ada seorang ibu hamil datang ke daycare itu, melihat-lihat, kemudian dengan yakin berkata “Pokoknya nanti anakku tak titipkan sini yaa..” Weleh weleh...belum juga lahir, sudah mau dititipin? Dan ternyata fenomena seperti ini tak hanya terjadi di keluarga dengan ekonomi menengah ke atas yang punya uang untuk menyewa baby sitter atau daycare, tapi juga keluarga ekonomi menengah ke bawah. Tetangga saya yang agak jauh pun menitipkan anaknya yang balita ke mbahnya, sebab si suami jualan di pasar X sementara si istri jualan di pasar Y.

Memang, setiap orang tua yang menitipkan anaknya untuk diasuh oleh orang lain punya alasannya masing-masing, mulai dari alasan membantu perekonomian keluarga sehingga keduanya sama-sama bekerja, atau ibu ikut bekerja di luar rumah sebab sudah sekolah tinggi-tinggi masa’ ijazah dan ilmunya nggak dipakai, alasan agar bisa berkarya dan bermanfaat untuk orang lain, serta alasan-alasan lainnya. Dan suami atau ayah sebagai pemimpin di keluarga pun merelakannya, hingga kompak untuk menitipkan anak yang masih balita atau bahkan bayi ke pihak ketiga.

Mungkin ada yang berpendapat Kan nggak masalah kami menitipkan anak ke kakek dan neneknya yang masih keluarga kandung... Kan kami menitipkannya ke baby sitter yang profesional... Kan sebelum dititipkan di daycare x kami sudah cek dulu keamanan kebersihan dll nya...

Monggo monggo saja bapak ibu...hanya, ada hal mendasar yang harus disadari oleh setiap orang tua, terutama yang menitipkan anak ke pihak ketiga.

Dalam sebuah seminar yang videonya saya dapatkan dari youtube, Bu Elly Risman (psikolog dan pakar parenting) berkata “Bukankah setiap sperma bertemu dengan sel telur, kita jadi baby sitternya Allah? Lalu kenapa sub kontrakkan anak ke tangan orang lain?”

Yap, ketika sprema bertemu dengan sel telur dan lahirlah seorang anak, sesungguhnya Allah menitipkan anak itu pada orang tuanya, bukan pada kakek, nenek, eyang, si mbah, om, tante, daycare, baby sitter, asisten rumah tangga, dll. Tapi pada AYAH DAN IBUNYA!

Allah meminta orang tua menjaga, merawat, dan mendidik titipanNya dengan baik, bukan sekedar memberi makan, pakaian, mainan, sekolah atau rumah.

Anak pun sesungguhnya membutuhkan kehadiran lahir batin, perhatian, sentuhan, kasih sayang, kata-kata yang baik dan didikan dari orang tuanya. Bukan dari ayah saja, bukan dari ibu saja, bukan dari kakek nenek daycare baby sitter dll, namun dari keduanya, dari AYAH DAN IBUnya. Sungguh, kehadiran fisik dan hati dari ayah dan ibu akan sangat sangat memberi arti bagi kehidupan seorang anak hingga akhir hayatnya. Lebih-lebih anak-anak usia bayi dan balita.

Rasulullah SAW membagi fase umur setiap manusia dalam ruang lingkup parenting dan pendidikan menjadi 3, yakni fase 7 tahun pertama, 7 tahun kedua, dan 7 tahun ketiga. Fase 7 tahun pertama adalah pondasi untuk 7 tahun kedua dan 7 tahun ketiga. Bila orang tua berhasil membesarkan, mendidik dengan tepat, serta menjalin hubungan yang baik dengan anak di fase 7 tahun pertama (golden age), ini akan menjadi bekal bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, serta memudahkan hubungan orang tua dengan anak di fase-fase berikitnya. Dan fase itu tak bisa kita ulang atau putar kembali!

Karena itu, masih di video yang sama, bu Elly berpesan pada para suami agar berkata pada istrinya “Tinggal di rumah, kamu asuh anak kita, hidup qona’ah (sederhana), bukan kantor dan uangku yang mencukupkan kita, tapi Allah yang mencukupkan kita”. Dan berpesan pada para istri “Kurangi sedikit kegiatan kalau punya anak lagi (usia) tanggung di rumah. Nanti pinterin anak orang, anak sendiri kedodoran”. Saya sepakat, memang salah satu dari ayah atau ibu harus di rumah untuk mengasuh anak, terutama yang masih di fase 7 tahun pertama. Di rumah pun tak berarti tidak bisa mendapat penghasilan dan menambah ilmu, kan? Apalagi sekarang internet dan teknologi dapat sangat membantu untuk itu.

Satu lagi, menjadi orang tua adalah pekerjaan yang amat sangat sangat berat, sehingga butuh ILMU yang cukup dan energi lahir batin yang besar untuk menjalaninya. Tak bisa sekedar mengandalkan bekal bagaimana cara orang tua kita dulu mendidik kita, sebab cara itu belum tentu tepat. Zaman berubah dan tantangan mendidik anak terus bertambah. Ilmu dan energi lahir batin itu juga harus dimiliki oleh siapapun pihak ketiga yang mengasuh anak kita. Tak heran bila si mbah di awal cerita saya tadi membentak cucunya. Saya yakin bukan karena tidak sayang. Tapi apalah daya, fisik si mbah/eyang/kakek/nenek memang tidak didesain untuk mengurus anak kecil.

Cukup banyak artikel tentang hal-hal apa yang harus dilakukan oleh orang tua sebelum menitipkan anaknya pada kakek nenek, baby sitter, daycare, dll. Anda bisa mencari dan membacanya. Saya hanya ingin mengajak setiap orang tua yang menitipkan anaknya pada pihak ketiga untuk bertanya pada hati nurani masing-masing dan menjawab dengan jujur “Mengapa saya sub kontrakkan anak ke tangan orang lain? Jawaban apa yang akan saya beri ketika kelak Allah mempertanyakannya?”. Bila sudah siap dengan jawabannya, silahkan tentukan langkah selanjutanya.

Kamis, 09 Maret 2017

BELAJAR DARI PERCERAIAN

Beberapa hari lalu saya iseng-iseng nonton tv, sambil santai sejenak sebelum tancap gas lagi mengerjakan pekerjaan rumah. Saya pilih nonton infotainment saja, untuk sekedar hore-hore alias hiburan ringan, karena jenuh tv-tv lain membahas kedatangan seorang raja ke Indonesia.

Rupanya sebuah infotainment sedang menyiarkan sebuah jumpa pers dari seorang selebritis, atau mungkin lebih tepatnya istri selebritis. Jumpa pers itu adalah penjelasan dari si istri bahwa betul rumah tangganya sedang diambang perceraian karena sang suami telah menjatuhkan talak. Sambil berair mata ia bercerita bahwa dirinya sudah melakukan segala upaya termasuk bersujud dan mencium kaki suaminya agar tidak terjadi perceraian. Saya sendiri kaget, karena seingat saya mereka ini baru saja menikah beberapa waktu yang lalu. Dan ternyata betul, si istri di jumpa pers itu menyebutkan bahwa rumah tangga mereka baru berjalan 8 bulan! Sudah akan cerai?

Saya tak ingin berkomentar lebih jauh tentang mereka, karena itu urusan rumah tangga mereka yang sifatnya sangat sangat pribadi. Tentu saya hanya orang luar  yang tidak tahu menahu tentang urusan itu, sangat luar, karena saya memang nggak kenal mereka. Tapi kalau boleh jujur, apa yang saya tonton pagi itu membuat hati ini sedih, karena teringat kembali dengan kata-kata dari Bunda Elly Risman. Kurang lebih kalau saya sarikan intinya, begini perkataan beliau “Banyak orang tua yang menyiapkan anaknya untuk berprestasi secara akademik, jadi juara kelas, juara ini juara itu, kuliah di perguruan tinggi ternama, dapat pekerjaan yang bergaji banyak dll. Namun... tak banyak orang tua yang menyiapkan anaknya untuk kelak menjadi suami yang sholih dan istri yang sholihah”.

Yap bapak ibu dan teman-teman, mendidik anak agar kelak mereka memiliki bekal yang cukup untuk berumah tangga adalah juga kewajiban kita sebagai orang tua! Dan bekal untuk berumah tangga tidak hanya cinta!

Lalu bekal apa yang harus diberikan pada anak-anak supaya kelak mereka siap memasuki hidup baru yang masih abstrak bagi mereka (menjadi suami atau istri)?

  1. Bekal komunikasi. Salah satu masalah besar yang kerap kali terjadi dalam rumah tangga dan sering menjadi penyebab perceraian ialah masalah komunikasi antara suami dan istri. Apalagi suami dan istri punya latar belakang dan dibesarkan dalam keluarga yang berbeda dan punya cara ngomong yang berbeda pula.
Sehingga kita perlu mengajarkan kepada anak- anak kita agar bisa berkomunikasi dengan baik. Tak hanya mengajari mereka agar bisa bicara, namun mengajari mereka untuk berani mengungkapkan apa yang mereka rasa perlu untuk mereka ungkapkan. Bukan yang “ingin”, tapi yang “perlu” untuk diungkapkan.

Ajari mereka agar bisa berbicara dengan santun kepada siapapun, terbiasa untuk mengucapkan maaf bila berbuat salah sekecil apapun, mengucapkan terima kasih bila ada kebaikan dari orang lain sesederhana apapun itu, mengucapkan tolong jika butuh bantuan, dan memaafkan kesalahan orang lain.

Ajari pula mereka tentang filisofi mengapa Allah memberi kita 2 telinga dan 2 mata, namun hanya 1 mulut. Yakni biasakan mereka untuk mendengar (listening not only hearing). Sebab banyak orang bisa berbicara dan ingin didengarkan, namun tak banyak orang yang bisa (bersedia) mendengarkan.

  1. Perlu juga mengajari anak-anak agar punya jiwa usahawan. Tak ada salahnya membiasakan mereka sudah bisa cari uang sendiri sejak kecil dan menabung untuk hari esok yang tak terduga. Bila mereka gagal, terus berikan semangat. Sampaikan bahwa dengan gagal berarti kita tahu bahwa cara yang kita pakai tidak berhasil sehingga kita harus memikirkan cara yang lain, it’s not the end of the world and life must go on, kids!
  2. Tak perlu malu dan tabu memberikan pendidikan reproduksi pada mereka. Ajari mereka mengenal jenis kelamin mereka dan jenis kelamin yang lain, ajari bagaimana cara berpenampilan sesuai jenis kelaminnya dan menutup auratnya, ajari nama biologis dan kegunaan organ-organ tubuhnya termasuk organ reproduksi dan bagaimana cara menjaga serta merawatnya dll, termasuk segala sesuatu tentang hubungan suami istri atau hubungan intim. Tentu saja pendidikan reproduksi ini diberikan sesuai usia dan tingkat pemahaman mereka, dengan bahasa yang mudah mereka pahami pula.
  3. Kalau yang ke empat ini sebetulnya sharing dari pengalaman pribadi. Ketika sedang ada masalah dengan pasangan, seseorang pernah memberikan sebuah nasihat analogi pada saya.
Begini analoginya...

Misalnya kita jatuh cinta pada seseorang, katakanlah seorang aktor top korea. Orangnya tampan, baik sekali dan ternyata ia juga sangat suka pada kita. Lalu suatu hari, sebagai tanda cintanya, ia memberi kita seekor kucing, minta tolong kita untuk menjaganya sebentar. Tentu kita akan berusaha menjaga si kucing dengan sebaik mungkin, takut kalau sampai si aktor tahu kita tidak merawatnya dengan baik.

Nah senakal-nakalnya kucing itu, kita ingat bahwa kita mencintai si aktor (pemilik kucing itu) dan si aktor juga mencintai kita, dan kucing ini adalah titipannya, maka kita tak akan terlalu sedih ketika si kucing mencakar atau bahkan menggigit kita.

Ketika si kucing menyakiti kita, kita tinggal telpon si aktor dan berkata “Aktor...kucingmu ini menyakitiku. Tolong beri tahu aku cara menghadapinya....”

Memang ini analogi yang cukup unik hehehe...tapi analogi ini cukup masuk akal bagi saya dan mampu menguatkan saya ketika ada masalah rumah tangga. Sebab sesungguhnya suami/istri, anak, mertua, dll bukan milik kita. Mereka adalah titipan dari Allah, Dzat yang seharusnya jauh lebih kita cintai. Jadi kalau ada apa-apa, kembalikan padaNya.

Nah, analogi ini bisa kita sampaikan pada anak-anak ketika mereka akan menikah. Sehingga kita sebagai orang tua tak hanya disibukkan dengan urusan gedung, undangan, katering, dll.

Dan banyak lagi bekal yang bisa diberikan pada anak-anak agar kelak mereka dapat mengarungi kehidupan rumah tangga dan amanah dengan kewajibannya. Yang jelas, mulai saat ini, masukkan poin menjadi suami sholih dan menjadi istri sholihah sebagai tujuan mendidik dan membesarkan anak, tak hanya agar mereka menjadi juara kelas.

Semoga bermanfaat.