Rabu, 11 September 2019

PENTINGNYA NGOBROL ENAK DENGAN ANAK



Masih tentang mengajari anak bicara.

Izinkan saya membawa anda flashback ke tahun 2004. Tahun di mana saya menjadi mahasiswa baru di sebuah universitas. Ada satu peristiwa yang sangat berkesan bagi saya dan masih saya ingat sampai sekarang.

Saat itu, sebagai mahasiswa baru, saya dan teman-teman se-angkatan diwajibkan untuk mengikuti acara malam keakraban selama dua hari satu malam di sebuah daerah wisata alam. Acara ini bertujuan untuk membuat kami saling mengenal satu angkatan, mengenal kakak-kakak senior kami, mengenal dosen-dosen kami, dan mengenal apa saja yang akan kami pelajari selama berkuliah nanti.

Hari pertama acara berjalan menarik. Banyak ilmu yang kami dapatkan melalui pemberian materi dan games-games seru. Malamnya acara ditutup dengan api unggun dan penampilan dari kami yang sudah dibagi dalam beberapa kelompok. Selepas acara api unggun, kami dipersilahkan istirahat di tenda peserta.

Karena banyaknya persiapan yang harus kami lakukan, lelahnya perjalanan dari kampus hingga tempat tujuan, dan padatnya acara hari itu, kami pun tertidur pulas. Tiba-tiba, bak petir di siang bolong, dini hari kami dikagetkan oleh kegaduhan dari para senior yang masuk ke tenda peserta dan membentak-bentak kami untuk segera bangun dan keluar dengan cepat. Dengan setengah sadar dan agak linglung kami bangun lalu bergegas bersepatu dan keluar dari tenda. Kami pun disuruh berbaris di dekat bekas api unggun. 

Para senior terus membentaki kami. Tak sedikit pula hujatan dan makian yang mereka lontarkan pada kami. Singkat cerita, kata mereka, ada salah satu teman kami yang kedapatan membawa botol minuman keras di tas nya. Dan mereka meminta pertanggungjawaban kami semua. Dalam keadaan kedinginan, kelelahan dan pikiran yang masih loading karena dibangunkan secara mendadak, tidak ada dari kami yang menjawab. Kami belum bisa berpikir dengan utuh. Para senior terus menekan dengan bentakan-bentakan. Sampai akhirnya ada salah seorang teman kami yang sungguh berani mengacungkan tangan. Walaupun dengan kondisi yang belum loading sepenuhnya juga, ia berkata “Kalau yang kedapatan membawa botol minuman keras adalah satu orang, kenapa yang disuruh bertanggung jawab malah satu angkatan, bukan kah kami menyiapkan tas kami sendiri-sendiri di rumah masing-masing, jadi jelas itu bukan tanggung jawab kami dan silahkan minta pertanggungjawaban pada yang bersangkutan!”

Kemampuannya memikirkan jawaban yang masuk akal dan keberaniannya untuk mengungkapkan walau ditekanan bertubi-tubi secara psikologis oleh banyak orang itu begitu berkesan bagi saya, sebab tak semua orang mampu begitu. Banyak juga yang tak mampu bergagasan atau berpikir kritis terhadap sesuatu yang terjadi. Dan tidak sedikit pula yang sejatinya bisa berpikir namun tak cukup berani untuk berbicara tentang kebenaran sehingga lebih memilih diam saja agar “selamat”. Padahal kemampuan berpikir dengan kritis dan keberanian menyampaikan pendapat adalah dua bekal penting yang perlu dimiliki setiap manusia agar tak mudah terseret arus apa-apa yang sedang hits saat ini dan mampu survive dalam hidup.

Nah, kedua bekal itu tentu tak bisa langsung muncul pada diri seseorang. Ia adalah hasil dari sebuah proses panjang pemupukan dan pembelajaran tentang kemampuan berpikir dan keberanian berpendapat. Sehingga tentu akan lebih baik bila proses pembelajaran dan pemupukan ini dimulai sejak seseorang masih anak-anak.

Oleh siapa?
Tentu saja yang utama adalah oleh kita semua, orang tuanya.

Caranya?
Salah satunya ialah dengan NGOBROL bersama anak.

Mengapa mengobrol?
Sebab dengan ngobrol, selain kedekatan dan komunikasi di antara orang tua dan anak dapat terbangun dengan baik, sejatinya kita sedang memancing mereka untuk berpikir dan memberikan kesempatan pada mereka untuk membicarakan pemikirannya. Tentu saja ngobrol nya haruslah ngobrol yang enak. Yang seperti apakah itu? Mari kita lihat pada diri ayah bunda.

Pertama, ketika ayah bunda sedang ngobrol, lebih enak jika ayah bunda sama-sama duduk atau yang satu duduk sementara yang satu lagi berdiri? Tentu akan lebih nyaman jika ayah dan bunda sama-sama duduk, bukan? Apalagi dengan santai dan dengan pandangan mata atau eye level yang sejajar.

Kedua, ketika ayah bunda sedang ngobrol, apakah lebih nyaman bila ayah bunda saling menatap atau salah satu sedang melihat yang lain seperti sedang melihat HP atau televisi? Sudah barang tentu lebih nyaman kalau ayah bunda saling menatap kan? Sebab ayah bunda akan merasa didengarkan, dihargai dan tidak dianggap sambil lalu saja.

Ketiga, ketika ayah bunda sedang ngobrol, lebih enak jika pembicaraannya terjadi dua arah (artinya baik ayah maupun bunda punya kesempatan yang sama untuk berbicara) atau satu arah saja? Saya yakin ayah bunda akan memilih pembicaraan dua arah, sebab kalau hanya salah satu pihak saja yang terus-terusaaaaan bicara sementara yang lain tidak diberi kesempatan, maka itu bukanlah ngobrol melainkan pidato.

Dan keempat, ayah bunda lebih suka ngobrol berjauh-jauhan misalnya yang satu di dapur dan yang satu di teras depan atau ngobrolnya berdekatan? Jelas pasti memilih ngobrol berdekat-dekatan ya, sebab bisa sambil saling berhadapan, saling melihat, perhatian akan lebih fokus, dan tidak perlu berteriak-teriak hehehe...

Jadi, sudah pernah kah ayah bunda ngobrol dengan anak? Semoga ayah bunda semua menjawab “Sudaaaaah” bahkan “Seriiiiiiing” atau “Setiap hariiiiii”. Sebab tak sedikit orang tua yang lebih suka pidato panjang lebar dengan anak, dengan posisi berjarak, lalu orang tua berdiri kalau perlu kedua tangan di pinggang sementara anaknya duduk dan harus mendongak ke atas, atau anaknya sedang berusaha untuk membuka obrolan dengan bercerita tentang temannya atau apa yang sedang menarik perhatiannya, namun orang tuanya justru fokus pada HP atau pada acara di televisi. Bila ayah bunda yang ada di posisi anak, apakah ayah bunda masih akan suka ngobrol dengan orang tua yang seperti itu? Dan bila yang seperti itu terjadi terus menerus, maka lama-kelamaan hubungan ayah bunda dengan anak bisa makin menjauh walaupun tinggal dalam satu rumah dan setiap hari bertemu, dan tak usah heran bila di suatu titik waktu nanti ayah bunda merasa tidak paham dengan kemauan anak bahkan merasa tidak mengenal mereka lagi, atau bahkan anak-anak menjadi mudah sekali terseret arus ini dan itu yang sedang hits hanya karena teman-temannya begitu, yang belum tentu arus itu bermanfaat bagi mereka bahkan bisa merugikan diri mereka sendiri. Na’udzubilllahimindzalik...

Dengan demikian ayah bunda yang baik, yuk biasakan ngobrol yang enak dengan anak-anak, agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang mampu berpikir kritis, berani menentukan pilihan sikap, dan tak takut menyuarakannya. Mulai saja dengan bertanya pada mereka dan dengarkan dengan segenap jiwa raga jawaban-jawabannya.

Semoga bermanfaat.

Senin, 05 Agustus 2019

ANAK BISA BICARA SAJA TIDAKLAH CUKUP


Beberapa waktu yang lalu iseng-iseng saya menonton sebuah acara talkshow di TV. Talkshow yang presenternya adalah salah satu presenter favorit saya itu menghadirkan bintang tamu seorang artis perempuan yang sedang hamil muda anak pertama.

Mengapa artis tersebut diundang? Rupanya ia baru saja meng-unfollow instagram suaminya dan ternyata suaminya pun meng-unfollow instagramnya. “Lho lho lho ada apakah ini??? Sedang berantem kaaah???” kata si presenter yang langsung ditanggapi dengan heboh oleh penontonnya di studio.

Awalnya si artis nampak enggan bercerita dan hanya menjawab dengan jawaban-jawaban normatif “Ah nggak ada apa-apa kok...namanya rumah tangga kan biasa itu...”. Tapi, bukan presenter favorit saya namanya jika tidak bisa mendapatkan jawaban yang sesungguhnya. Setelah ditanya dengan lebih santai,  dari hati ke hati, dari perempuan ke perempuan, akhirnya artis tersebut bercerita juga. “Mungkin karena bawaan hamil ya, aku tuh pengen lebih diperhatiin dan lebih disayang. Jangan cuma perhatiin bayinya, tapi perhatiin ibunya juga donk..” ungkapnya. “Ooooooooooooo.....” kata saya dan presenter favorit saya itu berbarengan.

Hemm....masalah komunikasi rupanya.

Padahal mestinya bisa sederhana. Misalnya, artis tersebut tinggal bilang pada suaminya “Mas mas, selain memperhatikan anak kita yang masih di perut ini, aku juga jangan lupa disayang dan diperhatiin yaaaa...”. (Eaaaaa...eaaaaaa.....hehehe)

Tapi, memang begitulah komunikasi, sekilas tampak sederhana alias tinggal bilang saja, namun sering kali kenyataannya tidaklah sesederhana kelihatannya. Apalagi dalam konteks rumah tangga. Komunikasi yang tidak lancar kerap menimbulkan permasalahan, bahkah tak jarang menjadi penyebab perpisahan antara suami dengan istri. Sehingga kita memang perlu untuk belajar berkomunikasi, belajar menyampaikan apa yang perlu kita sampaikan, dengan cara yang tepat dan santun sehingga lawan bicara kita memahami maksud kita tanpa tersakiti perasaannya.

Namun keterampilan berkomunikasi yang baik tidak bisa tiba-tiba ada dalam diri seseorang. Ia harus dibangun melalui proses pembelajaran panjang dari waktu ke waktu. Sehingga alangkah lebih baik jika proses pembelajaran tersebut dimulai sejak seseorang masih anak-anak. Dengan kata lain ayah bunda yang baik, mengajari anak kita bisa bicara saja tidaklah cukup.

Mungkin Ayah bunda masih ingat betapa bahagianya hati saat ananda mulai bisa mengucapkan kata pertamanya dengan jelas seperti “mama”, “papa”, dsb. Barangkali ayah bunda juga masih ingat bagaimana usaha keras ayah bunda agar ananda bisa berbicara, misalnya dengan sering-sering mengajaknya ngobrol meski ia masih bayi, dengan membelikan dan membacakan bermacam-macam buku cerita, menyanyikan lagu-lagu, dll. Dan bisa jadi ayah bunda juga masih ingat betapa gelisahnya hati atau bahkan malu ketika anak-anak lain seusia ananda sudah lancar dan jelas bicaranya sementara ananda sendiri belum.

Betul, anak kita memang harus bisa bicara, anak kita memang harus bisa mengucap kata dan kalimatnya. Tapi ada hal-hal lain juga yang perlu kita ajarkan padanya. Apa saja itu?

Ajari anak kita mampu menyampaikan perasaannya

Ini juga bertujuan untuk mengenalkan emosi pada anak-anak. Mengapa ini menjadi penting? Sebab anak-anak belum mampu memahami apa yang sesungguhnya sedang terjadi pada dirinya, emosi apa yang sedang ia rasakan, pun belum mampu untuk mengungkapkannya, dan belum tahu pula cara yang pas untuk menyalurkannya. Alhasil emosi itu biasanya akan keluar dalam bentuk seperti menangis hingga meraung-raung, berteriak-teriak, atau membanting barang-barang di sekitarnya, dll. Bila ini dibiarkan, maka anak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak memiliki kecerdasan emosional, bahkan menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan.

Sehingga, seperti yang pernah disampaikan psikolog Ibu Elly Risman, di sinilah kita sebagai orang tua harus belajar untuk
  1. Membaca bahasa tubuh anak
  2. Menebak apa yang sedang dirasakannya dengan cara BERTANYA padanya sehingga ia pun belajar BERBICARA tentang perasaannya pada kita
  3. Mendengarkan jawaban atau cerita darinya dengan saksama. Sehingga kita dapat membuatkan SALURAN untuk mengalirkan emosinya.
Misalnya saja suatu siang anak ayah bunda pulang dari sekolah dengan lesu. Sepatu tidak langsung ditaruh di rak seperti biasanya namun dibiarkan saja di depan pintu, masuk tanpa mengucap salam dan tidak membalas salam anda, lalu berjalan dengan langkah gontai menuju kamar, dan langsung merebahkan diri di kasur dengan baju seragamnya yang kotor, padahal sepreinya baru saja anda ganti dengan yang baru dan bersih.

Bagaimana reaksi anda?

Jika anda bereaksi dengan berkata panjang kali lebar kali tinggi seperti “Kamu ini gimana sih? Sepatu dibiarkan di gitu aja di depan, pintu nggak ditutup, masuk rumah nggak salam, salam ayah/bunda juga nggak dijawab...Eeee nggak ganti baju dulu langsung rebahan di kasur...padahal udah capek-capek ayah/bunda ganti seprei kasurmu. Lain kali itu blaaa blaaa blaaa....

Maka ada dua kemungkinan reaksi dari anak anda. Pertama ia akan diam saja sambil berharap ayah/bundanya dipindah dulu ke planet lain agar tidak berisik. Atau kemungkinan kedua ia akan membentak untuk memutus ceramah anda. Namun keduanya sama. Sama-sama menyumbat saluran emosi dalam diri anak. Akibatnya, emosi yang tersumbat ini akan menumpuk dari waktu ke waktu dan bisa meledak sewaktu-waktu. Dan ketika nanti ananda sudah dewasa dan berumah tangga, ia pun akan kesulitan untuk mengidentifikasi emosi apa yang sedang terjadi pada dirinya serta sulit juga untuk menyampaikannya pada orang lain, sehingga bisa jadi ia akan marah-marah tanpa alasan yang jelas, atau malah diam dan memendam emosi sambil menciptakan bom waktu.

Jadi, kembali ke contoh tadi, bagaimana sebaiknya ayah dan bunda bereaksi?

Cobalah membaca bahasa tubuhnya dan tebak apa yang terjadi dalam dirinya. Bila ada hal yang tidak biasa yang dilakukan ananda, pasti ada sesuatu yang menyebabkannya. Tarik nafas panjang dan mulailah dengan bertanya tenang.

“Lho kok tumben pulang sekolah langsung rebahan di kasur? Capek ya nak?
Kalau dia diam saja, bertanyalah lagi
“Kamu sedang sedih ya?
Mungkin ia akan mulai memberikan jawaban baik lewat kata-kata maupun bahasa tubuhnya. Bila ia masih diam, coba tebak lagi perasaannya.
“Marah?”
Bila tebakan kita benar, biasanya ia akan mulai bercerita.
“Tadi pas masuk kelas setelah istirahat tas ku nggak ada bun. Kucari kemana-mana nggak ketemu. Padahal bu guru sudah masuk kelas dan pelajaran sudah mau dimulai..”
“MasyaAlloh...terus gimana?”
“Ternyata disembunyiin temen-temen di balik lemari kelas, bun...”
“Wah...kamu kesel banget ya sama teman-temanmu itu?”
“Aku panik banget bun tadi, kesel dan sebeeeel banget sama teman-teman, tapi aku juga lega banget akhirnya tasnya ketemu...”
Dan seterusnya.....

Namun bila bahasa tubuhnya menunjukkan bahwa ia sedang ingin sendiri, maka percakapan semacam itu bisa ditunda dulu sampai suasana hatinya sudah lebih baik.

Dengan demikian ayah bunda sekalian, kita telah membantunya mengenali apa yang sedang terjadi pada dirinya, mengajarinya BERBICARA tentang perasaannya, mengapa perasaan itu muncul, sekaligus membuatkan saluran emosi untuknya. Semoga dengan begitu ia bisa memiliki modal berkomunikasi yang baik dengan siapapun juga, termasuk dengan pasangannya kelak.

Itu baru satu hal. Masih ada beberapa hal lagi yang bisa kita ajarkan pada anak-anak kita agar ia memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. InsyaaAlloh akan saya bagikan di tulisan berikutnya.

Semoga bermanfaat.




Sabtu, 27 Juli 2019

AGAR KAKAK DAN ADIK TAK SEPERTI TOM AND JERRY

Catatan Pulang Kampung (Capung)
#Part 2


Salah satu target saya pulang ke kampung halaman saat liburan sekolah kemarin ialah saya harus sudah lancar berenang.

Apa???!!! Lancar berenang???

Iyesss saudara-saudara. Meski saya sudah berstatus emak berusia kepala tiga, jujur saya belum bisa berenang. Seingat saya dulu ketika masih kecil, orang tua saya hanya sesekali saja mengajak saya berenang. Kalaupun pas berenang ya berenangnya pakai pelampung ban warna hitam besar itu. Alhasil sampai dewasa saya belum bisa berenang. Padahal olah raga air yang satu ini sungguh banyak sekali manfaatnya. Bahkan Baginda Rasulullah sendiri sampai berpesan pada umatnya untuk bisa berenang.

Awalnya saya dan kakak perempuan saya sama-sama tidak bisa berenang. Namun beberapa waktu yang lalu kakak perempuan saya memutuskan untuk ikut les berenang dan sekarang ia sudah menguasai beberapa gaya. Jadi saya pun minta diajari. Dan kesempatan bertemu saat liburan di kampung halaman kemarin tidak boleh saya sia-siakan, sebab kami berdua tinggal di kota dan propinsi yang berbeda sehingga tak bisa sering berjumpa.

Dan Alhamdulilaaaah target saya tercapai...yeaaayyyy...terima kasih kakaaaaak!

Sebetulnya di daerah tempat saya tinggal juga banyak kursus berenang untuk segala usia termasuk bagi yang sudah berstatus emak-emak. Tapi saya tetap memilih diajari oleh kakak perempuan saya. Selain karena gratis (hehehehe...) juga karena kakak sangat sabar mengajari dan bagi saya kakak adalah salah satu guru terbaik dalam hidup saya.

Kakak adalah guru yang selama ini telah mengajarkan banyak hal, tidak hanya berenang, tapi juga pelajaran-pelajaran hidup lainnya. Misalnya tentang bagaimana menjadi murid sekolah yang rajin dan selalu rapi. Saya masih ingat betul, dari kakak lah saya dulu belajar menyampul buku dengan cantik dari kalender lawas, belajar menata buku pelajaran dengan rapi di rak bekas parcel lebaran, belajar menghitamkan lingkaran di lembar jawaban ujian nasional dengan penuh tanpa keluar garis, dll. Ketika saya beranjak remaja dan mulai jatuh cinta, kakak juga lah yang memahamkan pada saya bahwa Alloh mengharamkan pacaran sebelum menikah sebab Alloh sangat sayang pada saya dan ingin melindungi saya dari zina. Kakak pun sangat mendukung ketika saya memutuskan untuk berjilbab saat kuliah. Kakak juga memberikan wejangan-wejangannya saat saya akan memulai babak baru kehidupan yang penuh lika-liku bernama rumah tangga. Dari kakak pula saya belajar bahwa jadi ibu itu harus kuat dan tidak ada kekuatan selain dari Alloh. Itu sungguh membantu saya melalui masa-masa depresi pasca melahirkan. Dan melalui kakak juga lah Alloh memberikan hidayah dan pertolongan saat rumah tangga saya dihantam badai.

Alhamdulillah....syukur yang tak terkira pada Alloh dan terima kasih yang tak terhingga untuk kakak...

Ayah bunda yang baik, setiap orang tua pasti ingin anak-anaknya bisa hidup rukun, saling menyayangi dan menolong satu sama lain. Namun tentu saja anak-anak seperti ini tidaklah jatuh begitu saja dari langit. Kita harus berikhtiar untuk menumbuhkan persaudaraan dan kasih sayang di antara mereka sedini mungkin. Sebab bila tidak, sangat mungkin mereka bisa menjadi layaknya Tom and Jerry yang selalu saja saling mengusili, saling membalas, dan saling menyakiti setiap hari. Bahkan bila analogi Tom and Jerry ini tak diselesaikan dan dibiarkan saja, bukan tidak mungkin ia akan menjadi bola salju yang terus menggelinding dan membesar seiring berjalannya waktu serta bisa menimbulkan permasalahan di masa yang akan datang, seperti perebutan warisan di antara anak-anak, dsb. Na’uudzubillahimindzalik....

Nah beberapa bentuk ikhtiar yang bisa ayah bunda lakukan antara lain :

Pertama, ketika adik masih ada di dalam perut bunda, sampaikan pada kakak bahwa nanti kakak akan punya adik bayi. Adik bayi yang lahir nanti masih sangat lemah dan belum bisa apa-apa sendiri, sehingga perlu banyak dibantu oleh ayah, bunda dan juga kakak. Adik pun belum bisa bicara, bisanya hanya menangis, sehingga kalau mau ngomong apa-apa maka adik akan menangis. Dan walaupun nanti adik lahir, cinta ayah dan bunda pada kakak tidak akan berkurang. Sampaikan hal-hal tersebut secara terus menerus dan berulang-ulang.

Kedua, setelah adik lahir berikan kesempatan pada kakak untuk mengekspresikan kasih sayangnya pada adik, biarkan kakak menyentuh adik, memegang tangan dan kakinya, mencium pipinya atau mengusap-usap kepalanya. Tidak sedikit orang tua yang buru-buru melarang kakak ketika kakak mendekati adik bayinya karena kuatir kakak akan malah menyakiti adik, padahal sebenarnya kakak berniat baik. Beri dia kesempatan, sambil dipantau dan diingatkan bahwa adik masih kecil dan lemah, sehingga kakak harus hati-hati dan pelan-pelan menyentuh adik. Libatkan juga kakak dalam merawat adik, seperti ketika memandikan, mengganti popok, dll. Dengan demikian ikatan dan kedekatan antara kakak dan adik bisa terbangun.

Ayah dan bunda juga harus bekerja sama agar meski ada adik bayi, namun ayah maupun bunda masih tetap punya waktu untuk kakak. Misalnya ayah mengajak kakak jalan-jalan atau makan atau main berdua saja sambil ngobrol. Atau ayah menjaga adik bayi sementara bunda membacakan cerita untuk kakak sebelum ia tidur. Atau berikan apresiasi pada kakak ketika membantu merawat adik melalui ucapan terima kasih maupun kado. Sehingga pernyataan bahwa meskipun ada adik namun cinta ayah bunda pada kakak tidak akan berkurang bukanlah sekedar retorika belaka.

Ketiga, seiring berjalannya waktu, munculnya konflik antara kakak dan adik adalah sebuah keniscayaan. Nah kerap kali para orang tua menyuruh kakak untuk mengalah ketika sedang berkonflik dengan adiknya. Bahkan terkadang menyalahkan kakak dan membela adik karena menganggap bahwa kakak lebih tua dan adik lebih kecil padahal belum tentu kakak yang bersalah. Maka ketika terjadi konflik, biasakan untuk bertanya pada keduanya tentang duduk perkaranya, mengapa mereka bertengkar atau mengapa adik menangis. Sehingga orang tua bisa tahu dengan jelas penyebabnya dan siapa yang bersalah. Ajarkan pada yang bersalah untuk minta maaf dan ajarkan pula pada yang tidak bersalah untuk memaafkan, sekalipun penyebabnya adalah hal sepele. Hal ini bertujuan agar tidak muncul benih-benih kebencian dan dendam dalam diri kakak maupun adik.

Ajarkan pula tentang hak milik dan menghormatinya. Jadi barang kakak adalah milik kakak dan barang adik adalah milik adik. Jika kakak ingin mengunakan barang milik adik maka kakak harus minta izin terlebih dahulu pada adik. Bila sudah diizinkan barulah boleh menggunakan. Hal yang sama berlaku pula bila adik ingin menggunakan barang milik kakak. Jika tidak diizinkan oleh pemiliknya maka baik kakak maupun adik tidak boleh memaksa.

Keempat dan yang PALING penting untuk dilakukan oleh ayah dan bunda adalah BERDOA.
Ya, BERDOA.
Memohon pada Sang Penggenggam hati, jiwa dan raga anak-anak kita agar kakak dan adik bisa saling menolong dalam kebaikan, saling menasihati supaya mentaaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran dengan penuh kasih sayang.
Aamiin Ya Robbal alamin....

Semoga bermanfaat.

PS :
Tulisan ini saya dedikasikan untuk dua orang kakak dan seorang adik yang Alloh titipkan pada saya. Terima kasih banyak untuk persaudaraan yang selalu hangat meski kini kita terpisah jarak dan berlainan tempat.

Foto keluarga saat kami berempat belum ada yang berkeluarga

Selasa, 16 Juli 2019

KARENA BUNDA INGIN JADI SAHABATMU


Catatan Pulang Kampung (Capung) 

#Part 1


Sejak dulu saya dan ibu hampir tak pernah ngobrol. Yang ada adalah pembicaraan satu arah, dan mayoritas lebih kepada perintah untuk beres-beres rumah. Meski secara fisik ada, namun ibu tak banyak hadir dalam peristiwa-peristiwa di hidup saya. Saya paham, sebab mengurus empat anak bukanlah hal yang mudah. Apalagi saat itu sarana untuk belajar menjadi orang tua tidaklah sebanyak dan semudah seperti saat ini. Namun barangkali penyebab yang paling mendasar ialah karena ibu memendam kekecewaan yang amat sangat besar pada bapak sebab bapak meminta ibu tinggal di rumah untuk mengurus anak-anak dan melarangnya berkarir di luar, sementara ibu adalah seorang sarjana. Kekecewaan itulah yang sering kali ditumpahkan pada saya dan ketiga saudara saya yang lain. Karena itulah hubungan saya dengan ibu tidak romantis.

Sejak tangisan iin (anak semata wayang saya) pecah ke dunia ini, saya bertekad tidak ingin iin merasakan kesedihan, kesepian dan kehampaan akan sosok ibu seperti yang saya rasakan. Saya tak ingin hatinya terluka karena tumpahan emosi negativ dan kekecewaan saya pada apapun. Saya tidak ingin ia merasa diabaikan dan tidak diterima kehadirannya di dunia ini. Saya ingin dekat lahir batin dengannya. Saya ingin hubungan kami romantis. Saya ingin jadi sahabatnya.

Ternyata tidak mudah...sungguh-sungguh tidak mudah mewujudkannya. Saya masih sering menumpahkan emosi negativ saya padanya meski sebetulnya bukan karena kesalahannya. Saya masih sering takluk pada lelahnya mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari, sehingga saya pun jarang ngobrol dengannya. Lebih banyak pembicaraan satu arah dan saya jarang bertanya padanya. Saya masih sering menganggap sambil lalu apa-apa yang ia ceritakan. Hingga suatu hari ia berkata

“Aku mau ganti bunda aja..”

Deg! Saya langsung menghentikan aktvitas saya saat itu.

“Kenapa kamu mau ganti bunda?”

“Karena bunda suka marah-marah...” jawabnya.

Saya tarik nafas dalam-dalam...dalaaaaaaam sekali.....

“Oh...kamu bisa kok ganti bunda, nanti kalau bunda sudah meninggal ya...”

“Tapi aku nggak mau bunda meninggal, nanti aku kesepian...” ucapnya dengan wajah mau menangis...

“Hehehe...oke sayang...” dalam hati saya juga mau meweeek....

Ya Alloh...mohon ampunan...mohon ampunan....

Percakapan itu membuat saya sadar...saya ini hampir 24 jam bersamanya, kami tinggal di rumah yang sama, tapi barangkali kami tidak dekat dan hubungan kami juga tidak romantis....

Alhamdulillah bertepatan dengan libur sekolah kemarin Alloh takdirkan saya dan iin bisa pergi ke Malang berdua. Sebetulnya ini agak modal nekat, sebab biasanya kami pergi bertiga dengan ayahnya. Dan kalau pergi jauh macam pulang kampung ke Malang, biasanya ayahnya iin lah yang mengurus tiket pulang pergi, bawa-bawa koper atau apapun yang berat-berat, dan memimpin perjalanan kami. Tapi ini berdua saja. Sehingga tugas saya lebih berat dari biasanya. Tangan kanan menggandeng iin, tangan kiri menggandeng koper besar, dan punggung menggendong ransel besar berisi oleh-oleh dan perbekalan kami. Lebih berat dan lebih repot. Tapi dalam hati saya sudah bertekad untuk menikmati perjalanan berdua ini dan menjadikannya momen untuk memperbaiki dan mendekatkan hubungan kami. Jadi, Bismillah!

Qodarullah, perjalanan kami diawali oleh sebuah kejadian yang berhasil membuat kami tertawa. Jadi ceritanya, seharusnya kami di eksekutif satu. Tapi karena saya salah memperkirakan urutan gerbong dan karena panik hanya pergi berdua sambil membawa banyak barang, kami malah mengantri masuk ke ekonomi satu. Ketika sudah hampir masuk pintu, barulah saya sadar kalau kami salah gerbong. Padahal eksekutif satu letaknya jauh di dekat lokomotif.

“Astaghfirullaaah...kita salah gerbong, nak!!!”

Alhasil saya suruh iin berlari ke arah eksekutif satu, sementara saya juga berlari di belakangnya sambil menarik koper besar.

“Lari terus yaaa...sampai bunda bilang stop!”

“Di gerbong sini ya, bun?”

“Bukan! Masih depan lagi....”

Kami memang harus cepat, sebab kereta sudah akan berangkat. Alhamdulillaaah akhirnya kami sampai juga di gerbong eksekutiv satu. Sambil duduk di bangku nomer 1A 1B dan dengan nafas tersengal-sengal kami tertawa.

“Bunda siih...salah gerbong...”

“Hahaha..iya iya...maaf yaa...berdoa dulu yuk”

Bismillah kereta kami melaju menuju kampung halaman saya.

Delapan jam perjalanan memang waktu yang cukup lama. Saat iin sudah mulai bosan melihat pemandangan di jendela dan sudah kenyang makan bekal, akhirnya saya keluarkan senjata pamungkas, yaitu Youtube hehehe...

“Mau nonton apa, bun?” tanya iin

Tiba-tiba terbersit ide.
“Nonton lagunya doraemon yang himawari yuk...yang dulu iin pernah nonton itu..”

“Oh...oke.”

Saya dan iin memang sama-sama suka menonton film doraemon dan sama-sama suka sekali lagu Himawari no Yakusoku. Iin bahkan sampai meneteskan air mata karena terharu saat pertama kali menonton lagu penutup film Stand By Me Doraemon itu. Siapapun yang pernah menonton Doraemon atau membaca komiknya pasti tahu bahwa Nobita dan Doraemon adalah sahabat yang sangat dekat. Bahkan saking dekatnya, seringkali Nobita justru bercerita dan meminta bantuan bukan pada ayah ibunya, tetapi pada Doraemon. Namun tidak jarang pula mereka bertengkar, apalagi saat Nobita menyalahgunakan alat yang dipinjami Doraemon. Meski demikian mereka berdua tetap saling menyayangi bahkan sulit sekali bagi mereka untuk berpisah ketika tugas Doraemon untuk mendampingi Nobita telah usai dan ia harus kembali ke masa depan seperti yang dikisahkan di film Stand By Me Doraemon.

Sambil menonton video clip nya di Youtube, saya jadi terpikir. Bersahabat bukan berarti tak ada konflik. Bersahabat bukan berarti tak pernah bertengkar. Bersahabat bukan berarti tak pernah marah. Dan bersahabat bukan berarti tanpa masalah. Sebab konflik, pertengkaran dan masalah adalah sunatullah yang pasti ada selama kita bernyawa dan hidup bersama orang lain. Yang terpenting adalah tindak lanjutnya untuk segera bertaubat, meminta maaf, dan memperbaikinya. Sehingga konflik, pertengkaran, dan masalah bisa membuat persahabatan menjadi lebih erat.

Sambil memandang iin yang tertidur pulas di kursinya setelah menonton lagu dari film favorit kami itu, dalam hati saya berkata “Izinkan bunda memperbaikinya ya nak, karena bunda ingin jadi sahabatmu...”.

PS:
Inilah sepenggal cerita dari pengalaman pulang kampung saya ketika liburan sekolah kemarin. InsyaaAlloh akan ada cerita selanjutnya.
Bagaimana dengan Anda, apakah juga ingin menjadi sahabatnya putra putri Anda?  



Rabu, 12 Juni 2019

GADGET YANG MENGGANGGU KEHANGATAN MUDIK


Lebaran tahun ini Alhamdulillah kami bertiga berkesempatan untuk silaturahim dengan keluarga dan saudara-saudara di Solo. Karena jarak yang tidak terlalu jauh dari Jogja, saya dan suami memutuskan untuk pergi dan pulang naik Kereta Api Prameks saja. Murah meriah. Murah karena harga tiketnya hanya Rp 8.000,- per orang. Meriah karena kita bisa naik ke dalam kereta dan diantar sampai kota tujuan, tapi belum tentu dapat tempat duduk hehehe...

Dalam perjalanan menuju Solo, atas kebaikan hati seorang kakak yang masih remaja, Alhamdulillah iin (anak kami) mendapat tempat duduk. Dia duduk sekursi bertiga dengan kakak baik hati itu dan adiknya. Sementara saya dan suami berdiri hingga Stasiun Purwosari (satu stasiun sebelum Solo Balapan, stasiun tujuan kami). Lumayan juga, hampir satu jam kami berdiri, tapi harus tetap dinikmati, sebab kan jarang-jarang juga kami berdiri di kereta.

Perjalanan pulang kembali ke Jogja juga tidak kalah seru. Sebetulnya hotel tempat kami menginap di Solo berseberangan dengan Stasiun Purwosari, tapi kami putuskan untuk naik Prameks dari Stasiun Solo Balapan agar bisa kebagian tempat duduk. Ternyata orang lain pun sepertinya berpikiran sama. Banyak sekali orang yang juga hendak kembali ke Jogja dengan Kereta Prameks yang sama dengan kami dari Stasiun Solo Balapan. Alhasil sambil memanggul ransel, membawa koper, menenteng kardus oleh-oleh, dan menggandeng iin, saya dan suami harus berdesakan dengan penumpang lain di pintu Prameks agar bisa dapat tempat duduk. Alhamdulillah saya dan iin bisa dapat satu tempat duduk sehingga iin harus saya pangku. Sementara suami kembali harus berdiri karena tak ada lagi tempat duduk yang kosong.

Nah di perjalanan pulang inilah ada hal yang menarik perhatian saya sekaligus memprihatinkan. Di deretan bangku sebelah kami, duduklah sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan tiga anaknya. Anak yang sulung mungkin sudah SMP duduk satu kursi dengan saya. Sementara dua anak yang lain yang mungkin masih SD duduk di deretan sebelah berhadapan dengan orang tua mereka. Meskipun ayah, ibu, dan dua anak yang kira-kira masih SD itu duduk berdekatan dan berhadapan-hadapan, nyatanya tak banyak yang mereka bicarakan. Mereka justru lebih asyik dengan gadget masing-masing. Sesekali mungkin mereka bosan, sehingga gadget dimasukkan, lalu kedua anak yang masih SD itu mengajukan beberapa pertanyaan pada ibunya, seperti kenapa di jendela ada tulisan kaca boleh dipecah, ini sudah sampai di mana, dll. Tapi itu tak lama, sebab setelah itu mereka kembali mengeluarkan gadget masing-masing.

Nah yang paling membuat saya tak habis pikir adalah si ayah. Sebab sejak kereta belum jalan hingga kami turun di Stasiun Maguwo Jogja, si ayah tetap bergeming dengan gadget-nya. Sepertinya sedang asyik bermain game, karena gadget-nya dipasangi alat tambahan seperti joystick game lengkap dengan earphone yang tak pernah lepas dari telinganya. Sepanjang perjalanan itu nyaris si ayah tak bercakap-cakap dengan anggota keluarga yang lain. Sesekali si ibu mengajaknya bicara bahkan bercanda, namun sepertinya si ayah tidak dengar. Lalu tersiratlah kekecewaan di wajah si ibu dan kembali ia mengeluarkan gadgetnya.

Sungguh sangat miris melihatnya. Sebab sebetulnya perjalanan di kereta seperti itu bisa dimanfaatkan untuk menjalin kedekatan dan menumbuhkan kehangatan dengan keluarga. Barangkali di hari-hari biasa, kita sudah terlalu dilelahkan oleh aktivitas masing-masing, disibukkan pula oleh rutinitas yang itu-itu saja. Dan yang paling sering terjadi di era digital ini, perhatian serta pikiran bahkan perasaan kita kerap kali diambil alih oleh gadget kita sendiri-sendiri. Jangan sampai gadget kembali menjauhkan kita di momen mudik ini, momen di mana seharusnya kita menghangatkan kembali yang selama ini terasa dingin dan kaku, serta mendekatkan kembali yang selama ini jauh walaupun secara fisik dekat.

Sampai kami turun lebih dulu di Stasiun Maguwo Jogja, si ayah masih tetap khusyuk dengan gadget dan gamenya. Semoga setelah itu si ayah menghentikan game-nya, mematikan gadgetnya, memasukkannya ke dalam saku atau tas, lalu bercengkrama dengan istri dan anak-anaknya. Agar suasana berubah jadi hangat, agar perjalanan tak terasa hambar-hambar saja, dan agar terbentuk kenangan indah di benak anak-anaknya. Sebab sejatinya mengasuh itu adalah menciptakan kebiasaan dan membentuk kenangan.

-Self reminder-
Tiket Prameks kami PP Jogja-Solo


Selasa, 02 April 2019

WAHAI BAPAK, JADILAH CINTA PERTAMA BAGI ANAK PEREMPUAN ANDA


Gegara di debat capres kemarin tersebut kata DILAN, saya jadi teringat sebuah tulisan menarik di facebook. Bukan...bukan tentang debatnya ataupun pemilunya. Melainkan postingan tentang keromantisan dalam film Dilan yang kemarin booming sekali di negeri ini.

Pada intinya, menurut si penulis, keromantisan yang dilakukan oleh Dilan (termasuk ucapan-ucapannya pada Milea) sungguh adalah receh bagi emak-emak, apalagi bagi para emak yang anaknya sudah lebih dari satu. Bagi si penulis, romantis itu bukan berupa kata-kata puitis, tapi romantis itu adalah ketika suami mencuci semua piring kotor yang menumpuk sampai-sampai wastafel dan busa sabut cucinya pun ia bersihkan juga. Atau ketika suami bersedia membelikan pembalut untuk istrinya dan tidak malu ketika berhadapan dengan petugas kasirnya. Dan para netizen yang berkomentar di bawah tulisan itu pun 100 persen sepakat bin setuju dengan pendapat si penulis.  

Saya pribadi juga setuju dengan tulisan itu. Kalau suatu hari tetiba suami saya berkata pada saya yang adalah emak beranak satu ini “Bun...kalau ayah jadi presiden yang harus mencintai seluruh rakyatnya, aduh, maaf, ayah pasti tidak bisa karena ayah cuma suka bunda..” maka sudah pasti saya akan bertanya sambil menempelkan tangan saya di keningnya “Ayah lagi nggak enak badan ya?????”

Hehehe...

Memang, bagi kita yang sudah menikah apalagi sudah belasan bahkan puluhan tahun, definisi romantis kita sangat mungkin berbeda dengan definisi romantis bagi anak-anak muda yang belum berumah tangga apalagi yang baru beranjak remaja dan baru mulai merasakan manisnya jatuh cinta.

Nah, pertanyaannya....
Mengapa gombalan Dilan seperti “Jangan rindu. Berat. Kamu nggak akan kuat. Biar aku saja...” dll mampu membuat gadis-gadis yang mendengarnya langsung histeris, klepek-klepek dan meleleh hatinya, sementara bagi emak-emak yang sudah berumah tangga dan beranak bahkan lebih dari satu justru terdengar geli di telinga atau bikin keselek di tenggorokan?

Ya. Sebab kita yang sudah menjadi emak-emak ini tahu bahwa cinta sejati tak cukup hanya berupa rangkaian kata-kata manis belaka. Kata-kata manis memang perlu juga dalam kehidupan berumahtangga, seperti ucapan “I love you”, terima kasih, panggilan “sayang”, dll. Tapi apalah artinya kata-kata manis tersebut bila tidak dibarengi dengan tindakan nyata. Kita yang sudah emak-emak ini pun tahu bahwa cinta yang sesungguhnya bukan terletak pada kalimat-kalimat romantis saja, namun cinta yang tetap saling diberikan meski sudah ditempa dengan berbagai cobaan, berbagai rintangan, berbagai hal-hal di luar ekspektasi dan harapan, serta berbagai ujian yang nggak enak di hati.

Jadi para emak (dan tentu juga para bapak), bagaimana caranya agar anak-anak perempuan kita tidak terjebak apalagi tertipu oleh gombalan-gombalan romantis dari “Dilan”, baik Dilan-Dilan di dunia nyata maupun Dilan-Dilan di dunia maya?

Nah di sinilah peran penting para bapak.

Wahai bapak-bapak, dekatlah dengan anak perempuan Anda, baik secara fisik dan terlebih lagi secara hati. Tentu saja kedekatan ini bukan sesuatu yang ujug-ujug alias tiba-tiba ada, namun harus mulai dijalin sediniiiiii mungkin, bahkan sejak anak perempuan Anda masih berada di dalam perut ibunya.
Bagaimana caranya?

Sering-seringlah mengajak anak perempuan Anda ngobrol. Seringlah bertanya padanya. Mulai saja dengan pertanyaan sederhana bahkan remeh temeh. Lalu dengarkan jawaban, celotehan dan ceritanya.

Tempelkan fisik Anda dengan fisiknya. Gendong, cium, pangku, dan peluk ia dengan segenap jiwa raga Anda.

Bermainlah dengannya. Tak masalah bila permainannya permainan perempuan. Biarkan ia menjadi princess dan Anda jadi kudanya atau jadi pangerannya. Atau biarkan ia bermain masak-masakan dan Anda yang mencicipinya. Atau biarkan ia bermain boneka, dan pura-pura bonekanya sakit lalu Anda jadi dokternya, memeriksa bonekanya dan membuatkan resep.

Bacakan mereka cerita sebelum tidur. Atau ceritakan serunya masa kecil Anda.

Jangan segan memujinya cantik atau memanggilnya sayang.  

Dan juga antar ia berangkat ke sekolah. Buatlah perjalanan Anda dengannya dari rumah menjadi penyemangat baginya untuk menjalani harinya di sekolah.

Intinya Bapak, jadilah cinta pertama bagi anak perempuan Anda! Meski mungkin waktu Anda tak banyak karena harus berjuang mencari nafkah, tapi tetap sempatkanlah! Buat waktu yang sedikit itu menjadi sangat-sangat berkesan untuknya.

Agar apa?

Agar kelak bila ada “Dilan” yang datang mendekatinya, menyebutnya cantik, memanggilnya sayang, bahkan memberikan gombalan-gombalan yang mendayu-dayu, anak perempuan Anda tak mudah terbujuk dan terayu apalagi sampai menyerahkan kehormatannya pada laki-laki itu, sebab dalam hatinya sudah terlebih dulu ada sosok laki-laki yang hangat dan penyayang, baik dengan kata-kata maupun dengan tindakan nyata, yaitu BAPAKNYA.

Semoga bermanfaat.



Sabtu, 02 Maret 2019

DARI SIAPA ANAK BELAJAR BERBOHONG?


Ayah bunda yang baik, adakah di antara Anda yang pernah dibohongi???

Barangkali banyak yang akan menjawab dengan lantang “Adaaaaaa!!!” Apalagi kalau dibohonginya baru-baru saja, masih segar di ingatan dan rasa sakitnya masih periiiih di hati.

Suka nggak ayah bunda dibohongi?

Kemungkinan besar Anda akan menjawab “Ya jelas enggakkk laaaaaaaah...”

Nah kalau sekarang pertanyaannya dibalik (dan harus dijawab dengan jujur yaa) adakah di antara ayah bunda yang pernah membohongi?

Mungkin akan banyak juga yang menjawab “Adaaaa...” tapi dengan suara liriiiiiih sekaliiiiii bahkan di dalam hati, apalagi kalau korbannya sedang ada di sebelah Anda hehehe...

Nah, kalau memang tidak suka dibohongi bahkan pernah merasakan pahit dan perihnya dibohongi, lantas mengapa kita berbohong atau membohongi orang lain? Apalagi sampai menyebarluaskannya pada orang banyak. Misalnya saja mengaku kecelakaan menabrak tiang listrik sampai bengkak sebesar bakpao, atau mengaku dipukuli orang ternyata baru saja menjalani treatment wajah, atau menyebutkan data-data yang jelas-jelas tidak sesuai fakta di sebuah forum debat yang ditonton jutaan orang secara live?

Mengapa kita dengan mudahnya bisa berbohong padahal tidak suka dibohongi?

Hemm....saya jadi teringat beberapa waktu lalu seorang anak tetangga sedang bermain dengan anak saya di rumah. Lalu anak itu berkata pada anak saya “Eh kamu jangan makan permen karet lho!” Anak saya pun bertanya mengapa dan anak itu menjawab dengan polosnya “Soalnya kata kakekku permen karet itu bikinnya diinjek-injek..” Saya yang saat itu sedang minum di dekat mereka hampir saja tersedak. Di lain waktu ia berkata lagi pada anak saya “Eh kamu kalau sudah malam jangan keluar rumah lho, kata kakekku nanti perutnya digeli-geli sama setan...” Apaaaaa??? (tepok jidat)

Pernah juga saya melihat seorang anak merengek pada ibunya karena minta diajak berenang ke sebuah tempat berenang. Karena sedang tidak memungkinkan untuk berenang saat itu, si ibu lalu mengambil HP dan berpura-pura menelepon tempat berenang itu “Halo pak...sudah tutup ya pak kolam renangnya. O ya udah makasi ya pak.” Lalu ibu itu berkata pada anaknya “Tuh kan mama sudah telpon kolam renangnya sudah tutup. Kapan-kapan saja kita ke sana...” Padahal jelas tempat berenangnya masih buka.

Ada pula seorang nenek yang suatu pagi berusaha menenangkan cucunya yang sedang menangis karena ditinggal ibunya berangkat kerja “Bunda cuma ke tambal ban di depan situ kok bentaaaar, soalnya motornya harus diperbaiki...bentar lagi bunda balik, sudah cup cup cup nggak usah nangis...” Padahal si ibu bukan pergi ke tambal ban dan baru akan pulang kerja sore harinya.

Atau seorang ayah sedang asyik berselancar di dunia maya dengan smartphone-nya lalu datanglah anaknya yang merajuk ingin pinjam untuk nonton youtube “Nggak bisa...nggak bisa...batrey hp ayah sudah mau habis...” Tapi si anak tetap merengek bahkan makin kencang. Lalu si ayah berketa lagi “Kuota ayah sudah habis. Nggak bisa dipakai nonton youtube.” Padahal jelas batrey dan kuotanya masih ada.

Pun masih jelas sekali di ingatan saya, dulu saat saya masih duduk di bangku TK, guru saya pernah berkata “Kalau sudah besar itu nggak boleh nen (menyusu ke ibu) lagi ya. Nanti kalo masih nen, lidahmu akan bolong-bolong kayak habis di makan ulat”. Kenapa perkataan guru saya itu masih saya ingat terus sampai sekarang, sebab ketika beliau berkata seperti itu, saya langsung membayangkan lidah yang bolong-bolong seperti daun yang di makan ulat, dan itu sukses membuat saya geli bin takut. Sekarang saya hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala saja kalau ingat kata-kata guru saya itu.

Nah ayah bunda, tanpa kita sadari, ternyata sejak kecil seorang anak sudah belajar untuk berbohong. Dari siapa mereka belajar? Justru dari orang-orang terdekat di sekitarnya yang SEMESTINYA dan SEHARUSNYA mengajarinya untuk menjadi baik, termasuk mengajarkan tentang kejujuran.

Saya percaya, tidak ada orang tua, keluarga, maupun guru manapun yang secara sadar dan sengaja berniat mengajari anak atau cucu atau muridnya untuk berbohong. Dan ketidaksengajaan serta ke-tidak-ada-niatan itu biasanya mereka lakukan karena alasan yang baik bahkan mulia. Misalnya kakek teman main anak saya itu, saya yakin beliau berkata pada cucunya bahwa permen karet itu proses pembuatannya dengan cara diinjak-injak pakai kaki adalah agar cucunya tidak kebanyakan makan permen yang bisa membuatnya batuk atau sakit gigi, dan memang teman main anak saya itu suka sekali makan permen. Pun dengan guru TK saya itu, saya yakin beliau tentu tahu bahwa menyusu sampai kapan pun tak akan pernah membuat lidah anak menjadi bolong. Saya yakin beliau berkata seperti itu agar saya dan teman-teman saya yang saat itu sudah berusia 5 tahun tidak lagi menyusu pada ibu kami dan bisa lebih mandiri. Sayangnya maksud-maksud dan tujuan-tujuan yang baik nan mulia itu tidak diikuti oleh cara yang baik serta bijak pula.

Mengapa tidak mengatakan yang sebenarnya saja pada anak?

“Cucuku sayang, jangan makan permen lagi ya, nanti kalau kebanyakan bisa sakit gigimu...”

“Maaf ya nak, ibu nggak bisa mengantarmu berenang. InsyaaAlloh kita berenang lain waktu ya...”

“Cup cup cup...jangan menangis cucuku...bundamu berangkat kerja dulu. Nanti sore bunda pulang. Yuk kita main dulu sambil menunggu bunda pulang...”

“Bentar ya anakku sayang, ayah sedang pakai HP nya. Nanti kalau ayah sudah selesai, gantian kamu boleh pakai HP ayah untuk nonton Youtube...tapi nontonnya bareng ayah ya hehehe...”

“Murid-murid...kalian itu sudah besar dan hebat, sudah bisa makan dan minum sendiri. Jadi sudah tidak perlu lagi menyusu ke ibu ya. Oke?”

Mudah kan???

Tapi nanti cucu atau anak akan menangis, merajuk, merengek bahkan sampai gulung-gulung dan koprol di lantai, dsb....

Ya nggak apa-apa. Itu wajar, sebab itulah cara mereka (yang masih belum dewasa) merespon atau bereaksi terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan yang mereka inginkan. Berikan mereka kesempatan untuk menyalurkan respon atau reaksi mereka itu, selama respon atau reaksinya tidak menyakiti diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar. Bukankah dalam hidup ini sejatinya kita pun pernah bahkan mungkin sering mendapakan sesuatu yang ternyata tidak sesuai dengan yang kita inginkan atau tidak sesuai dengan ekspektasi kita? Lalu kita pun merasa kecewa, sedih, patah semangat atau marah. Tak apa, itu reaksi emosi yang wajar sebagai bentuk respon atas kejadian seperti itu.

Lagipula suatu hari nanti dalam perjalanan usianya, anak-anak akan tahu bahwa dulu dia dibohongi. Ingat, anak adalah peniru paling ulung, sehingga tidak menutup kemungkinan ia akan berbohong pula. Dan bila pembohongan yang dilakukan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya itu dilakukan berulang-ulang maka bisa jadi anak akan berpersepsi bahwa berbohong adalah hal yang biasa alias tak masalah untuk dilakukan.

Jadi biarlah sedari dini anak-anak kita belajar menghadapi kenyataan dan belajar tentang kejujuran agar mereka tidak tumbuh menjadi manusia yang mudah berdusta.

-Self Reminder-
Semoga bermanfaat