Rabu, 12 Juni 2019

GADGET YANG MENGGANGGU KEHANGATAN MUDIK


Lebaran tahun ini Alhamdulillah kami bertiga berkesempatan untuk silaturahim dengan keluarga dan saudara-saudara di Solo. Karena jarak yang tidak terlalu jauh dari Jogja, saya dan suami memutuskan untuk pergi dan pulang naik Kereta Api Prameks saja. Murah meriah. Murah karena harga tiketnya hanya Rp 8.000,- per orang. Meriah karena kita bisa naik ke dalam kereta dan diantar sampai kota tujuan, tapi belum tentu dapat tempat duduk hehehe...

Dalam perjalanan menuju Solo, atas kebaikan hati seorang kakak yang masih remaja, Alhamdulillah iin (anak kami) mendapat tempat duduk. Dia duduk sekursi bertiga dengan kakak baik hati itu dan adiknya. Sementara saya dan suami berdiri hingga Stasiun Purwosari (satu stasiun sebelum Solo Balapan, stasiun tujuan kami). Lumayan juga, hampir satu jam kami berdiri, tapi harus tetap dinikmati, sebab kan jarang-jarang juga kami berdiri di kereta.

Perjalanan pulang kembali ke Jogja juga tidak kalah seru. Sebetulnya hotel tempat kami menginap di Solo berseberangan dengan Stasiun Purwosari, tapi kami putuskan untuk naik Prameks dari Stasiun Solo Balapan agar bisa kebagian tempat duduk. Ternyata orang lain pun sepertinya berpikiran sama. Banyak sekali orang yang juga hendak kembali ke Jogja dengan Kereta Prameks yang sama dengan kami dari Stasiun Solo Balapan. Alhasil sambil memanggul ransel, membawa koper, menenteng kardus oleh-oleh, dan menggandeng iin, saya dan suami harus berdesakan dengan penumpang lain di pintu Prameks agar bisa dapat tempat duduk. Alhamdulillah saya dan iin bisa dapat satu tempat duduk sehingga iin harus saya pangku. Sementara suami kembali harus berdiri karena tak ada lagi tempat duduk yang kosong.

Nah di perjalanan pulang inilah ada hal yang menarik perhatian saya sekaligus memprihatinkan. Di deretan bangku sebelah kami, duduklah sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan tiga anaknya. Anak yang sulung mungkin sudah SMP duduk satu kursi dengan saya. Sementara dua anak yang lain yang mungkin masih SD duduk di deretan sebelah berhadapan dengan orang tua mereka. Meskipun ayah, ibu, dan dua anak yang kira-kira masih SD itu duduk berdekatan dan berhadapan-hadapan, nyatanya tak banyak yang mereka bicarakan. Mereka justru lebih asyik dengan gadget masing-masing. Sesekali mungkin mereka bosan, sehingga gadget dimasukkan, lalu kedua anak yang masih SD itu mengajukan beberapa pertanyaan pada ibunya, seperti kenapa di jendela ada tulisan kaca boleh dipecah, ini sudah sampai di mana, dll. Tapi itu tak lama, sebab setelah itu mereka kembali mengeluarkan gadget masing-masing.

Nah yang paling membuat saya tak habis pikir adalah si ayah. Sebab sejak kereta belum jalan hingga kami turun di Stasiun Maguwo Jogja, si ayah tetap bergeming dengan gadget-nya. Sepertinya sedang asyik bermain game, karena gadget-nya dipasangi alat tambahan seperti joystick game lengkap dengan earphone yang tak pernah lepas dari telinganya. Sepanjang perjalanan itu nyaris si ayah tak bercakap-cakap dengan anggota keluarga yang lain. Sesekali si ibu mengajaknya bicara bahkan bercanda, namun sepertinya si ayah tidak dengar. Lalu tersiratlah kekecewaan di wajah si ibu dan kembali ia mengeluarkan gadgetnya.

Sungguh sangat miris melihatnya. Sebab sebetulnya perjalanan di kereta seperti itu bisa dimanfaatkan untuk menjalin kedekatan dan menumbuhkan kehangatan dengan keluarga. Barangkali di hari-hari biasa, kita sudah terlalu dilelahkan oleh aktivitas masing-masing, disibukkan pula oleh rutinitas yang itu-itu saja. Dan yang paling sering terjadi di era digital ini, perhatian serta pikiran bahkan perasaan kita kerap kali diambil alih oleh gadget kita sendiri-sendiri. Jangan sampai gadget kembali menjauhkan kita di momen mudik ini, momen di mana seharusnya kita menghangatkan kembali yang selama ini terasa dingin dan kaku, serta mendekatkan kembali yang selama ini jauh walaupun secara fisik dekat.

Sampai kami turun lebih dulu di Stasiun Maguwo Jogja, si ayah masih tetap khusyuk dengan gadget dan gamenya. Semoga setelah itu si ayah menghentikan game-nya, mematikan gadgetnya, memasukkannya ke dalam saku atau tas, lalu bercengkrama dengan istri dan anak-anaknya. Agar suasana berubah jadi hangat, agar perjalanan tak terasa hambar-hambar saja, dan agar terbentuk kenangan indah di benak anak-anaknya. Sebab sejatinya mengasuh itu adalah menciptakan kebiasaan dan membentuk kenangan.

-Self reminder-
Tiket Prameks kami PP Jogja-Solo


Selasa, 02 April 2019

WAHAI BAPAK, JADILAH CINTA PERTAMA BAGI ANAK PEREMPUAN ANDA


Gegara di debat capres kemarin tersebut kata DILAN, saya jadi teringat sebuah tulisan menarik di facebook. Bukan...bukan tentang debatnya ataupun pemilunya. Melainkan postingan tentang keromantisan dalam film Dilan yang kemarin booming sekali di negeri ini.

Pada intinya, menurut si penulis, keromantisan yang dilakukan oleh Dilan (termasuk ucapan-ucapannya pada Milea) sungguh adalah receh bagi emak-emak, apalagi bagi para emak yang anaknya sudah lebih dari satu. Bagi si penulis, romantis itu bukan berupa kata-kata puitis, tapi romantis itu adalah ketika suami mencuci semua piring kotor yang menumpuk sampai-sampai wastafel dan busa sabut cucinya pun ia bersihkan juga. Atau ketika suami bersedia membelikan pembalut untuk istrinya dan tidak malu ketika berhadapan dengan petugas kasirnya. Dan para netizen yang berkomentar di bawah tulisan itu pun 100 persen sepakat bin setuju dengan pendapat si penulis.  

Saya pribadi juga setuju dengan tulisan itu. Kalau suatu hari tetiba suami saya berkata pada saya yang adalah emak beranak satu ini “Bun...kalau ayah jadi presiden yang harus mencintai seluruh rakyatnya, aduh, maaf, ayah pasti tidak bisa karena ayah cuma suka bunda..” maka sudah pasti saya akan bertanya sambil menempelkan tangan saya di keningnya “Ayah lagi nggak enak badan ya?????”

Hehehe...

Memang, bagi kita yang sudah menikah apalagi sudah belasan bahkan puluhan tahun, definisi romantis kita sangat mungkin berbeda dengan definisi romantis bagi anak-anak muda yang belum berumah tangga apalagi yang baru beranjak remaja dan baru mulai merasakan manisnya jatuh cinta.

Nah, pertanyaannya....
Mengapa gombalan Dilan seperti “Jangan rindu. Berat. Kamu nggak akan kuat. Biar aku saja...” dll mampu membuat gadis-gadis yang mendengarnya langsung histeris, klepek-klepek dan meleleh hatinya, sementara bagi emak-emak yang sudah berumah tangga dan beranak bahkan lebih dari satu justru terdengar geli di telinga atau bikin keselek di tenggorokan?

Ya. Sebab kita yang sudah menjadi emak-emak ini tahu bahwa cinta sejati tak cukup hanya berupa rangkaian kata-kata manis belaka. Kata-kata manis memang perlu juga dalam kehidupan berumahtangga, seperti ucapan “I love you”, terima kasih, panggilan “sayang”, dll. Tapi apalah artinya kata-kata manis tersebut bila tidak dibarengi dengan tindakan nyata. Kita yang sudah emak-emak ini pun tahu bahwa cinta yang sesungguhnya bukan terletak pada kalimat-kalimat romantis saja, namun cinta yang tetap saling diberikan meski sudah ditempa dengan berbagai cobaan, berbagai rintangan, berbagai hal-hal di luar ekspektasi dan harapan, serta berbagai ujian yang nggak enak di hati.

Jadi para emak (dan tentu juga para bapak), bagaimana caranya agar anak-anak perempuan kita tidak terjebak apalagi tertipu oleh gombalan-gombalan romantis dari “Dilan”, baik Dilan-Dilan di dunia nyata maupun Dilan-Dilan di dunia maya?

Nah di sinilah peran penting para bapak.

Wahai bapak-bapak, dekatlah dengan anak perempuan Anda, baik secara fisik dan terlebih lagi secara hati. Tentu saja kedekatan ini bukan sesuatu yang ujug-ujug alias tiba-tiba ada, namun harus mulai dijalin sediniiiiii mungkin, bahkan sejak anak perempuan Anda masih berada di dalam perut ibunya.
Bagaimana caranya?

Sering-seringlah mengajak anak perempuan Anda ngobrol. Seringlah bertanya padanya. Mulai saja dengan pertanyaan sederhana bahkan remeh temeh. Lalu dengarkan jawaban, celotehan dan ceritanya.

Tempelkan fisik Anda dengan fisiknya. Gendong, cium, pangku, dan peluk ia dengan segenap jiwa raga Anda.

Bermainlah dengannya. Tak masalah bila permainannya permainan perempuan. Biarkan ia menjadi princess dan Anda jadi kudanya atau jadi pangerannya. Atau biarkan ia bermain masak-masakan dan Anda yang mencicipinya. Atau biarkan ia bermain boneka, dan pura-pura bonekanya sakit lalu Anda jadi dokternya, memeriksa bonekanya dan membuatkan resep.

Bacakan mereka cerita sebelum tidur. Atau ceritakan serunya masa kecil Anda.

Jangan segan memujinya cantik atau memanggilnya sayang.  

Dan juga antar ia berangkat ke sekolah. Buatlah perjalanan Anda dengannya dari rumah menjadi penyemangat baginya untuk menjalani harinya di sekolah.

Intinya Bapak, jadilah cinta pertama bagi anak perempuan Anda! Meski mungkin waktu Anda tak banyak karena harus berjuang mencari nafkah, tapi tetap sempatkanlah! Buat waktu yang sedikit itu menjadi sangat-sangat berkesan untuknya.

Agar apa?

Agar kelak bila ada “Dilan” yang datang mendekatinya, menyebutnya cantik, memanggilnya sayang, bahkan memberikan gombalan-gombalan yang mendayu-dayu, anak perempuan Anda tak mudah terbujuk dan terayu apalagi sampai menyerahkan kehormatannya pada laki-laki itu, sebab dalam hatinya sudah terlebih dulu ada sosok laki-laki yang hangat dan penyayang, baik dengan kata-kata maupun dengan tindakan nyata, yaitu BAPAKNYA.

Semoga bermanfaat.



Sabtu, 02 Maret 2019

DARI SIAPA ANAK BELAJAR BERBOHONG?


Ayah bunda yang baik, adakah di antara Anda yang pernah dibohongi???

Barangkali banyak yang akan menjawab dengan lantang “Adaaaaaa!!!” Apalagi kalau dibohonginya baru-baru saja, masih segar di ingatan dan rasa sakitnya masih periiiih di hati.

Suka nggak ayah bunda dibohongi?

Kemungkinan besar Anda akan menjawab “Ya jelas enggakkk laaaaaaaah...”

Nah kalau sekarang pertanyaannya dibalik (dan harus dijawab dengan jujur yaa) adakah di antara ayah bunda yang pernah membohongi?

Mungkin akan banyak juga yang menjawab “Adaaaa...” tapi dengan suara liriiiiiih sekaliiiiii bahkan di dalam hati, apalagi kalau korbannya sedang ada di sebelah Anda hehehe...

Nah, kalau memang tidak suka dibohongi bahkan pernah merasakan pahit dan perihnya dibohongi, lantas mengapa kita berbohong atau membohongi orang lain? Apalagi sampai menyebarluaskannya pada orang banyak. Misalnya saja mengaku kecelakaan menabrak tiang listrik sampai bengkak sebesar bakpao, atau mengaku dipukuli orang ternyata baru saja menjalani treatment wajah, atau menyebutkan data-data yang jelas-jelas tidak sesuai fakta di sebuah forum debat yang ditonton jutaan orang secara live?

Mengapa kita dengan mudahnya bisa berbohong padahal tidak suka dibohongi?

Hemm....saya jadi teringat beberapa waktu lalu seorang anak tetangga sedang bermain dengan anak saya di rumah. Lalu anak itu berkata pada anak saya “Eh kamu jangan makan permen karet lho!” Anak saya pun bertanya mengapa dan anak itu menjawab dengan polosnya “Soalnya kata kakekku permen karet itu bikinnya diinjek-injek..” Saya yang saat itu sedang minum di dekat mereka hampir saja tersedak. Di lain waktu ia berkata lagi pada anak saya “Eh kamu kalau sudah malam jangan keluar rumah lho, kata kakekku nanti perutnya digeli-geli sama setan...” Apaaaaa??? (tepok jidat)

Pernah juga saya melihat seorang anak merengek pada ibunya karena minta diajak berenang ke sebuah tempat berenang. Karena sedang tidak memungkinkan untuk berenang saat itu, si ibu lalu mengambil HP dan berpura-pura menelepon tempat berenang itu “Halo pak...sudah tutup ya pak kolam renangnya. O ya udah makasi ya pak.” Lalu ibu itu berkata pada anaknya “Tuh kan mama sudah telpon kolam renangnya sudah tutup. Kapan-kapan saja kita ke sana...” Padahal jelas tempat berenangnya masih buka.

Ada pula seorang nenek yang suatu pagi berusaha menenangkan cucunya yang sedang menangis karena ditinggal ibunya berangkat kerja “Bunda cuma ke tambal ban di depan situ kok bentaaaar, soalnya motornya harus diperbaiki...bentar lagi bunda balik, sudah cup cup cup nggak usah nangis...” Padahal si ibu bukan pergi ke tambal ban dan baru akan pulang kerja sore harinya.

Atau seorang ayah sedang asyik berselancar di dunia maya dengan smartphone-nya lalu datanglah anaknya yang merajuk ingin pinjam untuk nonton youtube “Nggak bisa...nggak bisa...batrey hp ayah sudah mau habis...” Tapi si anak tetap merengek bahkan makin kencang. Lalu si ayah berketa lagi “Kuota ayah sudah habis. Nggak bisa dipakai nonton youtube.” Padahal jelas batrey dan kuotanya masih ada.

Pun masih jelas sekali di ingatan saya, dulu saat saya masih duduk di bangku TK, guru saya pernah berkata “Kalau sudah besar itu nggak boleh nen (menyusu ke ibu) lagi ya. Nanti kalo masih nen, lidahmu akan bolong-bolong kayak habis di makan ulat”. Kenapa perkataan guru saya itu masih saya ingat terus sampai sekarang, sebab ketika beliau berkata seperti itu, saya langsung membayangkan lidah yang bolong-bolong seperti daun yang di makan ulat, dan itu sukses membuat saya geli bin takut. Sekarang saya hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala saja kalau ingat kata-kata guru saya itu.

Nah ayah bunda, tanpa kita sadari, ternyata sejak kecil seorang anak sudah belajar untuk berbohong. Dari siapa mereka belajar? Justru dari orang-orang terdekat di sekitarnya yang SEMESTINYA dan SEHARUSNYA mengajarinya untuk menjadi baik, termasuk mengajarkan tentang kejujuran.

Saya percaya, tidak ada orang tua, keluarga, maupun guru manapun yang secara sadar dan sengaja berniat mengajari anak atau cucu atau muridnya untuk berbohong. Dan ketidaksengajaan serta ke-tidak-ada-niatan itu biasanya mereka lakukan karena alasan yang baik bahkan mulia. Misalnya kakek teman main anak saya itu, saya yakin beliau berkata pada cucunya bahwa permen karet itu proses pembuatannya dengan cara diinjak-injak pakai kaki adalah agar cucunya tidak kebanyakan makan permen yang bisa membuatnya batuk atau sakit gigi, dan memang teman main anak saya itu suka sekali makan permen. Pun dengan guru TK saya itu, saya yakin beliau tentu tahu bahwa menyusu sampai kapan pun tak akan pernah membuat lidah anak menjadi bolong. Saya yakin beliau berkata seperti itu agar saya dan teman-teman saya yang saat itu sudah berusia 5 tahun tidak lagi menyusu pada ibu kami dan bisa lebih mandiri. Sayangnya maksud-maksud dan tujuan-tujuan yang baik nan mulia itu tidak diikuti oleh cara yang baik serta bijak pula.

Mengapa tidak mengatakan yang sebenarnya saja pada anak?

“Cucuku sayang, jangan makan permen lagi ya, nanti kalau kebanyakan bisa sakit gigimu...”

“Maaf ya nak, ibu nggak bisa mengantarmu berenang. InsyaaAlloh kita berenang lain waktu ya...”

“Cup cup cup...jangan menangis cucuku...bundamu berangkat kerja dulu. Nanti sore bunda pulang. Yuk kita main dulu sambil menunggu bunda pulang...”

“Bentar ya anakku sayang, ayah sedang pakai HP nya. Nanti kalau ayah sudah selesai, gantian kamu boleh pakai HP ayah untuk nonton Youtube...tapi nontonnya bareng ayah ya hehehe...”

“Murid-murid...kalian itu sudah besar dan hebat, sudah bisa makan dan minum sendiri. Jadi sudah tidak perlu lagi menyusu ke ibu ya. Oke?”

Mudah kan???

Tapi nanti cucu atau anak akan menangis, merajuk, merengek bahkan sampai gulung-gulung dan koprol di lantai, dsb....

Ya nggak apa-apa. Itu wajar, sebab itulah cara mereka (yang masih belum dewasa) merespon atau bereaksi terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan yang mereka inginkan. Berikan mereka kesempatan untuk menyalurkan respon atau reaksi mereka itu, selama respon atau reaksinya tidak menyakiti diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar. Bukankah dalam hidup ini sejatinya kita pun pernah bahkan mungkin sering mendapakan sesuatu yang ternyata tidak sesuai dengan yang kita inginkan atau tidak sesuai dengan ekspektasi kita? Lalu kita pun merasa kecewa, sedih, patah semangat atau marah. Tak apa, itu reaksi emosi yang wajar sebagai bentuk respon atas kejadian seperti itu.

Lagipula suatu hari nanti dalam perjalanan usianya, anak-anak akan tahu bahwa dulu dia dibohongi. Ingat, anak adalah peniru paling ulung, sehingga tidak menutup kemungkinan ia akan berbohong pula. Dan bila pembohongan yang dilakukan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya itu dilakukan berulang-ulang maka bisa jadi anak akan berpersepsi bahwa berbohong adalah hal yang biasa alias tak masalah untuk dilakukan.

Jadi biarlah sedari dini anak-anak kita belajar menghadapi kenyataan dan belajar tentang kejujuran agar mereka tidak tumbuh menjadi manusia yang mudah berdusta.

-Self Reminder-
Semoga bermanfaat

Selasa, 15 Januari 2019

JANGAN SAMPAI KITA SENDIRI LAH YANG MEMENDAM POTENSI ANAK



Salah satu cara paling mudah untuk belajar tentang parenting alias pengasuhan ialah dengan melihat kembali dan mempelajari bagaimana orang tua kita dulu mengasuh kita. Hasilnya? Ya adalah diri kita sekarang ini.

Dulu saat masih menjadi penyiar radio, saya pernah ditunjuk oleh produser saya untuk memandu sebuah talkshow spesial dalam rangka hari kartini. Talkshow itu mengundang 2 narasumber perempuan hebat. Yang satu istri seorang profesor sekaligus pengusaha sukses pemilik sebuah perguruan tinggi di Jogja, dan yang satunya lagi istri seorang tokoh muda Jogja (yang saat tulisan ini dibuat) menjabat sebagai anggota DPR RI.

Meski awalnya saya agak tegang, alhamdulillah talkshow itu bisa mengalir santai, ada canda tawa meski usia kami berbeda-beda, dan ada juga sesi yang mengharu biru. Saya sungguh bersyukur mendapat kesempatan memandu talkshow tersebut, sebab banyak pelajaran berharga yang bisa saya petik dari 2 narasumber saya itu. 

Namun yang membuat talkshow itu meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi saya ialah komentar teman-teman kantor selepas talkshow, terutama manajer saya. Beliau (yang sangat sangat jarang sekali memberikan apresiasi positiv) berkata pada saya

“Bagus zur...kamu bisa nge-bland sama narasumbernya....” ucapnya sambil tersenyum dan memberi jempol.

Waahhhhhh...sungguh sebuah penghargaan yang tak bisa saya lupakan. Mungkin terkesan lebay ya? Namun memang itulah yang saya rasakan. Saya jadi berpikir, mengapa ucapan manajer saya itu bisa begitu berkesan, bahkan membuat saya terharu setiap kali mengingatnya. Rupanya pujian itu membuat saya merasa dihargai hingga saya TERSADAR bahwa ternyata saya ini punya kemampuan yang lumayan juga.

Lha, kok BARU sadar???

Ya, saya pun bertanya-tanya juga mengapa di usia saya yang waktu itu sudah kepala dua, saya baru meyadari bahwa saya ini punya kemampuan. Dan setelah merenung plus melihat kembali ke belakang, ternyata ada dua penyebab utamanya.

Pertama, rupanya sejak dulu saya amat amat sangat sangat jaraaaaang sekaliiiiiii mendapat apresiasi positiv dari kedua orang tua saya atas apa-apa yang pernah saya capai dalam perjalanan hidup. Saat saya berhasil memenangkan lomba-lomba tujuh belasan, saat saya bisa mendapat nilai ulangan terbaik di kelas, saat saya berhasil mendapat rangking satu, saat saya diterima di SMP dan SMA favorit, pun saat saya diterima di perguruan tinggi negeri ternama di surabaya tanpa harus ikut SPMB, dan momen-momen keberhasilan lainnya, tak ada sepatah katapun yang terucap dari bapak dan ibu kepada saya sebagai bentuk penghargaan. Mungkin mereka mengungkapkannya dalam hati, atau dalam bentuk sujud syukur ketika sholat atau mengadakan syukuran dengan mengundang anak yatim, dsb. Namun tak ada satupun yang diungkapkan langsung kepada saya, baik dalam bentuk kata-kata, bahasa tubuh, ekspresi wajah, apalagi hadiah. Hingga akhirnya saya pun TERLAMBAT menyadari bahwa saya ini sebetulnya punya kemampuan.

Kedua, adalah karena gaya pengasuhan populer yang saya dapatkan sejak kecil seperti dicap, dibanding-bandingkan, diremehkan, diabaikan, dll yang membuat saya merasa tidak berharga, tidak diterima, tidak memiliki kelebihan apa-apa, dan tidak memiliki konsep diri yang positiv.

Nah ayah bunda yang baik,
Belajar dari pengalaman saya itu, tentu tak ada satupun dari kita yang ingin anaknya bernasib sama seperti saya, terlambat menyadari bahwa dirinya berharga dengan potensi-potensinya yang luar biasa. Sehingga ayah bunda, sebelum terlambat, yuk lihat kembali bagaimana kita mengasuh anak-anak kita selama ini. 

Mari mulai membiasakan diri untuk memberikan apresiasi positiv pada apa-apa yang bisa anak kita lakukan, pada niat baiknya, pada usaha kerasnya, pada kesungguhannya, pada ketekunannya, pada prosesnya meski mungkin hasilnya masih jauh dari sempurna di mata kita. 

Jangan hanya dibatin! Tapi ucapkan apresiasi itu! Dahulukan dengan memuji Allah sebagai bentuk syukur, baru berikan pujian padanya. Pujian yang proporsional (tidak berlebihan) dan tulus dari hati terdalam.

Lihat juga bagaimana kita bicara kepada anak kita selama ini. Apakah bicara kita terlalu banyak memerintah tanpa jeda, tanpa mendengarkan perasaannya, tanpa membaca bahasa tubuhnya, serba tergesa-gesa, lebih sering menyalahkan dari pada melihat sisi positiv yang dilakukannya, kerap meremehkan kemampuannya, mencap dengan cap-cap negativ, membandingkannya dengan yang lain padahal jelas setiap anak adalah unik, dsb... Bila iya, segera mohon ampun pada Allah dan minta maaf pada anak lalu perbaiki, agar anak merasa bahwa dirinya diterima oleh kedua orang tuanya apa adanya dan dihargai usahanya. Percayalah ayah bunda, bila mereka merasa diterima, dihargai, dan diapresiasi maka mereka akan berusaha untuk melakukan lebih dan lebih baik lagi bahkan tanpa diminta.

Last but not least, PEKA-lah. Perhatikan hal apa yang paling menonjol dari anak kita, meski mungkin tampak sederhana bahkan remeh. Bisa jadi di situlah potensi unggulnya. Asah terus agar ia menjadi spesialis atau ahlinya, dan arahkan pada kebaikan. Saya masih ingat betul, salah satu presenter favorit saya pernah bercerita bahwa dirinya sejak kecil sangat suka sekali berbicara dan melucu. Bahkan saking seringnya bicara dan melucu di kelas, orang tuanya sampai dipanggil ke sekolah sebab ia sering membuat kelas menjadi ramai. Ternyata disitulah talentanya, hingga ia sukses menjadi penyiar radio dan presenter televisi yang seakan tak pernah kehabisan kata untuk bicara dan bercanda.

Jadi ayah bunda....anak itu ibarat kertas putih. Kita lah yang punya kewajiban utama untuk melukisnya dengan lukisan yang baik, agar ia tumbuh menjadi pribadi yang siap bermanfaat bagi alam semesta dengan potensinya.

-Self reminder-

Meski belum berhasil jadi juara, saya selalu bilang pada iin "MasyaAlloh...gambarmu bagus sekali, sayang"

Rabu, 26 Desember 2018

AYAH BUNDA, APAKAH KITA MENGENALI ANAK KITA SENDIRI?



Sebuah pertanyaan super penting yang patut kita tanyakan pada diri kita masing-masing. Mumpung sedang berada di penghujung tahun dan hendak berganti tahun yang baru. Meski sebetulnya tak harus menunggu pergantian tahun.

Mengapa saya sebut super penting?

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menonton sebuah film bertajuk “SEARCHING”. Bagi Anda yang belum menontonnya, izinkanlah saya bercerita sedikit tentang film produksi Bazelevs Company, Screen Gems, dan Stage 6 Films ini tanpa membocorkan ending ceritanya yang mengejutkan agar Anda tetap penasaran dan akhirnya memutuskan untuk menontonnya juga hehehe....

Film bergenre thriller yang disutradarai oleh Aneesh Chaganty ini berkisah tentang seorang ayah bernama David Kim yang tengah mencari putrinya bernama Margot yang tiba-tiba menghilang.

Awalnya David hidup bahagia bersama istrinya (Pam) dan Margot. Mereka rajin sekali merekam moment-moment bahagia, terutama sejak Margot lahir dan melengkapi kehidupan mereka. Namun suasana mulai berubah ketika Pam dinyatakan mengidap kanker. Meski sempat berjuang bersama, akhirnya Pam meninggal dunia. Dan mulai lah sejak saat itu hanya ada David dan Margot.

Meski tinggal serumah, David dan Margot lebih sering berkomunikasi via smartphone, baik chat maupun video call. David merasa semua baik-baik saja. Hingga suatu hari David menelpon Margot via video call. Margot mengatakan bahwa ia sedang berada di rumah salah satu temannya untuk belajar biologi bersama. Margot berjanji akan pulang meski larut malam. Ternyata keeseokan paginya Margot tak ada di rumah. David mencoba menelpon Margot, namun selalu masuk ke kotak pesan. Ia terus mengirim pesan teks pada Margot, namun pesan-pesannya tak kunjung dibalas. Mulai lah David merasa khawatir.

Kekhawatiran David bertambah, manakala ia menemukan bahwa Margot yang harusnya saat itu sedang les piano, ternyata ia tak ada di tempat les dan bahkan gurunya memberi tahu David bahwa Margot sudah berhenti les sejak enam bulan yang lalu! David sungguh terkejut karena ia tidak tahu manahu akan hal ini, apalagi ia masih terus memberikan uang les piano pada Margot.

Karena tak kunjung mendapat kabar dari Margot, David memutuskan untuk menghubungi polisi. Polisi pun membantu menemukan Margot melalui detektiv Rosemary Vick.

Detektiv Vick meminta David untuk mulai mengumpulkan informasi tentang keberadaan Margot melalui teman-temannya. Ternyata David baru sadar bahwa ia sama sekali tidak tahu siapa teman-teman Margot! Syukurlah Margot meninggalkan laptopnya di dapur dan David pun mulai menelusuri teman-teman Margot melalui laptop Margot dan akun media sosialnya. Dimulai dari facebook Margot, tapi David tidak tahu apa password akun facebook Margot. Dan setelah berusaha keras, akhirnya David bisa masuk ke dalam facebook Margot dan mulai menghubungi teman-temannya.

Selama masa pencarian, dengan dibantu polisi, fakta demi fakta tentang Margot  tak henti-hentinya membuat David terkejut. Melalui detektiv Vick, David mendapat informasi bahwa pada malam di mana Margot berjanji akan pulang selepas kerja kelompok biologi, rupanya Margot justru berkendara ke luar kota. Tak hanya itu, polisi bahkan menemukan bahwa uang piano yang selama ini diberikan oleh David justru disimpan oleh Margot di bank lalu Margot mentransfer uang itu ke sebuah rekening yang ternyata juga milik Margot sendiri. Semacam alur yang biasa terjadi pada praktek pencucian uang dan biasa digunakan juga oleh para pemakai narkoba.

Hari demi hari berlalu. Kejadian hilangnya Margot pun menjadi viral di dunia maya dengan berbagai macam tagar. Beragam komentar dari netizen mengalir, mulai dari dukungan, ungkapan turut berduka hingga menyalahkan David yang tidak bisa melindungi Margot bahkan ada juga yang beranggapan bahwa David menculik putrinya sendiri.

Di tengah keputusasaan karena tak kunjung mendapat titik cerah dari keberadaan Margot, David berkata pada Detektiv Vick:

I don’t know her...I don’t know my daughter....

Bagi saya, pernyataan David ini adalah titik penting dari film ini sekaligus alarm bagi kita para orang tua.

Apakah kita sungguh mengenali anak-anak kita?

Meski mereka buah dari sperma dan sel telur kita, lahir dari rahim kita, sehari-hari bersama kita, tinggal di rumah yang sama dengan kita, dll...apakah kita sungguh mengenali mereka? Tentu hanya kita sendiri yang bisa menjawabnya....dengan jujur.

Suatu hari seorang ibu dibuat terkejut sebab pagi-pagi ia mendapati putranya tergeletak di teras rumah dan ketika ibu itu mencoba membangunkannya, putranya malah muntah-muntah. Rupanya putranya mabuk setelah semalam dugem. Dan ternyata ibu itu tidak pernah tahu kalau putranya kerap kali dugem apalagi sampai mabuk.

Di lain kesempatan, seorang ibu lain bercerita dengan penuh kebanggan bahwa anak laki-lakinya ketika TK dulu sudah hafal banyak surat pendek bahkan seringkali jadi imam ketika sholat bersama teman-teman TK nya. Dan dengan penuh keyakinan pula si ibu berkata pada saudara-saudaranya bahwa sudah tertanam ketakwaan pada diri anak laki-lakinya itu sejak kecil. Sementara si ibu tidak pernah tahu bahwa kini ketika sudah dewasa, anak laki-lakinya itu justru malas sekali membaca Al Quran, sering menunda-nunda sholat, bahkan pernah mengkhianati istrinya.

Beberapa waktu yang lalu pun seorang artis senior tanah air dibuat terkejut bukan kepalang ketika polisi menangkap anak dan saudara-saudaranya sedang menikmati narkoba bersama-sama. Sementara selama ini yang ia tahu adalah anaknya baik-baik saja.

Astaghfirullahaladzim......

Ayah bunda yang baik, kita ini memang bukan cctv yang bisa memantau anak kita 24 jam, dan sungguh memang yang paling mengenali anak kita hanyalah dirinya sendiri dan Tuhan.

Akan tetapi ayah bunda, bagaimana pun juga kita ini adalah orang tua dari anak-anak kita. Kita lah yang akan dihisab pertama kali alias paling dimintai pertanggungjawaban tentang anak kita oleh Allah SWT kelak. Sehingga kita memang patut bertanya pada diri kita masing-masing, apakah saya sungguh kenal pada anak saya sendiri?

Apalagi di era teknologi yang kian pesat seperti sekarang, smartphone dan internet kerap kali menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Gadget beserta beragam aplikasinya macam games, media sosial, portal berita, dll di dalamnya membuat kita tahu bahkan selalu update dengan kejadian-kejadian yang jauh dari kita, namun justru abai pada hal-hal yang ada di dekat kita. Kita menjadi akrab dengan orang-orang yang berada jauh dari kita, tapi kita jarang sekali berkomunikasi bahkan tidak begitu kenal pada orang yang tinggal serumah dengan kita. Bisa jadi kita pun seperti David, tidak tahu password media sosial anak kita, tidak kenal siapa teman-teman dekatnya, tidak tahu apa aktivitas mereka, dll. Padahal kita serumah dengan mereka!

Jadi ayah bunda, di momentum penghujung tahun ini, ketimbang kita merayakannya dengan pesta hura-hura dan hingar bingar panggung musik serta terompet dan kembang api, alangkah jauuuuuuh lebih baik bila kita gunakan untuk bermuhasabah dan evaluasi diri, baik sebagai suami, sebagai istri, sebagai pribadi, dll termasuk sebagai orang tua dari anak-anak kita. Ajukan pertanyaan pada diri sendiri dan jawab dengan jujur apa adanya. Sujud dengan sujud terdalam untuk memohon ampunanNya dan Minta pada Nya agar Dia membimbing kita untuk memperbaiki semuanya.

Semoga bermanfaat.

Sabtu, 01 Desember 2018

AYAH BUNDA BOLEH MARAH KOK, ASALKAN...



Beberapa waktu lalu tetangga dekat rumah memarahi anaknya yang masih balita. Suara kerasnya terdengar sampai rumah saya dan nada bicaranya yang membentak-bentak membuat si anak tak berhenti menangis. Saya yang saat itu sedang membersihkan halaman depan hanya bisa mengelus dada sambil berkata dalam hati “Tega juga ibunya marah-marah begitu. Padahal anaknya sangat lucu dan menggemaskan sekali...”.

Seketika itu juga Allah langsung menyentil saya dan seolah berkata “Memangnya kamu nggak pernah memarahi dan membentak anakmu???”

O iya ya....langsung tepok jidat... dan istighfar banyak-banyak...

Ayah bunda sekalian, tentang marah ini, ada pertanyaan untuk Anda (dan tentu juga untuk saya)...

Misalnya saja, Pak Presiden memiliki anak yang masih kecil lalu menitipkannya pada Anda, berani tidak Anda memarahi dan membentaknya, apalagi sampai mencubit atau memukulnya?

Saya yakin ayah bunda akan kompak menjawab “Ya enggak laaaaaaaah...yang benar saja.....”. Saya pun demikian.

Kalau saya tanya lagi, kenapa?

Besar kemungkinan Anda juga akan kompak menjawab “Ya karena itu kan anak orang lain, bukan anak saya, anaknya presiden lagi....mana berani saya menyakitinya...”

Nah, di sinilah poin menariknya.

Kita (terutama yang punya “bakat” marah) bisa jadi akan dengan mudah mengomeli, mengata-ngatai anak dengan kasar, membentak, mencubit, menjewer, bahkan memukul anak kita sendiri. Apalagi ketika kita sedang lelah lahir dan batin, sedang stres, sedang jenuh bin penat, sedang ada masalah dengan pasangan, sedang ada masalah di kantor, dll. Kesalahan keciiiiil saja yang dilakukan oleh anak kita bisa membuat kita “meledak”.

Tapi bila yang melakukan kesalahan itu adalah anak presiden, hampir pasti kita tidak akan berani memarahinya. Apalagi bila Pak Presidennya ada di situ juga dan melihat. Barangkali kita akan berkata “Ah...nggak apa-apa kooooook...namanya juga anak-anak ya kaaaaan...” sambil dipaksa-paksakan tersenyum dan sekuaaaaaaat tenaga meredam emosi.

Padahal ayah bunda...

Sadarkah kita...

Bahwa yang kita lahirkan, yang setiap hari ada di rumah, di dekat kita, dan kita sebut sebagai anak kita itu SESUNGGUHNYA juga BUKAN milik kita.

Anak-anak itu adalah MILIK ALLAH, Presiden dari segala presiden, dan Raja dari segala raja. Kita ini hanya dititipi saja oleh Allah untuk mengasuh dan merawat mereka sampai batas waktu tertentu.

Lalu kenapa kita berani memarahi, membentak, menjewer, mencubit, apalagi sampai memukulnya? Padahal suatu hari nanti Allah akan mengambil kembali titipanNya dan meminta laporan pertanggungjawaban kita....

Astaghfirullahaladzim.....

Kalau boleh jujur dari lubuk hati yang paling dalam, saya yakin 100% bahwa tak ada satu orang tua waras pun di dunia ini yang ingin memarahi anaknya dalam bentuk melukai perasaannya apalagi sampai menyakiti fisiknya.

Tapi mengapa masih saja sulit untuk tidak memarahi anak?

Ada beberapa kemungkinan penyebabnya, ayah bunda:

Pertama, karena dulu kita dibesarkan juga dengan dimarah-marahi, sering dibentak-bentak, dikata-katai kasar, dicubit, dijewer, bahkan dipukul pun pernah.

Ayah bunda mungkin sudah sering mendengar bahwa anak itu ibarat giant sponge (mudah sekali menyerap semua yang dilihat, didengar, dan dialaminya) sekaligus peniru paling ulung. Bukan kah kita semua ini adalah anak dari orang tua kita. Jadi sudah pasti gaya pengasuhan orang tua kita dulu akan berpengaruh pada bagaimana kita mengasuh anak-anak kita sekarang. Sampai-sampai ada pepatah yang mengatakan bahwa buah yang jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Jadi walau dalam hati sesungguhnya kita tak ingin, tapi akhirnya kita pun marah-marah juga ke anak.

Kedua, karena kita sedang sangat capek, baik capek secara fisik, apalagi bila batin ikut lelah dan iman sedang turun, ditambah sedang ada masalah dengan pasangan, dengan orang tua, mertua, atasan di kantor, dll. Kalau kata orang, sedang episode senggol bacok hehehe... Dan sasaran yang paaaaling empuk untuk melampiaskan semua sampah emosi itu adalah anak, apalagi yang masih kecil dan belum berdaya untuk membela dirinya yang sesungguhnya tidak salah apa-apa....

Istighfar lagi.... 

Jadi, kita harus bagaimana???

Ayah bunda yang baik, kita harus sadari terlebih dahulu bahwa sesungguhnya Allah itu menganugerahi kita emosi LENGKAP, ada senang, ada sedih, ada takut, ada jijik, termasuk juga marah.

Jadi boleh saja kita merasa marah, termasuk bila anak-anak kita melakukan kesalahan, apalagi bila mereka melanggar aturan yang sudah disepakati bersama. Tapiiiiiiiiii.....ada beberapa hal yang harus kita pahami dan kita lakukan:

Pertama, kita marah karena perbuatan salah yang dilakukan anak, bukan karena personal anak kita. Jadi sejajarkan mata kita dengan matanya lalu katakan padanya “Ayah/bunda marah karena kamu melakukan ini, tapi ayah/bunda tetap sayang padamu”. Dengan cara ini pesan yang ingin kita sampaikan akan lebih mudah masuk dan dimengerti oleh anak.

Sebaliknya, jika kita mengomel tanpa henti, membentak, melabelinya nakal, apalagi mencubit atau memukulnya, maka anak tidak akan mengerti bahwa ia baru saja melakukan kesalahan. Yang ia pahami justru dua hal, pertama bahwa mengomel, membentak, mencubit, dan memukul itu boleh dilakukan bila kita marah, dan kemungkinan besar ia akan menirunya dan melakukannya juga. Kedua, ia justru merasa bahwa ia tidak disayang oleh orang tuanya. Dan bila hal ini terjadi terus menerus, ia akan merasa tidak berharga, tidak diinginkan, tidak berarti, dan akan tumbuh menjadi pribadi yang tak memiliki nilai diri. Ini sungguh berbahaya bagi anak dan masa depannya.

Kedua, wajar bila emosi kita mudah sekali tersulut ketika sedang lelah. Sehingga sejatinya setiap kita, baik ayah maupun bunda, sama-sama butuh istirahat dan refreshing, untuk memulihkan kembali jiwa dan raga, serta men-charge energi agar siap mengahadapi hari, termasuk juga menghadapi anak-anak.

Tentu istirahat dan refresing-nya harus disesuaikan pula dengan kondisi kita saat ini yang sudah tak lajang lagi dan sudah punya keluarga yang Allah amanahi. Sehingga ayah bunda bisa mengomunikasikan ini dengan pasangan, agar ada waktu untuk me-time barang sebentar.

Kalaupun ternyata pasangan kita tak bisa diajak bekerja sama, maka ayah bunda harus mengusahakan sendiri untuk ada kesempatan istirahat/refreshing/me-time. Tak harus yang mahal dan besar, bisa dengan cara-cara yang sederhana, seperti mandi supaya segar kembali, minum secangkir teh hangat, dll.

Ketiga, bila ayah bunda sedang merasa sangat sangat sangat emosi, bahkan rasanya sudah memuncak sampai ke ubun-ubun, lalu kita mendapati anak kita melakukan kesalahan, maka kita HARUS SEGERA keluar dari situasi itu. Bukan berarti keluar dari rumah, tapi keluar dari situasi.

Kata Baginda Rosul SAW “Jika kamu marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika kamu masih marah, padahal sudah dalam keadaan duduk, maka berbaringlah. Jika kamu masih marah padahal sudah dalam keadaan berbaring, maka segera bangkit dan ambil air wudhu untuk bersuci, lalu lakukan sholat sunnah dua rokaat.”

Inilah yang saya maksud dengan keluar dari situasi itu. Harus ada movement, harus ada pergerakan yang bisa memecahkan ketegangan. Misalnya pergi ke dapur untuk minum, pergi ke halaman untuk bernafas, dll. Sebab bila tidak, maka bara emosi akan semakin besar dan mendorong kita melakukan hal-hal yang bisa menyakiti anak.

Jika sudah terlanjur???

Tak apa ayah bunda. Kita ini manusia. Bukan malaikat. Dan Allah sudah tentu tahu itu. Jadi segera MOHON AMPUN. Mohon ampun banyak-banyak dan bertaubat sungguh-sungguh. Lalu lakukan hal yang tak kalah penting, yakni MINTA MAAF pada anak dan sampaikan padanya bahwa kita tetap menyayanginya dan ia pun boleh mengingatkan kita bila kita marah.

Memang tak mudah. Namun bukan berarti tak mungkin untuk dilakukan. Jadi mari kembali pada Allah Sang Penggenggam diri dan hati agar dibimbing selalu dalam mengasuh dan membesarkan anak-anak. Sebab tak ada daya dan kekuatan selain dari Allah SWT.

Sebagaimana pesan nabi “Siapakah yang kalian anggap paling perkasa? Kami menjawab : orang-orang yang tak bisa dikalahkan oleh siapapun. Nabi bersabda : Bukan itu, melainkan orang-orang yang dapat mengendalikan dirinya pada saat marah.” (HR. Muslim)

Tulisan ini adalah pengingat bagi saya pribadi.
Dan semoga juga bermanfaat untuk Anda.